KAMIS , 20 SEPTEMBER 2018

Menangis, Politikus Hanura Cabut Keterangan Soal Penerimaan Uang Korupsi e-KTP

Reporter:

Editor:

dedi

Kamis , 23 Maret 2017 20:01
Menangis, Politikus Hanura Cabut Keterangan Soal Penerimaan Uang Korupsi e-KTP

Ilustrasi

JAKARTA, RAKYATSULSEL.CO – Mantan Anggota Komisi II DPR Miryam S Haryani tampak sesegukan di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta dalam sidang dua terdakwa korupsi proyek e-KTP, Irman dan Sugiharto.

Politikus Partai Hanura itu mencabut semua berita acara pemeriksaan (BAP) terkait penerimaan uang sejumlah pihak karena mengaku diancam penyidik KPK Novel Baswedan dalam proses penyidikan.

“Saya diancam Pak, sama penyidik. Itu yang terjadi, Pak. Saya diancam sama penyidik tiga orang. Seingat saya yang satu namanya Pak Novel, yang satu Damanik. Mereka bilang, ibu 2010 tuh mestinya udah saya tangkap. Abis itu saya ditekan. Kata Pak Novel begitu, Pak,” kata Miryam sembari sesegukan menjawab pertanyaan Hakim Franky Tambuwun di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (23/3).

Tak percaya dengan keterangan Miryam, Hakim Franky lantas membacakan beberapa keterangan dalam BAP. Di antaranya soal Miryam pernah terima uang sebesar Rp 50 juta dan permintaan pimpinan komisi II DPR untuk mengkoordinir penerimaan uang anggota komisi dari pengusaha.

“Ini jawaban penyidik atau anda?” Tanya Hakim Franky.
“Untuk menyenangkan mereka (penyidik), Pak. Saya jawab asal aja,” ujar Miryam.

“Saya diancam (penyidik) ibu terima uang? Tidak. Kata Pak Novel, saya pernah panggil Aziz Syamsudin dan Bambang Soesatyo, mereka sampai mencret-mencret. Saya terpaksa ngomong asal aja, Pak,” tambah Miryam.

Akhirnya, Ketua Majelis Hakim John Halasan Butarbutar bertanya kepada Miryam apakah akan benar-benar mencabut BAP. “Ibu akan cabut semua?” Tanya Hakim John. “Iya. Yang berkaitan dengan penerimaan,” jawab Miryam. (Put/jpg)


div>