SELASA , 25 SEPTEMBER 2018

Masih Perawan tapi Sering Keputihan? Ini Penyebabnya

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Sabtu , 29 April 2017 04:29
Masih Perawan tapi Sering Keputihan? Ini Penyebabnya

int

Keluarnya cairan dari vagina alias keputihan seringkali dikira wajar. Namun, para perempuan sebaiknya mengenal lebih rinci mengenai mana keputihan yang bersifat fisiologis yang berarti normal, dan mana keputihan yang menjadi gejala sebuah penyakit lain, dalam hal ini disebut keputihan patologis.

 

Spesialis kulit dan kelamin RSUD dr Soetomo dr Dwi Murtiastutik SpKK(K) mengatakan, biasanya para perempuan yang datang memeriksakan ke dokter karena keluhan keputihan memang masuk dalam keputihan patologis. ’’Keputihan jadi gejala dari infeksi atau penyakit lain,’’ ucapnya.

Dwi menjelaskan, ada dua kelompok keputihan patologis yang banyak di derita oleh perempuan. Pertama, adalah keputihan yang biasa diderita oleh perempuan yang belum menikah (belum aktif secara seksual). Pertama, namanya adalah bacterial vaginosis.

Penyebabnya, adalah karena ketidakseimbangan bakteri dalam vagina. Ada bakteri bernama lactobasilus yang bertugas menjaga keasaman (pH) vagina. Dalam kasus bacterial vaginosis, jumlah lactobasilus dalam vagina lebih sedikit daripada bakteri patogen. ’’Penyebabnya, bisa karena daya tahan tubun perempuan sedang lemah. Sehingga bakteri jahatnya mendominasi,’’ papar Dwi.

Daya tahan tubuh yang lemah, bisa karena stress, pola hidup yang kurang bagus, dan semacamnya. Selain bacterial vaginosis, ada juga Kandidiasis vulvovaginalis yang biasa diderita oleh perempuan yang belum menikah.

’’Kalau Kandidiasis ini karena jamur. Penyebabnya hampir sama dengan bacterial vaginosis,’’ ucapnya. Yaitu saat daya tahan tubuh menurun, jamur yang akan mendominasi wilayah vagina. Bedanya dengan bacterial vaginosis, adalah gejalanya.

Untuk wujud keputihan bacterial vaginosis, bisa kuning kehijauan. Namun untuk kandidiasis, wujudnya bisa putih kental seperti bulir susu putih basah dan baunya juga lebih amis.

Kedua jenis keputihan ini, bila seorang mengidapnya dalam tingkatan ringan, bisa sembuh sendiri. Seiring dengan daya tahan tubuhnya yang kembali normal, bakteri dan jamur tersebut bisa hilang dengan sendirinya. Namun bila pengidapnya sudah dalam tingkatan berat, diperlukan pengobatan ke dokter untuk penyembuhan. (ina/tia)


Tag
div>