KAMIS , 22 NOVEMBER 2018

Mimpi Besar Parpol

Reporter:

Fahrullah - Arini

Editor:

Iskanto

Rabu , 17 Oktober 2018 07:42
Mimpi Besar Parpol

ILUSTRASI (Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sejumlah Partai politik (Parpol) punya “mimpi besar” pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang. Tak tanggung-tanggung, parpol peserta Pemilu, baik itu parpol lama maupun parpol baru mematok target tinggi dalam perolehan kursi di parlemen.

Partai Golkar misalnya. Partai berlambang pohon beringin itu percaya diri dengan target 8 kursi di DPR RI dan minimal 29 kursi untuk DPRD Provinsi. Target 29 kursi tersebut sebagai bagian dari upaya mempertahankan kursi Ketua DPRD Sulsel.

Target lebih tinggi dipatok Partai NasDem Sulsel. Partai yang di komandoi Rusdi Masse itu ingin menjadi pemenang Pemilu. Bergabungnya sejumlah tokoh-tokoh penting di daerah ke NasDem, menjadi alasan untuk meraih target itu.

Target 1 kursi 1 dapil menjadi incaran Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulsel, khususnya untuk DPR RI dan DPRD provinsi. Bahkan, partai berlambang moncong putih itu pede bisa merebut Ketua DPRD provinsi dari tangan Partai Golkar.

Namun untuk meraih itu, moncong putih harus kerja ekstra. Pasalnya, pada Pileg 2014 lalu, parpol besutan Megawati Soekarno ini hanya berada di posisi ke delapan dengan raihan 313.515 suara (7,11 persen).

Untuk DPR RI, PDIP Sulsel pada Pileg 2014 lalu hanya mendudukkan 2 kadernya di Senayan. Masing-masing Ketua DPW Andi Ridwan Wittiri dan Syamsu Niang. Sementara untuk DPRD provinsi hanya meraih lima kursi.

Sementara Partai Demokrat ingin mewujudkan target 15 persen perolehan kursi, khususnya di DPRD Sulsel. Bahkan, DPC Demokrat Kota Makassar sesumbar ingin melengserkan Partai Golkar yang saat ini mengontrol jabatan Ketua di DPRD Kota Makassar. Partai berlambang bintang mercy ini optimis bisa merebut posisi Golkar.

Bagaimana dengan parpol baru?. Tak ingin dianggap remeh, Pemilu 2019 mendatang menjadi ajang pembuktiannya dengan memasang target tinggi.

Sekadar diketahui, ada empat partai politik baru yang akan bergabung dalam panggung politik 2019. Diantaranya Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Perindo, Partai Berkarya dan Garuda.

Partai Berkarya Sulsel dibawah kendali Andi Patabai Pabokori menargetkan kursi pimpinan setiap DPRD. Alasannya, seluruh caleg yang bernaung di partai besutan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dianggap sangat berkualitas dan berpotensi merebut kursi pimpinan.

Sementara PSI Sulsel, mematok satu fraksi setiap DPRD kabupaten/kota. Terkhusus DPRD provinsi, PSI akan berusaha bisa mendapatkan kursi pimpinan.

Ketua Demorkat Sulsel, Ni’matullah mengatakan, semua partai politik memiliki harapan untuk bisa meraih kemenangan dan menduduki jabatan pimpinan DPRD. “Kan Pileg 2014 lalu meraih suara 13 persen, dan tahun depan naik dua persen menjadi 15,” katanya.

Untuk daerah yang diprioritaskan bisa mendapatkan kursi, Ni’matullah tidak ingin membeberkan. “Itu strategi. Jangan sampai lawan akan jegal kita, yang jelasnya semua teman-teman akan bekerja di semua dapil,” ujarnya.

Saat ini, kata Ni’matullah, Partai Demokrat memiliki 90 lebih kader yang duduk di DPRD. Baik itu DPRD kabupaten/kota maupun DPRD Sulsel. “Jadi kami target pada Pileg mendatang lebih 100 kader yang duduk di parlemen. Untuk DPRD Sulsel diatas 11 kursi,” jelasnya.

Menurutnya, seluruh Caleg Demorkat sudah terbiasa kerja-karja keras untuk bisa mendapatkan suara disetiap ajang pesta demokrasi. “Kita selalu kuat, sudah terbiasa mandiri dan tidak tergantung kepada kepala daerah,” tutupnya.

