JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Menolong Diri Sendiri

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 22 April 2016 10:44
Menolong Diri Sendiri

Armin Mustamin Toputiri

BEPERGIAN dengan berkendara pesawat terbang, agar melintas lebih cepat sampai ke tempat tujuan, sebuah kebutuhan yang niscaya. Tak mungkin bisa dielak. Tapi di tiga bulan terakhir, setiap kali punya rencana untuk terbang menuju tempat yang maunya dituju, perasaan saya malah sebaliknya mengelak. Jantung saya, berdenyut lebih cepat. Seratuskali lipat dibanding sebelumnya. Keringat dingin mengucur. Mengalir deras membasahi seluruh batang tubuh.

Sebab itu, beberapa kali saya memilih membatalkan tiket penerbangan yang sudah terbayar dan terdaftar dalam kursi jadwal terbang. Sekalipun, harus ditebus dengan potongan denda bayaran yang mestinya tak perlu terjadi. Apa boleh buat. Itulah risiko dari konsekuensi logis. Bahkan beberapakali, tiket saya hangus percuma. Suatu kali, saat berencana terbang bersama petinggi Sulsel, saya memilih “escape” dari bandara. Menyelinap pulang ke rumah.

Sejauh itulah “penyakit” yang tengah menjangkiti saya di tiga bulan terakhir. Tak lain karena saya sedang didera trauma psikologis tingkat tinggi, setelah sebelumnya, ikut mendampingi sekian pucuk pimpinan sipil dan militer di Sulsel, terbang dengan pesawat berbadan kecil 16 seat, berbaling-baling dua. Dari Makassar menuju ibukota salah satu kabupaten di Sulsel. Di saat terbang menuju ke tempat kunjungan kerja, suasana masih riuh, canda, tawa dan selfi.

Ketika sore hari, terbang pulang ke Makassar, penerbangan dihadang awan tebal dan gelap. Deras hujan dan tiupan angin kencang. Akibatnya, pesawat jadi tergucang, tiada tentu arah. Berulangkali, seketika terhempas ke samping. Bahkan tiba-tiba terhempas jatuh, cukup jauh menuju arah bawah. Atau, sesekali pesawat dipaksa menukik ke atas, menghindar dari aral awan tebal. Penerbangan sejatinya hanya sejam, sudah lebih. Bahan bakar mulai jadi soal.

Sungguh, sebuah kisah penerbangan yang mencekam. Dan Alhamdulillah, lantunan puja dan puji do’a yang tiada henti dilafadz, Allah SWT menghadirkan belas kasih dan sayangNya. Dan pesawat mendarat dengan selamat. Namun trauma ditinggalkan, berbekas cukup dalam. Itu sebab, di tiga bulan belakangan, setiapkali berencana terbang, sekujur tubuh saya gemetar. Saya mengutuk diri sendiri, sebab banyak urusan terhalang. Bahkan sekian menjadi buyar.

Akibat dera trauma tingkat tinggi, sekian kerabat menyarankan saya untuk bekonsultasi ke psikolog, tetapi tidak pernah terkabul, hingga suatu hari, saya duduk mengopi bersama dua sahabat saya yang sama-sama di beberapa bulan lalu mengikuti pilkada di daerahnya. Yang satu terpilih, tapi yang satu lagi tak beruntung. Yang kalah, mengaku stress. Tapi yang mujur, saat kalah dalam pilkada sebelumnya, mengaku juga menghadapi kondisi yang sama, stress.

[NEXT-RASUL]

Saya tanyakan, apa obatnya menghilangkan stress. Dijawabnya, perjalanan waktu yang akan mengikisnya. Tapi Bupati tepilih itu mengingatkan, juga harus punya tekad, mau melupakan kekalahan. “Sebab tidak seorang pun yang dapat menolong kita keluar dari perasaan stress, selain diri kita sendiri”. Saya menyimak dan mencerna baik kalimat itu. Seiring waktu, pekan lalu, saya memberanikan diri. Ikut terbang ke Jakarta. Saya coba menolong diri saya sendiri. (*)


div>