RABU , 14 NOVEMBER 2018

Metodologi Pembebasan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 25 April 2017 10:14
Metodologi Pembebasan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Kebebasan dan kemerdekaan merupakan salah satu di antara sekian hal yang menjadi dambaan dan keinginan setiap orang. Namun demikian manusia seringkali membuat sekat-sekat yang memenjarakan dirinya dalam kehidupan. Sekat-sekat yang dimaksud adalah egoisme, kerakusan, popularitas, harta benda dan jabatan serta berbagai hal yang sifatnya sangat sementara. Karena dalam diri setiap orang terdapat daya nabati, daya hewani, daya insani dan daya rohani.

Siapa saja yang membiasakan diri bangun di malam hari dalam suasana tenang penuh keheningan kemudian memikirkan dan merenungkan apa makna dan tujuan hidup, niscaya akan memperoleh kecerdasan spiritual yang semakin tajam serta bijak dalam menyikapi kehidupan. Bagi mereka yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, akan mampu mengendalikan diri dalam gejolak kehidupan yang tidak menentu dan tidak bersahabat karena kedekatannya dengan kasih Tuhan. Salah satu cara yang paling efektif untuk memperoeh kecerdasan spiritual adalah membiasakan diri bangun malam untuk berzikir dan merenungkan makna dan tujuan hidup sambil memohon bimbingan dan petunjuk Tuhan.

Karena kedekatan dengan Tuhan sebagai sumber keagungan dan kesucian, tentu akan melahirkan pikiran, perkataan dan tindakan yang tenang, mantap dan jernih. Sangat berbeda dengan mereka yang dikendalikan oleh energi negatif, pikiran dan hatinya senantiasa dipenuhi oleh perasaan iri dan dengki, tidak bahagia melihat orang lain sukses dan senang melihat orang susah.

Muhammad SAW. mengajarkan metodologi pembebasan dari segala bentuk kungkungan yang dapat merampas kebebasan dan kemerdekaan dalam hidup. Metodologi pembebasan itu berupa salat, yang diperoleh nabi dalam peristiwa mikraj. Karena itu, salat yang dilakukan dengan benar dan penuh penghayatan akan membebaskan pelakunya dari obyek-obyek kecintaan dunia yang sifatnya sementara. Kesadaran dan orientasi hidup semakin tinggi dan menyeluruh sehingga tercipta kepribadian yang dapat membedakan obyek kehidupan yang sejati dan yang palsu, kebahagiaan yang abadi dan semu, antara yang halal dan yang haram.

Pesan isra dan mikraj sangat relevan bagi siapa saja yang ingin memperoleh pencerahan hati dan pikiran, keluar dari penjara dominasi hedonisme yang digambarkan sebagai kegelapan. Makna isra adalah perjalanan yang dilakukan pada malam hari yang identik dengan kegelapan dan keheningan. Sehingga mereka yang mampu untuk meninggalkan kenikmatan tidur dan buaian mimpi-mimpi, kemudian menggantinya dengan pendakian spiritual niscaya akan tercerahkan secara spiritual.

Demikian halnya dengan mereka yang dapat menangkap spirit dan hikmah isra mikraj, akan memperoleh pencerahan intelektual. Semua ajaran agama dapat diterima akal,  karena agama memang diperuntukkan bagi mereka yang berakal. Berbagai ajaran agama termasuk isra mikraj dapat diterima oleh akal, hanya saja bukan akal satu-satunya melainkan membutuhkan yang lain. Mereka yang tercerahkan intelektualnya disebut oleh Alquran dengan istilah ulul-albab yakni orang yang tidak hanya berpikir, melainkan mereka yang memahami dan memiliki kebijaksanaan.

Selain dimensi spiritual dan intelektual, isra mikraj juga mengandung dimensi sosial. Dalam kajian para sufi tentang isra mikraj, mereka menggambarkan bahwa pada saat Jibril menyertai Muhammad saw. berada pada tempat tertentu, Jibril mempersilahkan Muhammad saw. untuk berjalan sendiri karena sayap Jibril tidak lagi mampu mewadahi luapan cahaya Tuhan. Sehingga ketika menyaksikan seluruh Keagungan dan Kebesaran-Nya, nabi hanya mampu berucap: “Attahiyatu mubarakatuh salawatu thayyibatu lil-lah” (segala penghormatan, segala kemuliaan, segala keagungan hanya milik Allah).

Para sufi mengatakan sekiranya kami berada dalam situasi itu, maka niscaya kami tidak akan kembali lagi ke bumi karena itu merupakan dambaan akhir setiap hamba untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Namun nabi justru kembali ke bumi untuk menyebarkan rahmat, kebebasan dan kemerdekaan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. (*)


div>