SELASA , 11 DESEMBER 2018

Mengenal Calon Komisioner KPU Sulsel (1), Uslimin Menanam Nilai Integritas dari Profesi Jurnalis

Reporter:

Iskanto

Editor:

asharabdullah

Kamis , 05 April 2018 12:15
Mengenal Calon Komisioner KPU Sulsel (1), Uslimin Menanam Nilai Integritas dari Profesi Jurnalis

Divisi Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, serta Hubungan Antar Lembaga Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel, Uslimin. (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Tim Seleksi (Timsel) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel sudah merampungkan tahapan seleksi calon komisioner KPU Sulsel. Hasilnya, sebanyak 14 nama calon anggota KPU Sulsel periode 2018-2023 dinyatakan lolos dan nama-namanya telah dikirim ke KPU RI di Jakarta, untuk ditetapkan menjadi tujuh anggota KPU Sulsel.

Dari 14 nama yang lolos, satu diantaranya berlatar belakang jurnalis. Dia adalah Uslimin. Kiprahnya dalam dunia jurnalistik sudah tidak diragukan lagi. Berbekal pengalaman dan kompetensi yang dimiliki, ia membuktikan bahwa seorang kuli tinta sekalipun layak menempati posisi pada jajaran penyelenggara pemilu.

Memulai karir sebagai seoarang jurnalis pada tahun 1993 menjadi awal Usle, sapaan karibnya, untuk mengenal lebih banyak tokoh dan kalangan masyarakat. Mulai dari wartawan surat kabar kampus, surat kabar mingguan, hingga wartawan majalah telah ia cicipi dan rasakan.

Berbagai posisi pada media surat kabarpun telah ia duduki. Seperti koordinator liputan hingga pimpinan redaksi. Bahkan, tidak jarang profesinya sebagai seorang jurnalis membawanya untuk meliput kejadian-kejadian yang boleh dikatakan cukup berbahaya. Seperti pengalamannya meliput konflik di Poso pada 2003 silam.

Selain berkiprah di dunia jurnalistik, pria kelahiran 13 September 1972 ini juga membangun karirnya dengan berorganisasi. Puluhan organisasi pun telah ia masuki dan menempati jabatan-jabatan yang sangat strategis. Seperti Ketua Departemen Informasi dan Komunikasi DPP Permas 2015-2016.

Berkat itupula, tidak kurang dari puluhan penghargaan berhasil ia sabet. Diantaranya, Jurnalis Terbaik Tim Media Center Haji Musim Haji 2013 oleh Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama RI, Jakarta Desember 2013.

Tidak sampai disitu, sebagai seorang yang telah berkiprah di dunia jurnalistik lebih dari 15 tahun, Usle menghadirkan sejumlah karya tulis bukunya. Diantaranya, buku Konflik Poso; Meliput Dua Sis pada 2003, KPU Sulsel Tepis Badai pada 2007, Siap Menang, KPU Sulsel di Antara Kekuatan Pilkada 2007 pada tahun 2008 dan yang terakhir Menjemput Cahaya Hidayah pada tahun 2013.

Dalam pernyataannya, ayah tiga anak ini mengatakan bahwa setiap manusia dalam bertindak selalu dipengaruhi oleh orang lain, baik tindakan buruk atau baik dalam menyelenggarakan pemilu adalah pernyataan yang kurang bagus.

Ini merupakan bentuk intervensi orang lain dalam mengambil keputusan. Atau dengan kata lain yang bersangkutan dikendalikan oleh orang lain. Anggota KPU baik provinsi maupun kabupaten tentu tidak boleh demikian. Setiap komisioner KPU harus steril dan bersih dari pengaruh-pengaruh luar termasuk dari orang dekat sekalipun.

“Pihak-pihak yang mesti menjadi mitra dan mendukung KPU adalah civil society atau masyarakat, pers, kalangan kampus, dan organisasi nonpemerintah. Mereka senantiasa memberi masukan dan kritik terhadap kinerja KPU dan upaya menghadirkan pemilu yang demokratis dan berkualitas,” kata dia.

Menurutnya, agar terpilih menjadi anggota KPU Sulsel, tentu mengikuti seluruh rangkaian tahapan seleksi yang sudah ditetapkan tim seleksi. Di samping itu berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar senantiasa diberi kemudahan dalam mengikuti seluruh rangkaian seleksi.

Jika kelak terpilih menjadi anggota KPU, strategi yang ia lakukan untuk menghindari intervensi adalah berpegang teguh pada nilai-nilai integritas yang selama ini sudah ia terapkan selama menjadi jurnalis.

“Keluarga dan teman memang kerap menjadi tempat curhat. Tetapi alhamdulillah selama ini mereka tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada saya. Saya lebih banyak mendengar kata hati nurani saya dibanding mendengar masukan dari orang lain yang kerap memiliki kepentingan terselubung,” jelasnya.

Ia sendiri tertarik dengan kepemiluan sejak menjadi jurnalis di Harian Fajar, 1997. Sebab begitu diterima jadi jurnalis, ia ditempatkan di desk politik yang di dalamnya juga terkait penyelenggaraan pemilu. Posisi sebagai redaktur politik selama enam tahun lebih juga banyak memberi pengalaman dan wawasan tentang kepemiluan. (*)


div>