JUMAT , 14 DESEMBER 2018

Menyoal Fasum, Danny Geram GMTD Lawan Pemerintah

Reporter:

Editor:

Iskanto

Rabu , 19 September 2018 07:41
Menyoal Fasum, Danny Geram GMTD Lawan Pemerintah

Walikota Makassar, Danny Pomanto memberikan keterangan kepada awak media

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Danny Pomanto dibuat geram oleh PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD). Bagaimana tidak, lahan Fasilitas Umum (Fasum) yang harus diserahkan sebanyak 30 persen dari total lahan hanya diserahkan secara bertahap.

Padahal, menurut undang-undang pihak pengembang mewajibkan menyerahkan fasum  sepenuhnya bukan secara bertahap seperti yang diinginkan PT GMTD.

“Tidak boleh dia (GMTD) semau-maunya dia serahkan apapun. CPI belum beroperasi saja sudah mau serahkan 3,3 hektar, sementara ini (GMTD) sudah 18 tahun tidak ada satupun dia serahkan (ke Pemkot),” ujar Danny Pomanto, Selasa (18/9)

Kata Danny, seyogyanya kemarin (selasa, 18/9) PT GMTD menyerahkan aset berupa fasum ke Pemerintah Kota untuk pelebaran jalan di sekitar jalan metro tanjung bunga-jalan penghibur. Namun, Ia menolak lantaran GMTD tak mau memberikan secara penuh 30 persen lahan fasum tersebut.

“Hasilnya saya tolak tadi sebelum diserahkan semua yang ada disitu,” ungkapnya

“Saya pikir ini sama dengan mempermainkan pemerintah kalau begini, sementara ini untuk kepentingan kemacetan disitu dan itu adalah jalan yang dulu dipagari oleh GMTD,” lanjutnya

Danny menambahkan, pihaknya mengancam akan membawa perihal penyerahan aset fasum ke ranah pidana, jika dalam waktu dekat PT GMTD tidak menyerahkan sepenuhnya ke Pemerintah Kota.

“Saya kasih waktu, kalau tidak saya permasalahkan hukumkan itu, pokoknya minggu ini (diserahkan),” ungkapnya

Sementara, Komisioner GMTD, Iskandar Lewa mengatakan, dirinya menjembatani persoalan antara pemerintah kota dengan pihak GMTD, terkait bagaimana mengatasi persoalan kemacetan yang kerap terjadi dipersimpangan jalan Metro Tanjung Bunga-Penghibur-H Bau.

“Permasalahan inikan yaitu kemacetan yang sering timbul disitu (Metro Tanjung Bunga), baik dari arah Jalan H Bau maupun dari arah keluar (Metro ke Penghibur). Makanya, saya selaku komisaris menjembatani bagaimana kepentingan masyarakat bisa singkron dengan kepentingan pengembang,” kata Iskandar.

Kata Iskandar, sejatinya penyerahan aset sudah diagendakan saat pertemuan kemarin. Hanya saja, agenda tersebut berubah haluan ketika pihak GMTD belum bisa menyerahkan aset fasum fasos secara penuh kepada pemerintah kota.

Ia menyebutkan, kemarin GMTD hanya bersedia menyerahkan aset fasum fasos seluas 4800 meter persegi. Hanya saja, Danny ingin agar lahan 8000 lebih meter persegi bisa diserahkan secara penuh kepada pemerintah kota.

“Pihak GMTD sebenarnya sudah mau menyerahkan yang 4800 meter persegi, tapi kita (pemerintah) tidak mau karena kapan kita laksanakan (bangun) jadi temuan di BPK. Kita sudah aspal, jadi harus dulu ada penyerahan,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, pihak GMTD kembali meminta waktu lantaran harus melakukan koordinasi bersama dewan komisaris dan direksi sebelum mengambil keputusan.

Namun, jika sampai waktu yang telah ditentukan GMTD belum juga menyerahkan aset ke pemerintah kota maka, Iskandar secara tegas menyatakan akan mundur sebagai komisaris GMTD.

“Tapikan permasalahan macet ini, masyarakat tidak mau tahu apa alasan kita, inilah dilemanya kita selaku pemerintah. Besok (hari ini), kita lihat bagaimana kebijakan yang diambil oleh pihak GMTD,” tuturnya.

“Kalau sampai besok (hari ini) tidak ada hasil saya mundur sebagai komisaris. Karena saya merasa tidak memiliki fungsi bagi pemerintah kota yang menempatkan saya selaku komisaris GMTD, dan saya tidak bisa padukan kepentingan masyarakat dengan pihak pengembang,” tambahnya.

Terpisah, Associate Director PT GMTD Tbk, A Eka Firman mengaku tak ingin berkomentar banyak perihal penyerahan aset GMTD ke pemerintah kota. Jelasnya, pihaknya tetap mendukung program pemerintah kota.

“Saya belum bisa berkomentar lebih jauh karena masih dalam proses. Yang jelasnya kita dukung dan tetap mensupport program pemkot. Cuma kami ingin menjalankan mekanisme yang betul. Besok (hari ini) kita umumkan kebijakannya,” ucapnya

Diketahui, pemerintah kota rencananya tahun ini melakukan pelebaran jalan serta memperbaiki jalan di persimpangan jalan Metro Tanjung Bunga РPenghibur РH Bau, hanya saja jalan itu belum bisa diperbaiki lantaran masih menjadi aset GMTD. Total luas lahannya sekitar 8000 meter persegi, lebih dari 4800 meter persegi yang saat ini sudah menjadi jalan, dan sekitar 2500 lebih meter persegi yang sementara dipagari. (*)


div>