MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Menembusi Daerah Terisolir, Yayasan Kemanusiaan Fajar Membawa Harapan

Reporter:

Editor:

Iskanto

Kamis , 11 Oktober 2018 08:22
Menembusi Daerah Terisolir, Yayasan Kemanusiaan Fajar Membawa Harapan

int

Sepekan lamanya, warga terdampak gempa bumi di wilayah Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah terisolir. Jalur transportasi masuk dan keluar wilayah itu terputus tidak kurang dari 10 kilometer. Rabu, 10 Oktober 2018, Yayasan Kemanusiaan Fajar berusaha menembusi wilayah itu mengantarkan bantuan bahan-bahan makanan dibantu relawan mahasiswa dari Fakultas Teknik, Universitas Muslim Indonesia, Makassar.

Fajar, Sigi – Tanah longsor menutupi badan jalan yang menghubungkan Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah dan Kulawi. Guncangan gempa 7,4 Skala Richter yang juga menghantam wilayah ini pada Jumat, 28 September 2018 merusak urat nadi transportasi barang dan jasa masuk dan keluar wilayah itu.

Praktis, tidak ada satupun bantuan logistik masuk ke wilayah ini sejak saat itu. Nantilah pada Sabtu, 6 Oktober 2018 setelah badan jalan berhasil dibersihkan dengan alat berat warga bisa keluar masuk wilayah ini dengan sepeda motor.

Jarak menuju wilayah ini paling jauh 100 kilometer. Ini terhitung dekat dari Kota Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, namun medannya yang sulit membuat perjalanan terasa lama. Apalagi longsoran juga pohon tumbang yang menutupi badan jalan belum semuanya dibersihkan. Tidak kurang 10 kilometer ruas jalan satu-satunya ke wilayahnya ini harus dilalui dengan ekstra hati-hati.

Sekitar satu jam setengah perjalanan dari Palu, Yayasan Kemanusian Fajar dengan Ali Imran Ramadhan, 25 tahun, relawan mahasiswa dari UMI Makassar bertemu dengan sejumlah warga yang menyarankan untuk tidak usah meneruskan perjalanan karena medan yang kami akan lalui sangat berbahaya. Namun akhirnya kami memutuskan untuk tetap berusaha menembusi jalur ini. Ali yang menjadi pengemudi mobil kelihatannya ahli menempuh medan-medan berat semacam ini.

Untuk diketahui, Fakultas Teknik UMI Makassar memang mengirimkan 18 relawannya untuk membantu misi kemanusiaan di Palu, Sulawesi Tengah. Ali adalah salah seorang di antaranya.

Akhirnya setelah lebih dua jam lamanya, kami berhasil mencapai Desa Makuhi, Kulawi di mana sejumlah warga tempatan dan yang selamat dari gempa memilih mengungsi. Ada sekira 41 kepala keluarga di wilayah ini. Selama sepekan mereka makan dengan cadangan makanan yang tersedia. Sementara bahan makanan harganya melangit. Kami menyimpan logistik di rumah salah seorang tetua warga untuk memudahkan distribusi. Bahan makanan yang kami bawa berupa mie instan, beras siap masak, kue-kue kering dan ada pula pakaian serta sarung dan selimut.

“Satu minggu tertutup jalan. Kami makan seadanya. Makanan mahal. Super mie naik seribu. Bensin sampai 30 ribu. Beras sampai enam belas ribu,” aku Roslin, 30 tahun, warga setempat yang sumringah menerima bantuan bahan makanan.

Abed Nego Ntowana, 40 tahun, pegawai Kementerian Agama Donggala yang tinggal di Palu berusaha membantu keluarganya yang terdampak dengan cara membawa masuk logistik ke wilayah ini dengan berjalan kaki pada pekan pertama sebelum jalan dibersihkan.

“Motor kami titip di Salua, lalu kami berjalan kaki menuju Sadaunta. Kami membawa makanan ala kadarnya takut keluarga kehabisan bahan makanan,” aku dia.

Ia dan warga setempat menyatakan terima kasihnya atas bantuan bahan-bahan makanan yang diantarkan Tim Yayasan Kemanusiaan Fajar. Saking mahalnya bahan-bahan pokok, mereka menyebut bantuan itu seperti harapan hidup. Beruntung kini, kata dia, jalan sudah berhasil ditembusi. Meski hanya bisa dilalui kendaraan kecil pengangkut logistik. Sehingga harga bahan-bahan pokok akan sedikit turun atau kembali normal.

Posko pengungsian yang didatangi Yayasan Kemanusiaan Fajar ini adalah salah satu posko yang lambat mendapat bantuan logistik. Itu karena mereka membuat posko mandiri di lingkungannya masing-masing. Berbeda dengan posko induk yang disiapkan atau difasilitasi pemerintah. Di posko semacam itu bantuan biasanya berlimpah.

Sebelumnya, karena terputusnya komunikasi selular tidak ada yang menyangka bahwa wilayah Kabupaten Sigi merupakan daerah terdampak gempa bumi. Barulah setelah komunikasi kembali lancar diketahui korban tewas di wilayah ini tidak kurang dari 222 orang.

Daerah yang paling parah terdampak adalah Desa Namo, Kecamatan Kulawi. Hampir 100 persen rumah permukiman warga di wilayah ini rata dengan tanah.

Saat ini secara umum, terhitung Rabu, 10 Oktober 2018, korban meninggal tidak kurang dari 2.065 jiwa. Jumlah pengungsi lebih dari 78 ribu jiwa. Mereka tersebar di beberapa wilayah Sulawesi hingga Kalimantan. Ada yang menetap di posko yang disediakan pemerintah. Ada pula yang mendirikan posko mandiri.

(Anita Anggriany Amier, Pimred Palu ekspres )


div>