KAMIS , 18 OKTOBER 2018

Menghargai Perbedaan – Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part VII

Reporter:

by Ahmad M. Sewang

Editor:

Nunu

Selasa , 20 Maret 2018 12:21
Menghargai Perbedaan – Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part VII

Sarapan pagi di hotel Swiss Maqam Zamzam

Di antara yang saya sharing pada jamaah Ujas Tour di Madinah ketika diminta memberi tausiah adalah “Jika ada orang alergi perbedaan, sebaiknya pergi umrah atau haji dulu melihat pemandangan di Masjid Haramen.” Di sana akan menemukan aneka ragam perbedaan budaya, bangsa, bahasa, cara berpakaian, warna kulit, bahkan cara ibadah yang berbeda berdasarkan pemahaman atau mazhab yang jadi ikutannya. Perbedaan itu harus disikapi dengan toleransi sepanjang sebatas furuiyah. Persis yang selama ini disuarakan IMMIM dalam mottonya, “Bersatu dalam akidah (usul) dan toleransi dalam furuiyah khilafiyah.” Akidah di sini diartikan masalah usul atau menyangkut hal pokok dalam Islam: seperti Keesaan Allah, Kenabian Muhammad, keberadaan al-Quran atau yang tersimpul dalam rukun Iman dan Islam. Salat sebagai salah satu rukun Islam yang bersifat usul, tidak boleh dinafikan sebagai satu kewajiban. Tetapi, implementasi dari dari salat memungkinkan munculkan perbedaan, seperti menjaharkan basmala dalam salat atau mensirrikannya. Hal itu berasal dari pemaham yang disebut furu.

Pengalaman pribadi di Masjid Madinah al-Munwawwarah, ketika salat subuh sedang berlangsung, seorang anak kecil di atas keretanya, mainannya terjatuh dan bergelinding persis di depan tempat sujud saya. Orang tuanya yang sejajar berdiri dengan saya mengambil mainan itu dan menyerahkan pada anak itu yang dilakukan saat rukuk, kemudian ia melanjutkan salatnya. Apakah saya harus menegur bahwa salat orang tua tadi batal? Saya harus menyikapi dengan toleransi, karena ia menganalogikan terhadap sunah Nabi terhadap cucunya.

Pemandangan lain yang bisa disaksikan di Saudi, seperti dituturkan keluarga yang berwarga negara di sana bahwa jumlah rakaat tarawih di Masjid Haram Mekah 20 rakaat, sedang di Masjid Nabi ada yang sampai 36 rakaat. Di luar kedua Masjid Haramaen rata-rata delapan rakaat. Perbedaan ini tidak bisa dipaksakan untuk disatukan. Pada hal di sana menyimpan berlemari-lemari kitab. Mereka sadar bahwa rakaat tarawih adalah masalah furu yang harus disikapi dengan tasamuh. Saya menyaksikan pemandangan langsung setelah takbir, di antara jamaah ada yang melipat tangan dan ada pula yang melepaskan ke bawah. Sebenarnya, banyak contoh lagi yang saya saksikan di Masjid Haram. Tetapi, contoh itu sudah cukup bahwa perbedaan tidak bisa dihindari.

Namun, menurut pendapat saya bahwa seharusnya masyarakat Saudi lebih toleran menyikapi perbedaan karena setiap hari mereka menyaksikan perbedaan itu diperagakan di Haramaen. Tetapi, banyak yang bertanya kenapa dalam kenyataan di Saudi justru yang terjadi sebaliknya. Menjawab, pertanyaan tersebut perlu bahasan khusus. Ruangan ini terbatas untuk menganalisanya.

Sesuatu yang pasti bahwa perbedaan tak terhindarkan sebab manusia diciptakan dalam perbedaan, antara laki dan wanita. Dilahirkan di tanah air yang multi cultur: Suku, agama, dan warna kulit. Jadi perbedaan sudah menjadi takdir Allah, orang yang tidak ingin berbeda tidak pantas dia lahir di dunia ini.

Pelajaran yang bisa diambil:

Siapapun yang selalu ingin memaksakan pendapatnya bahwa hanya dia yang benar yang wajib diikuti, hendaknya datang menyaksikan pemandangan di Masjid Haramaen. Pelaksanaan ibadah saja bisa timbul ikhtilaf apalagi budaya. Semoga dengan menyaksikan itu akan menimbulkan kesadaran baru untuk menghargai setiap perbedaan.

 


Tag
  • ujas tour
  •  
    div>