SABTU , 26 MEI 2018

Menelisik Geliat Penjual Barang Antik Di Jl Khairil Anwar

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 13 September 2012 10:11
Menelisik Geliat Penjual Barang Antik Di Jl Khairil Anwar

Salah seorang penjual barang antik, Acong, memperlihatkan sejumlah koleksinya di kiosnya di Jl Khairil Anwar, Makassar, Rabu (12/9)

Laporan : A.FaisalTahir (ahmadfaisaltahir@gmail.com)

Salah seorang penjual barang antik, Acong, memperlihatkan sejumlah koleksinya di kiosnya di Jl Khairil Anwar, Makassar, Rabu (12/9)

RAKYAT SULSEL . Bagi pecinta dan kolektor barang antik serta mengandung nilai sejarah. Pasti mengenal pusat penjualan benda kuno dan bersejarah yang terletak di Jl Khairil Anwar, Makassar. Tempatnya sederhana, kecil, serta jauh dari kesan elit, tetapi jika kita menelisik kedalam, tempat ini menyimpan beragam benda antik, dan kuno peninggalan jaman kerajaan dan penjajahan dulu.

Tertarik melihat koleksi barang antik yang dijual di pasar yang terletak tidak jauh dari pusat kota metropolitan Makassar. Penulis mencoba melihhat langsung aktifitas pasar barang antik tersebut. Tepat pukul 15.00, Aktifitas kota ini masih terlihat padat, kendaraan yang lalulalang semakin menambah kepengatan ditambah matahari siang yang menyengat, membuat pori-pori kulit terasa panas.

Meski suasana kota yang menyengat tetapi semangat penulis untuk mengintai benda antik kian menggelitik, rasa penasaran itulah membuat semangat kian berkobar. Sekira 15 menit perjalanan yang ditempuh penulis, akhirnya lokasi pasar barang antik yang kelihatan loak itu terlihat. Setelah menelusuri sepanjang lorong pasar tersebut, rasa kagum melanda penulis, bagaimana tidak, jika toko kecil yang berjejeran panjang di Jl Khairil Anwar tersebut menyimpan benda-benda kuno bersejarah yang mamiliki nilai kebudayaan yang sangat tinggi.

Kebanyakan konsumen yang datang ke pasar ini adalah kolektor barang antik dan bersejarah, tidak hanya kolektor lokal, tapi juga dari berbagai penjuru di Indonesia, bahkan tidak jarang kolektor kelas dunia yang berasal dari negara asing khusus datang di pasar ini hanya untuk mencari koleksi benda kuno dan bersejarah. Adapun barang antik yang menjadi incaran dan buruan para kolektor diantaranya adalah, benda pusaka, lukisan antik, keramik, keris, uang kuno, tombak dan barang-barang lainnya yang merupakan benda peninggalan jaman kerajaan, dan penjajahan, bahkan banyak juga benda peningglana ratusan tahun lalu.

Ancong salah satu penjual barang antik, mengatakan, ia dan pedagang barang antik di Jl Khairil Anwar ini baru sekira lima tahunan, atau sejak 2007 lalu. Awalnya mereka berjualan di Jl Ir. Sutami, tetapi sejak tempat itu direnovasi, sebagian pedagang memilih pindah, karena tidak sanggup membayar biaya sewa kios yang sangat mahal. Akhirnya sebagian dari mereka yang merupakan penjual barang antik besar menetap karena sanggup membayar ongkos sewanya, dan sebagiannya pindah ketempat sekarang ia berdagang.

“Sejak masih di Jl Ir Sutami, mereka termasuk penjual barang antik besar, tetapi sejak di renovasi, komunitas penjual barang antikpun mulai terpisah, ada yang menetap, ada juga yang pindah ke Jl Khairil Anwar, dan Jl Somba Opu,” kenang Ancong, pada Harian Rakyat Sulsel, Rabu (12/9).

Ia melanjutkan, barang antik yang dijualnya, merupakan benda sepeninggalan kerajaan dulu dari kerajaan Gowa, kerajaan, Bone, Kerajaan Luwu, bahkan ada benda peningglan dari luar Sulawesi, seperti benda bersejarah dari Kalimantan, Papua, Bahkan dari luar negri seperti guci antik dari china, dan beragam benda peninggalan jaman penjajahan, Jepang dan Belanda.

“Adapun barang antik yang saya jual adalah, benda kuno peninggalan kerajaan besar dari Sulawesi, seperti, keris, tombak, guci, keramik dari cina, sulampa, kappara, ceret, uang kertas dan logam kuno. Semua benda ini merupakan hasil buruannya dari berbagai daerah,” ujarnya.

Ia mengakui kebanyakan pembelinya adalah kolektor dari dalam dan luar negeri, tetapi ada juga orang awam yang mencari benda-benda murah di tempatnya. Ia sangat menyukai Jika ada kolektor yang mengetahui dan memahami nilai historis dari benda antik jualannya, karena mereka sangat menghargaibenda tersebut dan tidak tanggung-tanggung membeli benda tersebut dengan harga yang cukup tinggi.

“Rata-rata langganan benda antik jualannya adalah kolektor yang sudah paham makna dan nilai historis dari benda antik tersebut, bahkan mereka berani membayar mahal,” ucapnya.

Selain kolektor dalam negri yang sering memburu benda antik miliknya, banyak juga kolektor dari luar negri seperti kolektor dari Jepang, China, Australia, dan Austria. “Jika kolektor asing langganannya datang ke Makassar, selalu ketempatnya hanya untuk memburu benda antik terbaru yang belum dimilikinya,” ucapnya.

Adapun harga benda antik yang dijualnya mulai dari Rp 1 juta bahkan ada yang mencapai ratusan juta rupiah. Tergantung dari nilai benda antik tersebut khususnya umur benda antik dan kualitas terawatnya benda tersebut. Semakin lama dan terawat benda antik tersebut maka semakin mahal pula harganya. Selain itu dinilai juga darimana asal benda antik tersebut serta dinilai juga dari sulit dan mudahnya menemukan benda tersebut.

“Benda antik yang saya jual beragam dan berfariatif harganya, tergantung nilai benda tersebut, seperti guci antik dari kerajaan china bisa bernilai ratusan juta rupiah, ada juga yang hanya berharga Rp 1 juta. Tetapi biasanya para kolektor tidak pernah mempermasalahkan harganya, tetapi mereka menilai benda tersebut dari unsur historisnya,” imbuhnya.

Setelah berdialog dan melihat beragam benda antik tersebut, rasa bangga dan kagum masih menyelimuti perasaan penulis. Ternyata benda berharga peninggalan sejarah dulu masih ada dan nyata, kepuasan tersebut terus berlabuh dalam kamar terdalam penulis hingga perlahan-lahan meninggalkan, pasar antik yang menggelitik sanubari setiap pasang mata yang melihatnya.

 


Tag
div>