SELASA , 13 NOVEMBER 2018

Masya Allah, Turbulensi Itu

Reporter:

Editor:

Ridwan Lallo

Senin , 12 Maret 2018 23:17
Masya Allah, Turbulensi Itu

AM Iqbal Parewangi

BEDA suasana, beda pula kedalaman rasa “laa haula wa laa kuwwata illaa billah” yang terlafadz.

Saya alami perbedaan itu dalam penerbangan Makassar-Jakarta tadi. Dibanding sebelum takeoff, yang berjalan mulus, kedalaman rasa lafadz itu seperti tak terukur saat turbulensi.

Sebenarnya turbulensi itu cuma beberapa menit, amplitudo guncangannya pun tidaklah ekstrim. Penumpang di kiri-kanan saya juga tidak sampai memekik keras, walau jemari mereka tampak mencengkeram kuat sandaran tangan. Saya malah masih bisa fokus ke layar laptop, sambil menjaga mediator global saya itu tidak terpelanting.

Yang saya nikmati, turbulensi itu mendaratkan saya pada sepenggal kesadaran berhikmah tentang “laa haula wa laa kuwwata illaa billah”.

Bukan karena itu potensial menenteramkan semesta, alih-alih cuma turbulensi. Karena nyatanya turbulensi tidak serta-merta berhenti. Akan tetapi, masya Allah, karena energi lafadz Qur’ani itu mampu menyelaraskan frekuensi gelombang jiwa pada frekuensi amuk semesta. Bahasa fisikanya, resonansi.

Mengapa turbulensi disegani insan dirgantara? Antara lain karena mengakibatkan guncangan, atau setidaknya melencengkan penerbangan dari garis rute mulusnya, atau yang paling telak adalah menghempaskan ketenteraman jiwa-jiwa insan yang tengah melayang terbang.

Lantas, jika kondisi “resonansi dalam turbulensi” sudah tercipta, jika frekuensi jiwa sudah beresonansi dengan frekuensi turbulensi itu, jika tarian jiwa sudah selaras dengan amuk semesta sekalipun….. masihkah bermakna menyebut goncangan, pelencengan rute, ataupun keterhempasan?

Karena yang ada, di situ, turbulensi malah menjelma harmoni. Harmoni sejati, di tengah guncangan. Bukan harmoni semu, damai dalam diam.

Pada sepenggal kesadaran berhikmah itulah, rasanya, turbulensi tadi itu mendaratkan saya : lafadz “laa haula wa laa kuwwata illaa billah” meneteramkan jiwa, bahkan di tengah amuk semesta sekalipun.

Masya Allah. Terima kasih yaa Nuru ‘ala Nur, duhai Cahaya Maha Cahaya, telah Engkau anugerahi hambaMu satu lagi pendaratan bermakna. Pendaratan di atas landasan pacu bernama turbulensi!

Salam takzim
AM Iqbal Parewangi
Anggota DPD RI – MPR RI


div>