JUMAT , 14 DESEMBER 2018

Menang di Pileg Tak Semudah di Pilkada

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 25 September 2015 13:26
Menang di Pileg Tak Semudah di Pilkada

int

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Ajang pilkada Serentak tahun ini dinilai tidak hanya sebagai moment pertarungan antar kandidat, melainkan juga menjadi ajang rivalitas partai politik. Pembuktian atau mempertahankan dominasi politiknya yang selama ini dijaga.

Orientasi parpol dalam pilkada serentak adalah kemenangan sebagai investasi untuk hajatan demokrasi yang lebih besar pada tahun 2019 mendatang. Namun untuk menyukseskan hajatan besar tersebut, pilkada serentak dinilai bisa saja menjadi kunci keberhasilan parpol, bila evaluasi dan penguatan basis politiknya terus menerus dimatangkan, misalnya kekuatan parpol dalam pileg 2014 lalu.

Parpol bisa saja mengerahkan kemampuan politiknya dalam mempengaruhi pemilih untuk menyalurkan hak pilihnya kepada figur yang diusung paprol yang bersangkutan.

Hal itu bisa dilakukan dengan memperketat tugas masing-masing kader maupun legislator dari masing-masing dapil untuk mengerahkan pengaruhnya dalam memilih kandidat calon. meskipun kekuatan kandidat kepala daerah masih menjadi faktor utama masyarakat dalam memilih.

Manajer Strategi Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI) Irfan Jaya mengatakan kemenangan parpol dalam pilkada bisa saja terwujud sepanjang syarat soliditas koalisinya terpenuhi.

[NEXT-RASUL]

Syarat yang dimaksudkan diantaranya pembagian strategi pemenangan yang proporsional antar masing-masing parpol pengusung. Selain itu, lanjut Irfan, parpol pengusung juga mesti solid dalam memaksimalkan segala kebutuhan yang berkaitan dengan teknis pemenangan.

“Sebenarnya kekuatan parpol besar atau parpol kecil dalam pilkada tidak lagi terlalu signifikan dalam memenangakan kandidat, melainkan sejauh mana manajerial dari parpol pengusung yang tergabung dalam koalisi, melakukan kerja-kerja pemenangan secara solid dan proporsional,” ujarnya, Kamis (24/9).

Meski demikian, menurut Irfan, parpol yang selama ini merupakan partai yang dominan atau menjadi basis di daerah, tidak serta merta bisa memenangkan pilkada dengan mudah. Hal itu lantaran variabel setiap event politik berbeda, misalnya antara pemilihan legislator, pemilihan bupati/walikota, pemilihan gubernur, dan pemilihan presiden.

“Kecil sekali variabel antara pileg dan pilkada. Kekuatan utama pileg adalah partai dan kekuatan pilkada adalah figur. Sehingga pemenang pileg belum tentu pemenang di pilkada,” kata Irfan.

Diketahui dalam pileg 2014 lalu Golkar di Sulsel memiliki presentase kemenangan 20,09 persen, disusul Gerindra 14,99 persen, Demokrat 11,12 persen dan PAN 9,23 persen.

[NEXT-RASUL]

Irfan menambahkan, selain itu adanya perlakuan sama dan adil terhadap kandidat kepala daerah yang diatur dalam PKPU, tidak membuat parpol bebas melakukan kerja pemenangan. Partai politik dengan keunggulan finansial yang lebih besar, belum tentu mampu mengalahkan parpol atau kandidat yang memiliki keterbatasan dalam cost politik.

Misalnya, ditanggungnya biaya penyelenggaraan kampanye dalam pilkada serentak oleh KPU dinilai berdampak terhadap meratanya proses sosialisasi oleh para kandidat. Sehingga tidak ada satu kandidat yang lebih dominan “belanja” iklannya dengan kandidat yang lain.

“Hal ini tentu saja akan mempengaruhi pertarugan politik yang lebih fair dalam bentuk kampanye melalui iklan, meskipun terdapat metode kampanye lainnya, yang bisa dikembangkan oleh masing-masing tim pemenangan,” jelasnya.

Selama ini iklan politik baik melalui media cetak, elektronik, dan luar ruang diakui sebagai salah satu sarana efektif untuk mempromosikan figur sekaligus memperkenalkan visi misi kandidat. Tujuannya untuk memperoleh citra, popularitas, dan elektabilitas.

Jika popularitas bisa diraih melalui iklan politik, maka peluang dalam meningkatkan elektabilitas cukup besar. “Namun efektifitas iklan tersebut untuk mempengaruhi elektoralnya tidak sepenuhnya berlaku mutlak, tergantung dari tim pemenangan memainkan pesan, frekuensi penayangan, penerimaan masyarakat, hingga respon media,” papar Irfan.

[NEXT-RASUL]

Menurut dia, indikator keterpilihan kandidat dalam setiap kontestasi politik, melalui kampanye berbentuk iklan dinilai tidak terlalu signifikan, meskipun punya pengaruh. Komunikasi politik secara tatap muka atau melakukan dialog politik, dengan menunjukkan hasil kegiatan yang sudah atau akan dilakukan terhadap masyarat dinilai lebih punya apresiasi politik yang tinggi dari masyarakat.

Irfan menyebutkan, saat ini sudah ada kecenderungan bahwa politisi yang memiliki logistik besar dan melakukan belanja politik besar, salah satunya dalam bentuk iklan, dalam banyak kasus, bisa dikalahkan.

