Menabur Kebajikan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Sebagaimana halnya dengan alam semesta, kehidupan manusia tidak terlepas dari aturan yang berlaku terhadap alam dan kita mesti mengikutinya. Kalau matahari dengan sinarnya yang menyebabkan air di laut dan danau menguap, maka dalam beberapa waktu kemudian bumi pun akan menerima air berupa hujan dari langit.

Demikian itulah hukum yang berlaku pada alam semesta yang sering kita sebut dengan hukum sebab akibat atau hukum aksi reaksi dan ada yang menyebut dengan hukum karma.

Belajar pada semua makhluk yang ada di bumi, yang diciptakan untuk melaksanakan fungsinya masing-masing sesudah itu kemudian mati. Misalnya pisang, setelah berbuah kemudian dimanfaatkan oleh manusia lalu mati. Ayam setelah bertelur, kemudian dikonsumsi oleh manusia selesailah fungsi ayam tersebut diciptakan. Seharusnya manusia juga demikian setelah lahir, tumbuh dewasa, bermanfaat kepada sesama kemudian wafat.

Sebanyak engkau memberi, sebanyak itu juga engkau akan menerima. Seperti itulah nasihat para orang bijak untuk membiasakan diri memberi kepada orang lain. Padang pasir yang gersang, tidak pernah memberi air ke langit maka jarang pula menerima hujan dari langit.

Sangat disayangkan dalam kehidupan ini, kita sering berharap menerima sesuatu dari orang lain, namun jarang memberikan sesuatu kepada orang lain. Inilah penyakit manusia modern, selalu mengharap untuk dimengerti tapi tidak pernah berusaha untuk memahami orang lain. Senantiasa menuntut untuk dicintai, namun tidak pernah berusaha untuk mencintai.

Agama mengajarkan bahwa tidak ada kata rugi, sia-sia, atau kecewa dalam melakukan kebajikan. Karena setiap kebajikan yang kita kerjakan merupakan investasi akhirat bagi pelakunya dan kebajikan itu akan melebur kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Kalau anda pernah melakukan kebajikan kepada seseorang, kemudian orang tersebut justru melakukan sebaliknya.

Ibarat pepatah “air susu dibalas dengan tuba” (kebajikan dibalas dengan keburukan), jangan merasa kecewa karena itu berarti bahwa Tuhan tidak memilih orang tersebut untuk menyalurkan kebajikan kepada anda. Tuhan akan memilih tangan-tangan lain untuk menyalurkan kebajikan pada anda di saat anda membutuhkan dari arah yang tidak terduga sebelumnya.

Untuk melakukan kebajikan tidak harus dengan modal besar, ilmu tinggi, tenaga kuat, usia muda. Berapa pun usia anda, apa pun profesi yang anda geluti, semuanya berpotensi untuk menuai kebajikan. Karena dengan tidak melakukan keburukan meskipun kecil, sudah mendatangkan kebajikan yang besar. Misalnya jika anda tidak mempunyai kesempatan untuk membersihkan, maka sebaiknya anda tidak mengotori. Kalau tidak bisa memelihara ketertiban, maka jangan membuat keributan. Dengan demikian anda telah melakukan kebajikan yang sangat bermanfaat dengan tidak melakukan keburukan kecil apalagi yang besar.

[NEXT-RASUL]

Kebajikan itu tidak terhitung jumlahnya mulai dari menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan hingga berjihad di jalan Allah. Melakukan jenis kebajikan adalah pilihan, namun yang sangat disenangi oleh Allah dan Rasul-Nya adalah yang dilakukan secara kontinu.

Baik berkaitan dengan ibadah ritual atau pun ibadah sosial, salat tahajud yang dilakukan sekali saja dapat dilakukan oleh semua orang. Namun melakukan tahajud sebagai kebiasaan adalah sangat terpuji. Memberi makan dan membantu fakir miskin yang dilakukan satu kali dapat dilakukan setiap orang, tapi apabila hal ini dilakukan berulang-ulang menjadi tradisi merupakan hal yang luar biasa.

Melakukan kebajikan secara berulang-ulang akan membawa berkah bagi pelakunya. Berkah adalah kelebihan manfaat dari apa yang biasa kita terima. Kalau ada orang yang minum air satu gelas kemudian rasa hausnya hilang itu biasa. Tapi apabila orang minum air satu gelas, di samping hausnya hilang, penyakitnya juga sembuh maka kita sebut air itu berberkah. Seperti inilah keadaan mereka yang senantiasa menabur kebajikan, ia juga akan menuai keberkahan. (*)