JUMAT , 20 JULI 2018

Mencari Jejak Digital Index Indonesia, Hasilnya: Mengejutkan

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Jumat , 08 Juni 2018 00:56
Mencari Jejak Digital Index Indonesia, Hasilnya: Mengejutkan

Suherman Madani

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Satu lagi lembaga survei merilis hasilnya di Pilgub Sulsel. Index Indonesia. Bagi kaum awam ini terdengar baru. Termasuk saya.

Namun, sebagai orang yang hidup di era digital. Tidak ada salahnya menelisik lembaga ini melalui jejak digital. Hasilnya, sangat minim.

Dari hasil penelusuran digital, lembaga ini banyak mempublish hasil survei yang berbeda dengan hasil akhir. Di Pilkada Buton Selatan 2017 lalu, Index Indonesia mengunggulkan pasangan nomor urut dua Muhammad Faizal-Wa Ode Hasniwati dengan persentase mencapai 44,8 persen. Hasil Pilkada, kandidat yang diunggulkan Index berada di posisi kedua dengan hasil perolehan suara 39,17 persen. Ada selisih lima persen dari hasil survei dengan hasil akhir pilkada.

Pada saat survei, pemenang Pilkada Buton Selatan, Agus Feisal Hidayat-La Ode Arusani (Agusani) yang hanya mendapatkan 33,3 persen. Sementara, hasil pilkada berkata lain, paket ini malah menang mutlak dengan raihan 43,01 persen. Ada selisih sekira 9,99 persen.

Menariknya, di Pilkada Buton Selatan ini, Index Indonesia merupakan lembaga survei yang dinilai KPU sebagai lembaga ilegal yang sengaja ingin menggiring opini pemilih.

Sumber : https://baubaupost.com/2017/01/30/kpu-busel-pastikan-lembaga-survei-index-indonesia-sii-illegal/

Di jejak digital lain, hasil survei Index Indonesia juga jauh melenceng di Pilkada Maluku 2013 lalu. Kala itu, Index Indonesia mengunggulkan Abdullah Tuasikal-Hendrik Lewerissa dengan raihan 22,92 persen. Hasilnya, kandidat yang diunggulkan Index Indonesia hanya berada di posisi ketiga hasil perhitungan KPU. Sementara, pemenang Pilkada Maluku waktu itu, Said Assagaff-Zeth Sahuburua, disurvei Index hanya ditempatkan di posisi ketiga.

Sumber : http://www.siwalimanews.com/post/prediksi_mss_tepat_kci_dan_index_meleset

Di Pilkada Bombana Sulawesi Utara 2017 lalu. Lagi-lagi hasil survei Index Indonesia jauh melenceng. Index kala itu merilis hasil surveinya dengan menempatkan pasangan nomor urut dua Tafdil-Johan Salim memiliki elektabilitas (tingkat keterpilihan) mencapai 59,0 persen. Sementara pasangan nomor urut satu Kasra Jaru Munara-Manarfa meraih elektabilitas 27,5 persen.

Hasil Pilkada, pasangan yang tidak diunggulkan Index ternyata jauh melampaui suara paket yang diunggulkan Index. Kasra Jaru Munara-Manarfa yang disurvei Index hanya meraih elektabilitas 27,5 persen, hasilnya mampu meraup 51,35 persen suara berdasarkan hasil hitung KPU. Sementara, pasangan nomor urut dua Tafdil-Johan Salim yang disurvei Index meraih elektabilitas 59,0 persen hanya mampu meraup suara 48,65 persen berdasarkan hasil hitung KPU.

Sumber ; https://www.google.co.id/amp/rmol.co/amp/2017/02/17/280767/Pasangan-Berkah-Menangi-Pilkada-Bombana-

Sumber ; https://www.google.co.id/amp/s/zonasultra.com/survei-index-indonesia-tafdil-johan-unggul-59-persen.html/amp

Hingga lembaran ke-10 di mesin pencarian Google hanya ini hasil yang saya dapat dari lembaga ini. Sayangnya jejak digitalnya menunjukkan lembaga ini selalu keliru. Hasil-hasil surveinya meleset jauh dari hasil akhir perhitungan KPU.

Entah muncul dari mana, lembaga ini tiba-tiba hadir di Sulsel mempublish hasil surveinya. Hasilnya pun mengejutkan. Jauh berbanding terbalik dengan dua lembaga survei nasional lainnya yang juga baru-baru merilis surveinya, JSI dan LSI Danny JA.

Index muncul dengan mengunggulkan Nurdin Halid-Aziz Qahar Mudzakkar. Sementara, calon yang unggul di survei JSI dan LSI, Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar hanya ada di posisi ketiga. (****)

Penulis: Suherman Madani (Redaktur Khusus Harian Rakyat Sulsel)


div>