SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Mau Ibadah Kok Bohong

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 15 April 2016 13:21
Mau Ibadah Kok Bohong

Armin Mustamin Toputiri

KETIKA menunaikan ibadah haji, si ibu muda itu menghadapi kesulitan di Tanah Suci. Tak lain, karena si ibu tengah hamil muda. Tapi, di mana letak kesulitannya? Bukankah mengandung seorang anak bagi seorang ibu, adalah manusiawi. Sunnatullah. Apalagi, janin dalam rahim si ibu, dibuahi seorang suami yang sah. Suami yang mendampinginya, saat menunaikan ibadah haji. Suami yang menikahinya secara sah. Jadi semua serba halal. Lalu, apa persoalannya?

Proses kehamilan si ibu memang tak ada persoalan yang keliru. Juga tak ada perbuatan yang haram. Makanya, ketika persoalan si ibu itu dibicarakan di gedung parlemen bersama sekian instansi yang mengurusi pengelolaan haji Indonesia, sebagai wakil rakyat, saya pun tak mau menjadikan kehamilan si ibu sebagai persoalan. Justru, kehamilan si ibu mestinya disyukuri. Sebab itu, saya ingin membantunya, agar segera keluar dari jerat persoalan yang melilitnya.

Kejadiannya, pada pelaksanaan ibadah haji tahun lalu. Ketika si ibu bersama suaminya ingin menunaikan ibadah haji. Namun di saat ia telah berada di Jeddah, pemerintah Saudi Arabia menolaknya. Dalihnya, perempuan hamil dilarang menunaikan ibadah haji. Akibatnya, si ibu mesti dipulangkan ke tanah air. Namun si ibu, bersama suami, menolak dipulangkan. Berdua bersedia dipulangkan, jika ibadah haji mereka telah rampung. Jika belum, tetap menolak.

Saya kurang mengerti dalih apa digunakan pemerintah Saudi Arabia, melarang ibu hamil ikut menunaikan ibadah haji. Setahu saya, tak sedikitpun dalil agama melarangnya. Namun andai alasannya demi menjaga kesehatan si ibu, juga janin dikandungnya, mungkin ada benarnya. Tapi, lepas dari polemik itu, benak saya justru bertanya-tanya, kenapa bisa, si ibu dapat lolos uji kesehatan di asrama haji? Bukankah petugas kesehatan haji, sudah tahu pelarangan itu.

Seperti itu, bunyi pertanyaan saya sebagai wakil rakyat, kepada mitra kerja yang mengurusi pengelolaan haji. Tapi semua menjawab hanya plintit-plintut. Tak seorangpun mau memberi penjelasan yang masuk akal. Satu-satunya penjelasan yang dapat diterima, pun cukup hanya untuk dimaklumi, disampaikan perwakilan Kementerian Agama. “Al-insanu mahalul khota’ wannisyan”. Kata dia, manusia tak luput dari salah dan khilaf. Kekeliruan ini, karena khilaf.

Hanya sebatas itu. Namun masalahnya, si ibu hendak dipulangkan ke tanah air. Sementara suaminya tetap bertahan agar isterinya tetap ikut bersamanya menunaikan ibadah haji. Dan dalih disampaikan juga tak kalah sengitnya. Kata dia, ini bukan salah isterinya, tapi memang telah tiba waktu bagi isterinya, dipanggil Tuhan datang ke Baitullah. “Bukankah telah banyak orang berniat ke tanah suci, tapi belum terpangil, karena tidak semua orang dipanggil-Nya”.

Duh, rasanya pening kepala jika meladeni argumen ke-ilahi-an yang sesempit itu. Sebab itu, saya mengajak petugas kesehatan haji untuk berbincang hati ke hati dalam rapat “setengah kamar”. Petugas kesehatan membuka fakta. Saat uji kesehatan, si ibu tidak terdeteksi hamil. Musababnya, air kencing si ibu yang terperiksa, telah ditukar dengan air kencing si ibu yang lain. Tak sadar, mulut saya setengah teriak. “Astagfirullah, loh mau ibadah kok berbohong!”. (*)


div>