Raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura Ke-14 Menguak Makam Sultan Aji Muhammad Idris Di Wajo | Rakyat Sulsel
  • Jumat, 31 Oktober 2014
Iklan | Epaper | Redaksi | Citizen Report

Menguak Makam Sultan Aji Muhammad Idris Di Wajo

Kamis , 05 Juli 2012 13:47
Total Pembaca : 1104 Views
MAKAM SULTAN ADJI MUHAMMAD IDRIS YANG BERADA DIKOMPLEKS MAKAM LAMADDUKKELLENG SENGKANG

Baca juga

Raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura Ke-14

 

Penulis: Abdul Muis

Editor: Adam Djumadin

 

MAKAM SULTAN ADJI MUHAMMAD IDRIS YANG BERADA DIKOMPLEKS MAKAM LAMADDUKKELLENG SENGKANG

RAKYAT SULSEL . Jika berkunjung ke Taman Makam Pahlawan (TMP), Kabupaten Wajo, anda akan melihat dua makam yang sangat menonjol. Dua makam tersebut terlihat gagah diantara makam-makam yang lainnya, salah satu makam itu milik Pahlawan Nasional Raja Lamaddukelleng, yang wafat tahun 1765. Makam yang satunya milik siapa?, mari kita menguak sedikit sejarah dari makam itu.

Sekitar tahun 1732-1739, seorang Sultan dari kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Adji Muhammad Idris, yang menjadi Sultan ke-14 dikerajaan tertua di Indonesia ini, dikabarkan datang ke Wajo untuk membantu Raja Wajo Lamaddukelleng, mengusir kolonial Belanda.

Sultan Aji Muhammad Idris menikahi salah seorang putri, buah pernikahan dari Raja Lamadukelleng dengan Ratu Andeng Ajeng, bernama, Aji Putri Agung. Inilah yang membuat Sultan Aji Muhammad masuk dalam TMP Wajo, dikarenakan dirinya merupakan mantu dari Raja Lamaddukelleng yang turut berjuang di Sulawesi selatan.

Menurut Sejarawan dan Budayawan Wajo, Sudirman Sabang, pada tahun 1736, Sultan Aji Muhammad datang ke Peniki, Wajo, bersama 200 prajuritnya untuk membantu Raja Lamadukelleng, umumnya Sulawesi, dari penjajahan kolonial Belanada.

“Saat itu, Lamaddukelleng yang pasukan armada lautnya sangat ditakuti pihak Belanda pada abad XVII di perairan Indonesia Timur, perairan Filipina dan Selat Malaka, terdesak oleh serangan Belanda. Sultan Adji Muhammad Idris, kemudian meninggalkan tahtanya di Kutai dan datang ke Wajo tahun 1739, bersama pasukannya untuk membantu perlawanan terhadap kolonialis Belanda di Sulawesi Selatan,” ujar Sudirman.

“Sultan Adji Muhammad Idris terluka ketika melakukan penyerangan terhadap Belanda di Makassar, lalu dibawa kembali ke Wajo, kemudian wafat serta dimakamkan di kampung halaman mertuanya, itulah pemilik salah satu makam yang besar itu,” urainya.

Sultan Adji Muhammad Idris, kemudian tercatat dalam catatan lama di Sulawesi Selatan, dengan gelar, Darise Daenna Parasi Petta Kutai Petta Matinro ri Kawanne.

Dalam seminar sejarah yang sudah dilakukan beberapa kali oleh Pemerintah Kabupaten Kutai kartanegara, termasuk yang dilakukan di Kota Makassar menghadirkan narasumber sejumlah sejarawan nasional, disimpulkan perjuangan Sultan Kutai Sultan Adji Muhammad Idris, sangat layak ditetapkan juga sebagai Pahlawan Nasional.

“Satu-satunya Sultan yang rela meninggalkan tahta kerajaan di Kutai untuk berjuang lintas daerah melawan kolonialis Belanda, itu adalah beliau. Suatu sikap nasionalisme yang tinggi telah diperlihatkan Sultan Adji Muhammad Idris pada masanya. Sayangnya, usulan menjadikan Sultan Kutai ke-14 ini untuk menjadi Pahlawan Nasional belum juga tarsahuti oleh pemerintah pusat,” tutup Sudirman.

Makam Sultan Adji Muhammad Idris Raja Kutai ke 14, berada dalam kompleks Kuburan Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng tersebut, kini masuk cagar budaya dan merupakan salah satu benda purbakala yang menjadi potensi wisata di Kabupaten Wajo. (*/D)