MINGGU , 23 SEPTEMBER 2018

Mati

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 30 Desember 2016 15:25
Mati

Arifuddin Saeni

ENTAH untuk berapa lama kita bisa bertahan di kehidupan ini. Persoalan yang bertumpuk-tumpuk, gurauan yang tak berkicau lagi ataukah embun pagi tak menyemarak sendu, melampuskan harapan dan impian kita. Dan di ujung jalan itu, sakratul maut menunggu dengan muka masam. Mengapa kamu datang dengan terpaksa, memamah dirimu dengan kesal, ataukah itu dari ujung penantianmu.

Dan koran pagi pun memberitakan kematian itu, tentang cendekia yang bunuh diri dengan menggantungkan dirinya di pohon mangga. Tak jelas memang soal apa, tapi apakah itu penting. Bukankah kematian adalah awal dari perjalanan panjang kita. Bukankah kematian itu terminal akhir dari tawa, tangis dan cerita kita sehari-hari.

Bahwa ada keputusasaan ataukah apa pun namanya, itu hanyalah hukum kausal. Itu hanyalah antara, ataukah jembatan dari yang namanya perjalanan panjang. Sebab, esok hari pun akan ada yang mati dengan cara yang berbeda, mungkin di jalan raya atau bisa jadi ditempat tidurnya pun yang empuk. Ajal itu datang.

Tapi, cerita yang menjeput ajal bukan sekali terjadi. Di banyak literatur kita, sejarah mencatat bagaimana istri seorang penguasa dunia, sang istri dari Hitler, Eva Braun, juga harus bunuh diri. Juga kisah tentang penguasa Bavaria, Jerman, Ludwig II ditemukan tewas di sebuah danau. Lalu mengapa ini harus terjadi, apakah ada rasa putus asa ataukah itu memang jalan hidup yang harus dilakoninya.

Ini mungkin salah bagi orang beragama. Bahwa bunuh diri adalah jalan salah. Tapi siapa yang mau peduli dengan jalan salah itu, seperti yang kalian sebut sebagai jalan neraka. Bukankah mati itu butuh sebab akibat. Lalu apa bedanya dengan yang lain.

Jika itu keterpaksaan, apakah itu salah. Lalu di mana kalian ketika saya tak seberuntung kalian. Mengapa tak datang membawa sejumput harapan, sehingga saya masih bisa menikmati embun pagi. Tapi siapa yang bisa membendung sakit yang tak tertahankan. Bukan jalan pintas adalah penghabis derita.

Tapi jika itu salah, janganlah mencerca, seperti apa¬† yang pernah dilakukan Eva dan Ludwig II. Ini bukan akhir, toh jalan sempit dan pendek akan tatap hadir dalam kehidupan kita–yang kadang menyemai keputusasaan. Ia kadang menggoda tentang ketidakmampuan kita, mengukur kebodohan yang majemuk. Bahwa mati adalah jalan akhir. Mungkin ya mungkin juga tidak. (*)


Tag
div>