JUMAT , 21 SEPTEMBER 2018

Menakar Peluang Capres Alternatif: Anies Vs Gatot

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 11 Juni 2018 09:30
Menakar Peluang Capres Alternatif: Anies Vs Gatot

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC) Zaenal A Budiyono menilai menguatnya popularitas hastag #2019GantiPresiden menunjukkan masyarakat menginginkan capres anternatif.

Karena itu, hastag tersebut tidak bisa lagi diklaim milik pendukung Prabowo, karena sebagian besar aktivis di belakang #2019GantiPresiden justru menginginkan figur alternatif. Mereka tampaknya punya hitungan matematis mengenai kemungkinan Pilpres 2019 nanti.

“Jika mereka mendukung Prabowo, hastagnya seharusnya langsung menguatkan nama Ketua Umum Partai Gerindra, sehingga berdampak pada penguatan elektabilitas Prabowo. Pasalnya karakteristik “pesan” dalam komunikasi politik sangat menentukan peluang kandidat,” kata Zaenal Budiyono dalam keterangan persnya, Minggu (10/6).

Namun demikian, Zaenal Budiyono mengungkapkan dua nama kuat yakni Jokowi dan Prabowo diprediksi akan kembali bertarung di pilpres 2019. Bahkan kubu pendukung Jokowi menyatakan sudah siap rematch dengan mantan Danjen Kopassus itu tahun depan. Begitu pun kubu Prabowo yang tak mau kalah gertak.

Adu kuat sudah terjadi di sosial media antar-kedua pendukung, yang berdampak pada kegaduhan di dunia maya hingga aksi saling lapor akibat “perbuatan tidak menyenangkan” dari kedua kubu.

Menakar Capres Alternatif

Mengenai kemunginan gerakan #2019GantiPresiden membuka nama alternatif, siapa yang terkuat? Setidaknya ada dua nama (selain Prabowo) yang bisa dikatakan dekat secara politik dengan gerakan ini, yaitu Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan.

Menurut Zaenal Budiyono, Gatot memiliki modal sebagai mantan Panglima TNI, sementara Anies cukup banyak yang bisa dijual selama menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Lalu siapa yang paling berpeluang di antara keduanya? Menurut Zaenal yang juga Pengajar FISIP Universitas Al Azhar Indonesia ini, sejak Pilpres langsung 2004, kita masuk ke dalam era demokrasi media. Ini bukan term akademik, melainkan fenomena empirik yang terjadi di Indonesia.

Menurutnya, SBY dan Jokowi—dua presiden hasil pilpres langsung memiliki banyak perbedaan. Namun persamaannya, keduanya mampu memanfaatkan media secara baik, yang pasa akhirnya menghasilkan dampak elektoral.

SBY dikenal sebagai sosok yang cakap saat berbicara di media. Sementara Jokowi membawa media terus memburunya karena aksi-aksinya di lapangan yang berbeda dari banyak politisi lainnya.

Semakin ke sini, demokrasi media tak hanya menjual kemasan (pencitraan), sebaliknya masyarakat mulai menuntut substansi. Setidaknya itu yang terlihat pada Pilgub DKI Jakarta 2017, dimana debat menjadi titik tolak meroketnya elektabilitas Anies Baswedan, setelah selalu tertinggal dari Ahok dalam beberapa bulan sebelumnya.

Di pilpres 2019, kata Zaenal Budiyono, debat masih akan memberi pengaruh signifikan terhadap elektabilitas kandidat. Dalam kasus Gatot vs Anies, tanpa mengecilkan kemampuan debat Gatot, tampaknya Anies sedikit lebih unggul. Rekam jejak Anies di dunia aktivis, akademisi hingga politisi dan birokrat sangat dekat dengan tradisi debat. Sementara Gatot dengan latar belakang militer justru lebih dekat dengan tradisi komando.

“Kesimpulannya, sebagai aktivis Anies sedikit diuntungkan dengan sistem pemilihan langsung,” katanya.

Tidak hanya dalam konteks demokrasi media, Zaenal Budiyono menilai kinerja Anies selama memimpin Jakarta juga tak bisa dipandang sebelah mata. Ia bahkan sudah menyamai keberanian Ahok dalam menantang pemain-pemain lama di Ibu kota. Mulai dari menutup Alexis, menginvestigasi gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, hingga menghentikan proyek ratusan triliun, reklamasi teluk Jakarta.

“Semuanya adalah kasus-kasus raksasa yang tak mudah dilakukan oleh pemimpin kelas medioker,” katanya.

Sementara itu, Zaenal menilai Gatot juga mempunyai prestasi selama menjabat Panglima TNI, namun sejauh ini tidak ada yang benar-benar monumental dan membekas di benak publik.

“Saya sebenarnya sangat tertarik dengan strategi pertahanan ala Pak Gatot yang berbasis perang memperebutkan sumber pangan dan proxy war. Ini merupakan pemikiran beyond military yang luar biasa. Namun konsep besar tersebut sepertinya belum tuntas dijalankan saat Gatot di pucuk pimpinan TNI,” ungkap Zaenal Budiyono.

Karena itu, menurut Zaenal Budiyono, mengacu pada berbagai variabel tersebut, peluang Anies sedikit lebih besar untuk menang di era demokrasi media seperti sekarang ini. (fri/jpnn)

 


div>