SENIN , 10 DESEMBER 2018

Mau jadi Cawapres Jokowi di Pilpres 2019, Ini Syaratnya

Reporter:

Editor:

Lukman

Jumat , 20 Juli 2018 18:40
Mau jadi Cawapres Jokowi di Pilpres 2019, Ini Syaratnya

Presiden RI, Joko Widodo.

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Sidarto Danusubroto mengatakan, sosok cawapres yang pas mendampingi Joko Widodo adalah yang memiliki idealisme seperti Bung Karno.

“Jokowi sekarang diwarisi Indonesia yang harus tetap dijaga dari tangan-tangan preman,” kata Sidarto saat dikonfirmasi, Jumat (20/7).

Sejauh ini, ia menganggap nama-nama yang beredar seperti Mahfud MD atau Moeldoko, sudah cukup baik untuk mendampingi Jokowi. Namun, dari dua nama itu, Sidharto menjagokan yang punya kapabilitas menjaga kedaulatan Indonesia.

“Yang paling cocok adalah yang bisa menjaga (Indonesia) dan bisa diterima seluruh partai,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute Karyono Wibowo menilai, Mahfud MD adalah sosok yang pas. Sebab, menurutnya, Mahfud punya pengalaman legislatif sebagai anggota DPR, pengalaman eksekutif sebagai menteri pertahanan, dan pengalaman yudikatif sebagai ketua Mahkamah Konstitusi.

Hanya saja, dia menilai, pengalaman di tiga unsur negara itu tidak bisa menilai hasil kinerja Mahfud. “Dia cuma sebentar jadi menteri, jadi tidak terlihat perannya ketika itu,” kata Karyono.

Di sisi lain, ada juga kelemahan yang bisa mengganjal Mahfud. Misalnya irisan pemilih Mahfud dengan Presiden Jokowi. Berdasarkan hasil survei yang Karyono lakukan beberapa waktu lalu, terlihat bahwa mayoritas Nahdliyin memang sudah bersimpati pada Jokowi. Dari hal ini, bisa diproyeksikan bahwa Mahfud tidak menambah jumlah pemilih pada Jokowi.

“Kalau NU dan kiai tidak clear mendukung Mahfud, maka itu jadi kelemahan elektoralnya. Apalagi dalam konteks bursa Cawapres, Mahfud akan bersaing dengan ketua umum PKB Muhaimin,” kata dia.

Di samping itu, dia juga menilai, Mahfud berpotensi membuat massa Muhammadiyah menyeberang ke kubu lawan Jokowi. Kondisi ini juga berlaku bila Jokowi memilih Cak Imin. Oleh karena itu, Karyono mengatakan bahwa sebaiknya Jokowi memilih pendamping yang bisa diterima oleh semua arus utama kelompok Islam. Baik itu NU atau Muhammadiyah.

“Daripada memecah belah dukungan yang semula solid, lebih baik Jokowi pilih orang luar yang bisa diterima semua kalangan. Tanpa harus merasa salah satu lebih diutamakan,” beber Karyono. (jpnn)


div>