RABU , 14 NOVEMBER 2018

Memaknai Hari Pendidikan Nasional

Reporter:

Editor:

MA

Selasa , 02 Mei 2017 17:12
Memaknai Hari Pendidikan Nasional

Andi Sri Kumala Putri

MELIRIK kembali makna sejarah hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 2 mei  ini, dimana bertepatan dengan kelahiran sosok pejuang bangsa kita, Ki Hajar Dewantara yang pantang lelah memperjuangkan nasib pribumi agar turut memperoleh pendidikan yang layak, sebab pada masa itu hanya orang- orang kaya dan yang berketurunan belanda yang dapat memperoleh pendidikan. sementara rakyat pribumi dibiarkan buta huruf, krisis pengetahuan dan tidak bisa mengenal pendidikan. Atas perjuangan tersebut dinamakanlah beliau Bapak Pendidikan sekaligus diangkat sebagai pahlawan nasional yang ke. Dua setelah ir. Soekarnao hatta. Tingginya rasa kepedulian beliau terhadap dunia pendidikan patut diteladani.

Memperingati Hardiknas, tugas kita bukan hanya sekedar upacara seremonial semata, bukan sekedar update status ucapan selamat atas hari pendidikan nasional yang biasa anak zaman sekarang lakukan.   Tetapi ada makna yang terkandung dalam moment tersebut.
Dengan kemudahan dalam menempuh jenjang pendidikan
Saat ini diharapkan bagi generasi mudah untuk mampu memanfaatkannya menimba ilmu setinggi tingginya, memperbaiki kualitas diri, sebab ilmu adalah jendela dunia dengan ilmu pengetahuan  akan menjadi senjata menguasai dunia dalam genggaman kita.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa biaya sekolah dasar, menengah dan atas apalagi perguruan tinggi terasa sangat tinggi san sangat memberatkan sebagian besar warga indonesia. Meskipun ada Kebijakan yang memberikan beasiswa kepada siswa/mahasiswa berprestasi saya rasa sudah tepat namun kurang, tanya kenapa ?
Begaimana dengan mereka yang berada pada perekenomian yang dibawah standar dan juga tidak memenuhi kualifikasi mendapatkan beasiswa’? Ujung2nya mereka akan putus sekolah dan dampaknya kedepan semakin membengkakkan jumlah pengangguran di negara kita.
Dimakassar khususnya ada beberapa komunitas yang peduli terhadap pendidikan, mereka banyak menghadapi anak yang bersekolah tetapi masih belum mampu membaca, menghitung.
Menurut saya setiap orang berbeda-beda untuk memahami suatu pelajaran, tidak ada orang yang bodoh hanya saja ada karakter yang mmg cepat tanggap, dan ada karakter yang membutuhkan metode khusus untuk dapat memahami suatu pelajaran.
Disinilah tantangan seorang pendidik yang berprofesi guru, dosen. Ketika hanya menghadapi siswa/mahasiswa yang kemampuannya diatas rata2 akan terjadi kemandulan kreativitas oleh seorang pendidik.
sebongkah  intan tak akan ternilai tanpa kita mengasahnya dulu dari sebongkah batu.
Olehnya itu diharapkan pemerintah memperhatikan siswa/mahasiswa bukan yang berprestasi semata, mereka semua berhak mendapatkan pendidikan  yang layak, sebab mereka adalah aset negara kita. Selain itu yang perlu dipertimbangkan adalah nasib dan kesejahteraan para pengajar sehingga dapat optimal memberikan sumbangsi terhadap kemajuan pendidikan.


Tag
div>