RABU , 22 AGUSTUS 2018

Mantan Kadis Coba Peruntungan di Parlemen

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Jumat , 20 Juli 2018 10:52
Mantan Kadis Coba Peruntungan di Parlemen

Dok. RakyatSulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sejumlah nama mantan kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) mencoba peruntungan di parlemen dengan maju sebagai calon legislatif pada Pileg 2019 mendatang.

Di Kota Makassar ada bebeberapa nama yang muncul, misalnya mantan Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Makassar Arismunandar, mantan Kadis Pekerjaan Umum (PU) Makassar, Ridwan Muhadir dan mantan Kadis Sosial, Ibrahim Saleh.

Sementara di Toraja, ada empat mantan kepala dinas yang nyaleg di Partai Berkarya. Mereka yakni, mantan Kadis Perindustrian dan Perdagangan Tana Toraja, Lexianus Tandi Lintin, mantan Kadis Sosial, Simson Sosang, mantan Kadis Koperasi Marthen Rambu, dan mantan Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Anak Rosalina Damme.

Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Abdillah Natsir mengakui ada sejumlah nama mantan kadis masuk daftar caleg di partai berlambang pohon beringin.

Menurutnya, dari nama yang beredar di daftar kabupaten/kota, kata dia, salah satu mantan kadis yang ikut nyaleg ialah mantan Kadis Koperasi Sulsel, Syamsul Alam. “Kalau yang lain belum saya tahu persis nama lengkap dan jabatannya saat masih menjabat di pemerintahan. “Yang lain saya lupa,” jelasnya.

Ia membeberkan jika Syamsul alam akan bertarung untuk DPRD provinsi. “Pak Syamsul sudah masuk di DCS dan akan bertarung di DPRD Provinsi Sulsel,” ungkapnya.

Ketua Bappilu Golkar Sulsel, Kadir Halid secara singkat mengatakan, figur yang di dorong maju caleg lewat Partai Golkar telah mengikuti bebagai proses dan seleksi. “Proses yakni orentasi, pembekalan serta kontribusi pengabdian di partai,” singkatnya.

Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Andi Luhur Prianto menuturkan, fenomena birokrat yang memilih peruntungan di panggung politik sudah kerap kali terjadi. Bahkan, sudah ada beberapa mantan birokrat yang berhasil menduduki kursi parlemen.

“Migrasi birokrat senior ini kepanggung politik, sebenarnya bukan fenomena baru. Pengalaman sebelumnya, mereka juga ada yang terpilih tapi ada juga yang gagal,” kata Luhur.

Peluang menang sendiri, kata Luhur, tergantung dari kerja-kerja yang dilakukan. Terutama pemahaman seputar dunia politik yang tujuannya menduduki kursi kekuasaan. Apalagi investasi sosial yang dimiliki para birokrat juga harus memadai untuk mendapatkan dukungan yang sebanyak-banyaknya.

“Tergantung kerja-kerja elektoral yang di lakukan. ASN yang punya riwayat terlibat politik praktis, biasanya lebih paham situasi kontestasi. Tergantung juga investasi sosial yang di bangun. Umumnya ASN senior punya pengalaman memimpin infrastruktur birokrasi dalam kerja-kerja elektoral,” jelasnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Bosowa Arief Wicaksono menuturkan, peluang birokrat untuk dapat terpilih sama dengan peluang para kader parpol yang sudah ada sejak lama. Tinggal bagaimana memainkan perannya dengan baik sesuai dengan investasi sosial yang ia miliki selama menjabat.

“Peluang ASN sama saja dengan politisi dalam hal berpolitik atau lebih khusus, maju sebagai calon anggota legislatif. Apalagi jika yang bersangkutan pernah menjadi pejabat, artinya punya pengaruh setidaknya terhadap anak buahnya,” kata Arief.

Dengan catatan, lanjut Arief, para birokrat tersebut sudah tidak lagi menjabat atau mundur dari jabatannya. Karena menjadi politisi itu tidak diperkenankan menduduki jabatan birokrasi di pemerintahan.

“Asalkan yang bersangkutan telah mundur atau pensiun dari ASN sebelum masuk kedalam partai politik yang mencalonkannya,” tandasnya.

Wakil Ketua Partai Berkarya Tana Toraja, Pane Pala’langan mengatakan, jumlah Bacaleg Partai Berkarya untuk Tana Toraja sebanyak 30 bacaleg dan keterwakilan perempuan memenuhi syarat yakni, lebih dari 30 persen, yakni 13 bacaleg perempuan dan laki-laki 17 orang.

“Bacaleg Berkarya Tana Toraja 30 orang untuk 6 daerah pemilihan. Dengan rincian 17 laki-laki dan 13 perempuan. Dan bahkan dari 30 bacaleg tersebut empat diantaranya adalah pensiunan kepala dinas di Tana Toraja,” jelasnya. (*)


div>