SELASA , 19 JUNI 2018

Masyarakat Optimistis Ekonomi Sulsel Membaik

Reporter:

Rusman

Editor:

asharabdullah

Kamis , 08 Maret 2018 10:00
Masyarakat Optimistis Ekonomi Sulsel Membaik

Bank Indonesia. (int)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Mengacu pada pertumbuhan ekonomi Sulsel yang terus membaik dengan melampaui target nasional membuat masyarakat optimistis perekonomian akan membaik hingga enam bulan ke depan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, saat siaran pers terkait stabilitas ekonomi Sulsel di kantornya, mengatakan, optimisme masyarakat tersebut dipicu survei konsumen pada Februari 2018 yang menunjukkan kondisi ekonomi Sulsel tetap kuat.

Lalu indeks keyakinan konsumen pada bulan yang sama masih berada pada level 122,7 atau lebih rendaj dari Januari 2018 pada kisaran 125,9.

Keyakinan tersebut juga ditandai dengan peningkatan ekspekatasi penghasilan untuk enam bulan ke depan, sehingga indeks ekspektasi konsumen pada angka 132,6.

Bambang mengatakan, optimisme masyarakat cukup beralasan setelah memgamati sejumlah aspek pendukung mengalami ekspektasi membaik termasuk masih luasnya ketersediaan lapangan kerja.

Kemudian kondisi inflasi yang terus menurun sebagai bukti perekonomian Sulsel sangat diyakini akan berdampak positif. Dimana pada Februari 2018 angka inflasi pada 0,23 persen dan berpotensi menurun pada Maret tahun ini.

Sejumlah acuan yang dapat menyebabkan inflasi menurun, yaitu Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) telah bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Pangan melakukan operasi pasar untuk menjaga kontinuitas pasokan.

Adanya program Nong Ki untuk mengendalikan inflasi, komoditas utama penyumbang inflasi terus dipantau secara intensif.

Bambang menambahkan, BI telah memprediksi inflasi pada Maret ini akan turun dibandingkan Februari 2018 karena tekanan inflasi kelompok volatile foods akan turun akibat panen raya.

Bambang menjelaskan, inflasi Februari 2018 berada pada posisi 0,23 persen mengalami penurunan dibandingkan Januari 2018 pada posisi 0,81 persen. Meskipun lebih tinggi dari rasio nasional yakni 0,17 persen.

BI menilai inflasi Sulsel pada Februari 2018 karena didorong kenaikan harga pada kelompok bahan makanan yakni 0,76 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,37 persen.

Komoditas penyumbang terbesar inflasi di Sulsel adalah beras hampir pada semua kabupaten/kota, ikan cakalang, ikan bandeng, cabai merah, dan rokok putih.

Mengenai beras yang menjadi penyumbang inflasi padahal Sulsel terkenal surplus, dia menyatakan, disebabkan sejumlah pedagang dari luar Sulsel masuk membeli dengan harga yang tinggi. Makanya harga beras pada tingkat pengecer di daerah ini terpengaruh ulah pedagang dari luar tersebut.

Namun, ada sejumlah kebutuhan mengalami deflasi seperti transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yakni -0,22 persen dan sandang -0,07 persen.

Beberapa komodotas lain sebagai penyumbang deflasi adalah angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, pisang dan sawi hijau.

Jadi kata Bambang, beberapa indikator yang dijadikan acuan terhadap perekonomian Sulsel tersebut memberikan rasa optimisme bagi masyarakat. (*)


div>