RABU , 14 NOVEMBER 2018

Makna Merdeka

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 16 Agustus 2017 12:46
Makna Merdeka

Ema Husaim Sofyan (Aktivis Perempuan)

Kemerdekaan adalah cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bangsa dimanapun berada. Termasuk Bangsa Indonesia ingin lepas dari cengkaraman penjajahan yang di nyatakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada UUD 1945 pada bagian pembukaan alinea IV dinyatakan bahwa tujuan kemerdekaan dan dibentuknya Negara Indonesia adalah melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sangat mulia tujuan dan cita–cita kemerdekaan yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Dan apakah saat ini rumusan tersebut telah tercapai atau belum?

Merdeka, kata yang sering kita dengarkan pada bulan Agustus atau pada perayaan kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945. Bahkan pada perbincangan keseharian sering kita ucapkan. Arti kata merdeka menurut kamus adalah bebas dari penjajahan, tidak terikat, berdiri sendiri dll. Tapi hal tersebut sifatnya formal berupa pengakuan secara de facto dan de jure. Indonesia sudah merdeka secara formal itu semua kita sepakat.

Namun secara substansi masih perlu kita perdebatkan. Masih banyak rakyat Indonesia yang masih hidup dibawah garis kemiskinan, masih banyak Rakyat Indonesia yang mendapatkan perlakuan diskriminatif, banyak warga yang tidak “bebas beribadah” karena tekanan kelompok lain. Para pekerja masih ada yang diupah murah. Dan masih banyak kaum perempuan yang didiskrimanasi.

Bagaimana kemudian Kontrak Karya dengan perusahaan tambang Amerika di Papua yang ternyata tidak memberi keuntungan bagi bangsa Indonesia, terutama bagi penduduk asli Papua tempat penambangan belum sepenuhnya menikmati hasil bumi di negerinya sendiri. Demikian juga halnya dengan nasib Tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri yang rela meninggalkan tanah airnya dan keluarganya, demi mencari sumber penghasilan yang tidak lagi didapatkan di daerah asalnya.

Mereka para TKI utamanya yang wanita acapkali mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari majikan tempat mereka bekerja. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita masih mewarisi hukum peninggalan penjajah Belanda tepatnya mengadopsi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Tentu saja hal tersebut tidaklah salah dan sah-sah saja. Cuma persoalannya, adalah selama 72 tahun kita merdeka, bangsa kita (baca: pemerintah dan DPR) belum mampu membuat atau merevisi KUHP yang sekarang masih berlaku.

Semoga dengan usia kemerdekaan yang memasuki usia 72 tahun, kita tidak menyaksikan lagi tirani yang dilakukan mayoritas terhadap kelompok minoritas, kita semakin menghargai keberagaman dan perbedaan. Hingga kemerdekaan bisa tercapai, manakala seluruh komponen rakyat bisa tampil bersama-sama menikmati hasil pembangunan tanpa ada diskriminasi.

Saatnyalah untuk mengintrospeksi diri. Perjuangan masih belum selesai. Kita masih harus melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Sebagaimana dahulu mereka meneriakkan ’merdeka atau mati’ maka saat ini pun kita meneriakkan yel-yel yang sama: ’merdeka atau mati’. Maknanya, kita akan berjuang sekuat tenaga untuk menjadikan bangsa ini benar-benar merdeka, merdeka dengan sebenar-benarnya. (*)


Tag
  • ema vox
  •  
  • vox ema
  •  
    div>