Menabur Kasih

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Mengukir dan mengurai catatan harian di setiap lembaran kehidupan sangat ditentukan oleh pilihan yang kita pilih terhadap apa yang telah ditetapkan Tuhan. Bahagia atau sengsara, untung atau rugi, kebajikan atau keburukan semuanya tergantung pada pilihan kita masing-masing.

Tidak ada orang yang bercita-cita ingin menjadi pemulung, penarik becak, tukang sapu, sopir angkot, kuli bangunan, pengemis, dan semacamnya. Dengar saja jawaban mereka ketika ditanya ingin jadi apa. Umumnya menjawab ingin jadi pengusaha sukses, artis terkenal, desainer ternama, insinyur, ahli hukum, dokter, profesor, menteri, bahkan presiden. Tidak ada yang salah pada jawaban seperti itu, hanya perlu menyadari kapasitas kita.

Kesempatan untuk melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi sesama tidak pernah tertutup. Apapun pekerjaan atau profesi yang digeluti. Seburam apapun lembaran kehidupan yang telah kita tempuh, masih tersedia lembaran putih di hari esok untuk memperbaiki catatan kelam di masa lalu. Orang bijak berpesan “belajarlah pada hari kemarin, jalani hidup hari ini, dan beri harapan untuk hari esok”.

Kebajikan yang kita kerjakan tidak ada yang sia-sia, juga tidak merugikan pelakunya, serta tidak akan membawa rasa kesal di hati. Sekecil apa pun perbuatan baik, tidak ada yang luput dari catatan malaikat. Ketika melakukan suatu kebaikan kepada seseorang, kemudian orang tersebut justru menyikapi sebaliknya, ibarat ungkapan “air susu dibalas dengan air tuba”, kebaikan dibalas dengan keburukan. Jangan kecewa, itu berarti Tuhan tidak memilih orang tersebut menyalurkan kebaikan kepada kita, Tuhan akan memilih tangan-tangan lain untuk menyalurkan kebaikan pada saat kita butuhkan.

Dalam hal rezeki, Tuhan yang Maha Pemurah telah menyediakan seluruh kebutuhan manusia secara melimpah. Namun, bumi dan langit beserta isinya selalu saja dirasa kurang bagi mereka yang berjiwa tamak, rakus dan tidak mampu bersyukur. Aturan Tuhan sangat tepat dan tidak mungkin meleset. Ada rezeki yang diperuntukkan bagi orang yang menjemput, ada rezeki bagi yang menunggu. Ada rezeki untuk mereka yang rajin, ada untuk mereka yang malas. Ada rezeki bagi mereka yang bersyukur, ada juga untuk mereka yang mengeluh. Kita tinggal menjalani dengan kerja keras, bersyukur kemudian berbagi kepada sesama. Orang bijak berkata: Jangan berharap awan berwarna jingga, jika mentari tidak terbenam di ufuk Barat. Jangan bermimpi meraih kesuksesan tanpa usaha dan kerja keras.

Bersyukur dan keinginan berbagi dengan sesama adalah dua hal yang seringkali membawa berkah diluar perhitungan dan matematika manusia. Tidak ada pertimbangan untung-rugi, melainkan keinginan untuk berbagi kasih sebagaimana Tuhan menabur kasih-Nya kepada makhluk dengan tidak memilih, kasih sayang tanpa syarat. Berbahagialah mereka yang senantiasa menyambung tali kasih terhadap sesama, pesan Tuhan dalam hadis Qudsi “Semua makhluk adalah keluarga-Ku, yang paling Aku cintai adalah mereka yang selalu membahagiakan sesamanya”.

Bermanfaat kepada sesama makhluk tidak mesti hanya dengan modal materi yang banyak, ilmu yang tinggi, atau tenaga yang kuat. Dengan tidak melakukan perbuatan buruk pun akan mendatangkan manfaat yang sangat besar. Ungkapan yang mengatakan: Kalau tidak bisa membersihkan, jangan mengotori. Kalau tidak bisa memuji, jangan mencaci. Jika tidak dapat menjaga ketertiban, jangan membuat keributan. Artinya dengan tidak melakukan perbuatan buruk yang kecil sekali pun, sudah sangat bermanfaat bagi orang lain.

Apakah perjalanan hidup dari jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, tahun ke tahun, dipandu dengan komitmen untuk meraih hidup yang bermakna dan bermanfaat bagi sesama ataukah sekedar beraktivitas sebagaimana hewan menuruti naluri untuk tumbuh, makan serta mengejar kenikmatan fisik. Jawabannya terletak dilubuk hati setiap orang yang senantiasa berharap agar perjalanan hidup ini berakhir dengan cerita bahagia. (*)