KAMIS , 14 DESEMBER 2017

Mengukur Kualitas Kandidat di Pilgub Sulsel

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Kamis , 30 November 2017 11:49
Mengukur Kualitas Kandidat di Pilgub Sulsel

Ilustrasi

Dukungan Parpol versus Independen, Siapa Kuat?

 

KEMUNCULAN calon kepala daerah dari jalur independen menjadi kekhawatiran bagi sejumlah calon partai politik. Namun langkah ini dinilai bisa menjadi momentum perbaikan sistem pencalonan di internal partai politik.

Calon independen adalah jalur alternatif untuk maju di pemilihan kepala daerah, jika tidak mendapatkan dukungan dari partai politik. Lantas seperti apa kualitas calon independen dibandingkan dengan calon yang diusung oleh parpol?

Jika kita berusaha membandingkan kualitas kepemimpinan yang berasal dari jalur parpol dan independen, tentu saja akan sulit menentukan variabelnya, karena keduanya sangat bergantung pada faktor pemimpinnya itu sendiri. Namun, pilihan kandidat independen ikut menjawab tantangan masyarakat yang melihat masih banyak kader partai yang tidak berhasil menunjukkan kinerja memuaskan.

Selain itu, beberapa kali oknum pejabat yang berasal dari partai tertentu juga terlibat korupsi menambah keraguan publik. Maka dari itu, opsi kandidat independen diharapkan mampu menjawab beberapa alasan-alasan tersebut dan bukan hanya sekedar pilihan alternatif semata.

Pakar politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Haris, mengatakan, tidak dipungkiri peluang menang kandidat dari jalur partai politik lebih besar ketimbang independen. Karena, partai politik tentunya memiliki struktural kepartaian yang jelas dan tertata. Sehingga, bagi kandidat yang maju jalur parpol lebih berpeluang.

“Saya kira tidak, tetap bagaimanapun juga peluang jalur parpol itu lebih besar ketimbang jalur independen. Alasannya, partai politik itu jelas massa pendukungnya, independen tidak. Apalagi kita tidak tahu bagaimana kandidat mengumpulkan KTP untuk dapat maju jalur independen,” kata Andi Haris, Rabu (29/11) kemarin.

Meskipun begitu, kata Andi Haris, kandidat yang maju jalur independen juga tidak bisa di pandang sebelah mata. Apalagi, kalau kandidat yang maju dari jalur perseorangan tersebut adalah sosok yang disenangi serta dikagumi oleh masyarakat.

“Tetapi bukan berarti peluang independen itu tidak ada tetap ada, tetapi dari segi teoritik itu jelas jalur parpol itu lebih berpeluang. Tetapi memang jalur independen juga tergantung dari kandidatnya, apakah dia memiliki track record yang bagus dan punya nilai tersendiri di masyarakat, itu sudah pasti jelas,” jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, kalau kandidat yang maju jalur independen juga mendapat dukungan dari parpol. Seperti beberapa kasus yang terjadi yakni parpol bukan menjadi pengusung namun pendukung, karena kandidat lebih memilih jalur independen.

“Sebetulnya fenomena itu relatif baru ditengah masyarakat kita, karena bagaimanapun juga kesan di masyarakat kandidat yang maju jalur independen tidak ada partai yang mendukung. Tetapi kalau ada partai yang mendukung, meskipun tidak secara formal saya kira itu menambah pelunagnya lebih besar,” tuturnya.

Lantas bagaimana dengan kepala daerah yang berasal dari jalur parpol dan independen? Andi Haris menjelaskan hal itu kembali lagi tergantung dari pribadi masing-masing. Apakah mampu mengemban amanah yang diberikan secara bijak atau justru malah sebaliknya.

Sementara, pakar politik dari Univeraitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono, menuturkan, baik jalur independen maupun jalur parpol sama baiknya. Partai politik tidak perlu juga terlalu paranoid terhadap fenomena itu. Justru idealnya, parpol harus bersyukur mendapatkan pembelajaran politik yang penting sekali terkait dengan fungsi rekrutmen politik yang selama ini mereka praktekkan.

“Terkait kualitas calon independen versus calon parpol, saya kira sangat bergantung dari persiapan dan ketangguhan tim berstrategi, selebihnya sama saja. Kan yang daftar perseorangan sudah mencoba daftar parpol juga,” imbuhnya.

Terpisah, Guru Besar Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Dr Muhammad Jufri, memiliki pandangan jika jalur untuk demokrasi independen lebih baik, karena didasari persetujuan rakyat, bukan segelintir parpol. Jalur independen dan partai, sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Hanya, jika independen sudah tentu diukur kualitas pilihan dan keinginan rakyat.

“Demokrasi yang ideal adalah persetujuan didorong oleh koalisi rakyat. Karena selama ini adalah parpol berkehendak. Kalau jalur parpol tentu atas keinginan elit parpol,” demikian dekan fakultas Psikolog UNM ini,” ujarnya.

Menanggapi kondisi ini, Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Abdillah Nasir berpendapat, sebagai politisi tentu harus mengedepankan jalur pantai. Apalagi, demokrasi mengatur jika momentum pilkada jalur partai menjadi salah satu kendaraan demokrasi yang diatas dalam konstitusi.

“Tentu ada jalan lain, akan tetapi merujuk pada konstitusi menghendaki parpol sebagai kendaraan berdemokrasi,” pungkasnya. (*)


div>