RABU , 19 DESEMBER 2018

Menuju Pemilu Legislatif 2019, Peluang Politisi Pindah Partai Terbuka Lebar

Reporter:

asharabdullah

Editor:

Rabu , 18 April 2018 10:15
Menuju Pemilu Legislatif 2019, Peluang Politisi Pindah Partai Terbuka Lebar

ilustrasi

Politisi pindah partai diprediksi akan meramaikan Pemilu 2019. Selain munculnya partai politik (parpol) baru, peluang politisi pindah parpol akan bermunculan jelang pendaftaran calon legislatif sangat terbuka. Mengingat, masih ada parpol yang terbelah atau dua kubu.

Pengamat politik yang juga akademisi Universitas Hasanuddin, Andi Haris, menilai, politisi pindah partai sangat terbuka jelang pendaftaran caleg. Terutama, untuk partai yang pecah kubu, dipastikan akan sangat berdampak terhadap caleg tersebut. Sebab, mereka sama-sama mendukung satu partai, tetapi calegnya yang berbeda.

Namun menurutnya, fenomena tersebut sah-sah saja, karena tidak ada aturan yang melarang hal tersebut. Persoalan yang kemudian akan muncul di masyarakat, adalah kesan jika caleg tersebut merupakan orang yang tidak komitmen.

“Sebenarnya itu wajar dan sah-sah saja. Hanya saja, para politisi yang hengkang tersebut harus mampu menjelaskan kepada masyarakat alasan kepindahan mereka jika tak ingin dinilai tidak konsisten. Sebab, yang namanya partai politik pada dasarnya memiliki tujuan dan fungsi yang sama untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ujarnya, Selasa (17/4) kemarin.

Dikatakan, seorang kader partai politik itu idealnya tidak menggampangkan pindah-pindah partai. Seorang kader partai itu, apapun yang terjadi dipartainya tidak akan meninggalkan partainya. Karena jika menggampangkan pindah partai, tentu saja publik akan mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka cari.

“Disinilah letak kegagalan partai politik di Indonesia. Kader partai yang telah melalui berbagai pengkaderan yang bisa jadi telah bertahun-tahun, akan sangat gampang hengkang begitu saja. Dan parahnya ini kebanyakan terjadi di tataran elit partai sendiri. Tentu publik akan bertanya-tanya apa yang sebenarnya mereka cari? Memperjuangkan kepentingan masyarakat atau sekedar alat untuk mencari kekuasaan,” terang Andi Haris.

Berkaitan dengan alasan peluang caleg yang mungkin tidak bisa bersaing dengan kader senior di partai atau persaingan antara parpol lama dan parpol baru di Pemilu Legislatif 2019, menurut dia, kader senior atau baru, baik dari partai baru maupun lama, memiliki peluang yang sama. Sebab, yang menjadi inti dari pencalegan saat ini adalah kinerja caleg itu sendiri.

“Kalau caleg saat ini orientasinya bukan kepada partai, tapi suara. Partai bukan menjadi bagian terpenting untuk pencalonan. Yang paling penting caleg itu bekerja,” imbuhnya.

Bagaimanapun, kata dia, saat ini partai tidak bisa mendudukkan calegnya di parlemen, jika caleg itu tidak berusaha. Wajar, jika saat ini banyak kader yang keluar dari partai karena dianggap partai tersebut tidak bisa memberikan kontribusi.

“Kalau caleg itu bekerja keras, akan sulit berorientasi dengan partai. Intinya kembali kepada caleg itu sendiri, caleg harus bekerja keras. Juga jika caleg tidak memiliki basis, artinya tidak bisa berbuat apa-apa. Baik di partai lama dan baru, sama-sama memiliki peluang, apalagi partai baru juga sudah mulai terpublis,” jelasnya.

Meskipun partainya lama dan calegnya tidak bekerja keras, akan menjadi berat jika melawan partai baru tapi calegnya bekerja keras.

“Saya berharap partai itu bisa memberikan peluang seluas-luasnya kepada caleg untuk bekerja keras. Jangan menunggu popular. Caleg yang baik itu, caleg yang bekerja untuk partai. Itu yang paling penting. Karena mengabdi untuk rakyat tiak harus duduk di parlemen,” kuncinya.

Sebelumnya, sejumlah partai politik (parpol) mulai mempersiapkan figur untuk bersaing meraih kursi parlemen di Pemilu 2019. Dari daftar caleg sementara yang dihimpun, persaingan caleg DPR RI di semua dapil di Sulsel berpeluang perang bintang. Selain didominasi petahana, parpol juga menyiapkan figur baru yang memiliki nama. (*)


Tag
  • pemilu 2019
  •  
    div>