“Pilkada tidak lagi dominan dipengaruhi oleh jumlah logistik. Namun lebih dari itu yang terpenting adalah kreatifitas. Aturan kampanye yang diatur dalam UU pilkada cukup ketat sehingga jumlah logistik tidak menjadi penentu semata,” ujarnya.

Hal tersebut juga dinilai sama, terhadap signifikansi pengaruh pileg lalu terhadap pilkada serentak tahun ini. Hasil pileg dinilai tidak bisa serta merta menjadi indikator utama dalam kemenangan di pilkada.

“Kecederungan masyarakat saat ini dalam memilih di pilkada, tergantung dari kapabilitas figurnya, parpol hanya bisa memberikan kontribusi sepersekian dari variabel kemenangan, jadi tidak terlalu banyak sebenarnya korelasi antar pileg dan pilkada,” pungkasnya.

[]NEXT-RASUL]

Sementara Ketua Desk Pilkada Golkar Sulsel Arfandy Idris mengatakan bahwa Golkar tetap optimis mampu mendominasi kemenangan di 11 pilkada serentak di Sulsel. Hal tersebut selain karena meratanya kader hingga di tingkat kelurahan/desa, pengalaman Golkar di ajang pilkada sudah relatif cukup dalam membuat maupun mematangkan strategi yang menunjang kemenangan Golkar.

“Golkar itu selalu optimis untuk menang di setiap ajang politik,” kata dia. Terlepas dari konflik internal partai, Arfandy Idris mengatakan bahwa Golkar merupakan partai yang memiliki sistem tersendiri dalam mengusung, mendukung, dan memenangkan kandidat di pilkada. Salah satunya dengan pembagian koordinator daerah (Korda) terkait pilkada.

Korda tersebut menurut Arfandy memiliki tugas untuk mengatur dan mengkoordinasikan kebijakan partai dalam rangka memenangkan Golkar “Masing-masing daerah ada kordanya, untuk mengatur bagaimana Golkar memenangkan pilkada,” tegasnya.

Sementara itu Demokrat yang senantiasa diidentikkan sebagai rival berat Golkar, meyakini mampu memecah dominasi partai berlambang beringin rindang tersebut selama ini di Sulsel.

Hal itu menyusul mampunya Demokrat menjalankan proses teknis pelaksanaan pilkada mulai dari pembentukan desk pilkada di tingkat cabang, penjaringan hingga rekomendasi usungan yang dinilai berlangsung secara tertib dan lancar, tanpa adanya riak-riak dari kader di tingkat bawah.

[NEXT-RASUL]

Selain itu kebijakan Demokrat meraih sukses dalam pileg 2014 lalu, juga tidak terlepas dari sikap tegas partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam memfiltrasi berbagai isu dan masalah-masalah internal partai yang cenderung berkembang di masa itu. Sehingga demokrat berhasil meraih prestasi sebagai pemenang kedua pileg di Sulsel setelah Golkar.

Terkait target dominasi Demokrat di 11 pilkada di Sulsel, Plt DPD Demokrat Sulsel Ni`matullah menegaskan bahwa seluruh kader wajib bergerak memenangkan figur usungan partai.

Ni`matullah menegaskan akan memberikan sanksi pemecatan terhadap kader yang teridentifikasi melawan perintah partai dengan memenagkan figur di luar rekomendasi partai.

”Jika ada yang mememenagkan figur di luar usungan Demokrat, berarti secara tidak langsung sudah mengucapkan selamat tinggal kepada Demokrat,” tegasnya.
Untuk menjamin soliditas kader di 11 pilkada,

Demokrat telah memerintahkan DPC untuk menginventarisir kader-kader yang teridentifikasi melawan perintah partai di pilkada. ”Dan hal ini sudah ada tim pengawasnya di daerah yang kita bentuk yang dikoordinasi langsung oleh komisi pengawas daerah DPD Demokrat Sulsel yang diketuai Sewang Thamal,” pungkasnya.

[NEXT-RASUL]

Sementara NasDem sebagai partai baru, juga tidak ingin kalah memperlihatkan keseriusannya dalam menjajal pilkada serentak 2015. NasDem yang dipimpin Surya Paloh, memiliki ambisi tersendiri untuk menjadikan Sulsel sebagai salah satu daerah lumbung suara NasDem.

Juru Bicara NasDem Sulsel, Rudianto Lallo mengatakan bahwa Sulsel menjadi salah satu daerah yang menjadi perhatian serius DPP. Pemilihan kepala daerah serentak tahun ini menjadi momen penting bagi NasDem untuk memperkuat basisnya.

Di Pilkada, NasDem dalam menerbitkan SK usungan secara cermat memperhatikan pertimbangan hasil survei tentang tingkat elektabilitas para kandidat. Pemberian rekomendasi, juga didasarkan rekam jejak para kandidat di Kejaksaan Tinggi (Kejati) maupun Polda. Serta pemberian rekomendasi jauh dari adanya pendekatan melalui mahar politik.

Menurut Rudi, ini dilakukan demi menjaga citra Partai Nasdem dari kemungkinan tercoreng lantaran merekomendasi calon yang tidak kapabel maupun terlibat tindak pidana korupsi.

“Dikalangan kader, NasDem telah memberikan tanggungjawab kepada masing-masing legislator untuk bertanggung jawab terhadap perolehan suara figur yang diusung di masing-masing dapilnya. Juga NasDem telah mempertegas sikap terhadap kader yang bersebarangan dengan kebijakan partai di pilkada,” pungkasnya. (E)


Tag
  • hl
  •  
    div>