JUMAT , 20 JULI 2018

MENGANCAM? TIDAK KEREN!

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 30 Januari 2016 12:00
MENGANCAM? TIDAK KEREN!

Haidar Majid

Ketika Pak Endre Cecep Lantara menunjukkan kepada saya sebuah link berita tentang seorang mahasiswa YAPMA Makassar yang konon “menjual diri” untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Pak Endre terlihat amat sedih. Wajahnya sedikit pucat. Saya bisa memahami kegetiran beliau. Bagaimana tidak, sekolah yang telah dirintis, dibangun dan dibesarkan oleh keluarga beliau, tercemari oleh berita itu.

Agak lama saya dan Pak Endre terdiam setelah membaca link tersebut. Tiba-tiba Pak Endre meminta persetujuan saya, “bang bagaimana kalau saya meminta teman-teman untuk mencari tahu kebenaran berita itu”, saya setuju. Pak Endre pun segera berinisiatif menghubungi beberapa teman yang bisa membantu melacak atau memvalidasi kebenaran berita yang dimaksud. Dan hasilnya sangat mencengangkan, berita itu sama sekali bohong alias HOAX alias fitnah.

Kronologi lahirnya berita bohong itu sendiri, lebih mencengangkan. Adalah sang penulis berita yang berhasrat hendak bertemu dengan perempuan yang diberitakan, telah mengeluarkan berbagai macam ‘jurus’ agar perempuan itu mau menemuinya. Karena perempuan itu tidak merespon dan mengabaikan kehendak dari si pembuat berita, maka langkah terakhir yang dilakukan oleh yang bersangkutan adalah “mengancam” untuk membuat berita tentang si perempuan itu dan si pembuat berita membuktikan ancamannya.

Luar biasa ‘nyali kebodohan’ si pembuat berita. Hasrat telah menaklukkan akal sehatnya. Dorongan untuk bertemu si perempuan telah membuatnya gagal memahami rasionalitas obyektif dalam memprediksi ekses atau dampak yang bisa ditimbulkan oleh konstruksi pemberitaan yang dibuatnya. Tak lagi memikirkan kerugian psikologis, baik untuk si perempuan itu sendiri, YAPMA sebagai tempat si perempuan menimba ilmu, etika dan moral yang tercederai di dunia pendidikan secara keseluruhan.

Apa yang dilakukan oleh si pembuat berita tentu tak bisa dibiarkan. Pertama, pemberitaan itu akan ‘mengganggu’ kenyamanan hidup dari si perempuan. Stigma “menjual diri” yang dilekatkan oleh si pembuat berita adalah penistaan. Kedua, pemberitaan ini juga mencemari tatanan yang telah dijaga dengan sangat baik oleh civitas akademika, mahasiswa dan alumni YAPMA. Ketiga, apa yang ditulis oleh penulis yang tidak bertanggungjawab itu juga menempatkan dunia pendidikan kita pada posisi yang sangat tidak nyaman.

Saya percaya bahwa sang penulis sebenarnya bukanlah seorang jurnalis. Dalam tata cara yang bersangkutan menulis, sangat jauh dari kaidah seorang pemberi kabar. Saya lebih melihatnya sebagai seorang penulis ‘imajiner’ yang menumpahkan kekesalan hati karena mimpinya tak kesampaian. Semacam pungguk merindukan bulan karena tak punya tangga.

Hanya saja, si penulis berita mungkin lupa atau karena energi alam fikirnya terlalu tersita oleh hasrat yang tak terkendali, sehingga yang bersangkutan tidak lagi memikirkan bahwa sesuatu yang telah ‘lepas’ ke dunia maya, tidak dapat ditarik lagi dan telah menjadi milik publik. Ketersinggungan seseorang atau se kelompok orang atas tulisan atau gambar bisa berbuntut panjang, apalagi jika bersoal di “harga diri”.

Reaksi yang lahir dari civitas akademika, alumni dan segenap keluarga besar YAPMA Makassar terhadap pemberitaan itu sangat bisa difahami. Se tahu saya, YAPMA selama ini adalah salah satu perguruan tinggi dengan kualifikasi terbaik, melahirkan perawat-perawat yang handal dan terserap di berbagai tempat di dunia kesehatan. Ini disebabkan oleh kurikulum yang mereka terapkan dan kedisiplinan mereka dalam menjaga norma dan etika mahasiswanya. Sehingga dengan lahirnya pemberitaan tersebut, tentu akan mencoreng kredibilitas yang telah dengan susah payah mereka bangun.

Pun dengan tata cara mereka mengecam, juga patut diapresiasi. Mereka sama sekali tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang destruktif. Tidak menutup jalan atau merusak sesuatu yang justru bisa menjadi masalah baru. Mereka fokus pada substansi masalah, yakni tidak mentolerir pemberitaan tersebut karena berita itu tak lebih dari bohong dan fitnah belaka, juga meminta kepada beberapa pihak yang berkompeten untuk mengambil tindakan proporsional untuk memberi efek jera kepada si pelaku.

Apa yang menimpa seorang mahasiswa YAPMA itu juga menjadi warning bagi kita semua, bahwa di era digital seperti sekarang ini, jangan pernah ‘bermain-main’ dengan dunia maya. Melampiaskan hasrat berlebihan dengan kata-kata atau gambar-gambar yang tidak beretika apatah lagi yang berbau fitnah akan menjadi bumerang yang mengejutkan. Tak pernah terduga bahwa goresan dan gambar yang kita unggah akan berbalik menjadi belitan masalah yang tak berujung.

Telah banyak contoh nyata yang terpampang di alam sadar kita, betapa banyak sudah orang yang bersoal hanya karena ‘postingan’ iseng semata. Terlebih jika ternyata postingan itu dilatari oleh upaya “mengancam”, tentu akan lebih pelik lagi akibatnya.

Saya juga tak habis fikir, kenapa masih ada orang yang menggunakan cara seperti itu untuk mengancam, apalagi hanya karena hasrat hendak bertemu. Padahal ada banyak upaya lain yang bisa dilakukan oleh yang bersangkutan untuk bisa merebut hati si perempuan. Pilihan mengancam sebenarnya adalah langkah paling buruk yang pernah saya tahu untuk urusan seperti ini, sekaligus menjustifikasi kalau yang bersangkutan sebenarnya tidak percaya diri dan tidak keren.


Tag
div>