MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Malam Pergantian Tahun, Parepare Disulap Jadi Kota Religius

Reporter:

Editor:

Niar

Sabtu , 31 Desember 2016 20:36
Malam Pergantian Tahun, Parepare Disulap Jadi Kota Religius

int

PAREPARE, RAKYAT SULSEL.COM- Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini malam pergantian tahun di Kota Parepare disulap menjadi kota religius.

Dua lokasi yang dulunya ramai dengan pasangan muda-mudi untuk melepas tahun, kini tergantikan dengan alunan dzikir yang bergema. Dua lokasi tersebut, masing-masing di Taman Mattirotasi dan Lapangan Andi Makkasau.
Pakaian muslim dan muslimah berwarna putih yang dikenakan bak suasana perayaan hari besar Islam. Seketika, Parepare berubah layaknya kota religi.
Kegiatan ini berawal dari ide Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Parepare, Hj Erna Rasyid Taufan. Jika tahun sebelumnya, istri Walikota Parepare ini menghabiskan malam pergantian tahun di Mekkah dengan berumrah, namun tahun ini, ia terpikirkan menggelar kegiatan tersebut dengan tujuan menghindari segala perbuatan maksiat yang kerap terjadi di malam tahun baru.
“Malam tahun baru ini kita lakukan kegiatan bernuansa Islami. Kita lakukan mulai sore hari sampai pelepasan tahun. Kegiatan bernuansa Islami ini kita gelar agar sedapat mungkin mencegah maksiat di malam tahun baru,” ujar Srikandi, Pembina Majelis Anak Sholeh ini saat bersama ratusan pengurus Majelis Taklim di Taman Mattirotasi, Sabtu, (3/12).
Menurut Erna, meskipun suara petasan dan musik dari rumah-rumah warga masih terdengar, namun tidak menjadi penghalang untuk mendakwahkan Islam . “Kita tidak melarang mereka, tidak usah ditegur. Lakum dinukum walyadin. Lama kelamaan jika Allah memberikan Hidayah-Nya maka akan membuka mata hati mereka. Ini cara halus mengajak mereka menjauhkan diri dari perbuatan maksiat,” terang Pembina Forum Kajian Cinta Al-Quran yang kerap berdakwah hingga di luar negeri ini.
Pelaksanaan kegiatan bernuansa Islami tersebut digelar dengan berbagai kegiatan, seperti berbagai perlombaan dengan tema Syiar, Syair dan Wal-Ashri, shalat magrib berjamaah, dzikir, dan mendengarkan ceramah yang disampaikan Ustadz kondang, Muhammad Nur Maulana.
“Di Taman Mattirotasi ini yang memimpin shalat berjamaah perempuan karena tidak ada laki-laki dan dzikir juga dipimpin perempuan karena di Taman ini semuanya pengurus Majelis Taklim yang hadir,” terangnya.
Erna Taufan berharap, kegiatan tersebut akan diagendakan menjadi kalender tahunan dan akan menjalar hingga kecamatan dan kelurahan. “Kita berharap tahun berikutnya, ini dilakukan di kecamatan dan kelurahan sehingga tempat-tempat yang berpotensi untuk melakukan perbuatan maksiat dapat dihindari. Jadi kita melarang dengan cara halus dan bijak, selain itu kegiatan demikian juga tidak mengeluarkan dan yang banyak,” beber Erna Taufan.
Saat memandu acara di Taman Mattirotasi, Erna nampaknya mampu mengadaptasikan diri dengan masyarakat. Setiap perwakilan kelompok Majelis Taklim diberikan pertanyaan seputar pengetahuan Islam lalu diberi bingkisan hadiah.
“Kegiatannya kita kemas dengan kegiatan yang menarik sehingga tidak monoton,” tandasnya. (Nia)

Tag
div>