SENIN , 22 OKTOBER 2018

Masyarakat Tertipu Dengan Iming-iming Keberhasilan Pembangunan

Reporter:

Iskanto

Editor:

asharabdullah

Kamis , 19 April 2018 16:26
Masyarakat Tertipu Dengan Iming-iming Keberhasilan Pembangunan

Suasana kegiatan dialog publik Ampera Sulsel dengan tema 'Menggagas Pilgub Sulsel Yang Berkualitas Tanpa Over Pencitraan dan Kebohongan Publik' di Warkop Bundu, Jalan Hertasning, Kamis (13/4). Foto: Ajus/RakyatSulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sistem demokrasi yang sehat tergantung dari masyarakatnya, itu juga dijelaskan dalam Undang-undang bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat. Hal itu dikatakan oleh, Akademisi Andi Hartawan dalam kegiatan dialog publik Ampera Sulsel dengan tema ‘Menggagas Pilgub Sulsel Yang Berkualitas Tanpa Over Pencitraan dan Kebohongan Publik’.

Ia menjelaskan, Sulsel yang terkenal dengan ada istiadatnya terutama persoalan harga diri harusnya menjadi nilai yang tetap dijunjung tinggi. Memilih pemimpin harus berdasarkan pengalaman serta kulaitasnya, karena masa depan masyarakat ada ditangan para pemimpin yang amanah nantinya.

“Secara substansial, ketika kita berbicara kualitas sudah barang tentu over pencitraan tidak akan ada lagi. Tapi pencitraan dengan tanpa bukti adalah pembohongan publik, hal ini kemudian marak terjadi di Pilgub Sulsel. Hal itu seharusnya bukan menjadi bahan jualan yang harus dipertontonkan ke publik,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, suatu daerah dengan daerah lainnya di Sulsel tentu memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya. Masalah produktifitas dan perkembangan daerah menjadi jualan yang sama sekali belum tentu benar adanya. Apalagi kalau sampai masyarakat harus tertipu daya oleh hal-hal seperti itu.

“Contohnya suatu daerah yang menjadi penghasil apel, tapi tidak semua daerah bisa menjadi penghasil apel pula itu hal yang wajar. Yang tidak wajar apabila apa yang diangkat ke media tidak sesuai dengan realitas yang ada,” paparnya.

Lanjutnya, paling mencolok adalah masalah pembangunan, kandidat mempromosikan pengembangan daerah yang ia pimpin sebelumnya sebagai bukti kemampuannya memimpin. Namun, apa yang ditunjukkan hanya ada pada titik pusat pembangunan yang berhasil dan bukan pada keseluruh secara merata. Dalam artian, kegagalan pembangunan yang dilakukan tidak dipublis ke publik karena takut merusak citranya.

“Berbicara masalah kemerataan, maka sangat menyedihkan juga kalau kita berbicara masalah pembangunan di kota dengan di desa. Dikota sangat mencolok tapi di desa malah sebaliknya, tidak terurus dan terkesan ada pembiaran,” tandasnya. (*)


div>