Sekretaris DPW PDIP Sulsel, Rudy Pieter Goni juga optimis bisa mencapai target 1 kursi 1 Dapil. Hal itu sudah sesuai dengan beberapa penilain internal yang dilakukan PDIP. “Optimis, karena pertama fakta bahwa konsolidasi organisasi kami berjalan dengan baik,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, target 1 kursi 1 Dapil itu bukanlah hal yang muluk-muluk untuk dicapai PDIP. Apalagi, Gubernur Sulsel merupakan pengusung dari PDIP. “Kami memiliki struktur partai sampai tingkat paling bawah. Program kami selama ini bagus. Gubernur terpilih dari PDIP. Kami mengusung Jokowi yang juga jadi kader utama kita. Sementara Pilpres dan Pileg sangat membantu,” tuturnya.

“Caleg kita bagus dan berkualitas, sehingga dapat diterima oleh rakyat. Hasil survei menunjukkan bahwa angka itu bukan angka muluk-muluk 1 kursi 1 dapil,” sambungnya.

Bahkan, untuk Pileg mendatang pihaknya optimis PDIP akan menduduki posisi 5 besar. Setelah di Pileg lalu hanya sampai pada urutan 8 saja.

“Kita tidak berpikir siapa menggantikan siapa, kami menargetkan, lima besar PDIP di Sulsel. itu realistis, optimis kita 3 besar. Saat ini kita mungkin masih nomor delapan atau sembilan, kami inginkan ada di nomor lima. Realistis kita 5 besar, optimis kita 3 besar,” pungkasnya.

Ketua DPD 1 Partai Berkarya Sulsel, Patabai Pabokori tetap optimis mampu melawan partai lama yang sudah memiliki nama besar. “Caleg Partai Berkarya berhadapan dengan Caleg incumbent, punya modal yang besar, pengalaman yang luas. Walaupun demikian, Partai Berkarya sudah berkomitmen bahwa kita tidak mau kalah dengan partai lama,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (16/10).

Pihaknya cukup optimis dengan melihat potensi Caleg yang dimiliki. Sebagian besar Caleg Partai Berkarya sudah memiliki pengalaman terkait politik pemerintahan. Banyaknya tokoh yang bergabung dengan partai besutan Tommy Soeharto ini menandakan bahwa Partai Berkarya cukup diminati.

“Kita bertekad akan memenangkan Pemilu yang akan datang, dan saya optimis. Oleh karena kader dan Caleg Partai Berkarya sangat potensial, baik Caleg kabupaten/kota atau provinsi maupun pusat,” tuturnya.

“Banyak Caleg Partai Berkarya mantan birokrasi, banyak juga tokoh agama, tokoh masyarakat dan pengusaha. Kelihatannya Partai Berkarya ini punya daya tarik tersendiri. Sehingga saya optimis, Pemilu yang akan datang Partai Berkarya akan memenangkannya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Fadly Noor menegaskan akan bekerja ekstra dengan harapan bisa mendapatkan kursi setiap Dapil.

“Dengan target setiap dapil menyumbangkan 1 kursi, maka kerja-kerja terus kami optimalkan,” singkatnya.

Terpisah, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Firdaus Muhammad menilai, jika partai politik yang mengincar pimpinan adalah hal yang wajar karena dengan kursi pimpinan, maka partai itu akan semakin dikenal. Apalagi bagi partai-partai baru.

“Itu bagian strategi politik. Posisi pimpinan merupakan prestasi politik, citra partai makin tinggi,” jelasnya.

Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan, keinginan partai politik, baik partai lama hingga partai baru menjadi pimpinan DPRD adalah hal yang bagus.

“Partai baru juga bagus kalau punya ekspektasi terukur yang tinggi. Setidaknya bisa menjadi sugesti psikologis untuk kerja-kerja elektoralnya. Meskipun partai-partai baru tentu belum pernah merasakan ujian elektoral yang sesungguhnya,” katanya.

Tapi untuk menjadi pimpinan DPRD partai harus memiliki sumber daya yang memadai, khususnya partai-partai baru. “Partai baru perlu sumber daya yang memadai, serta menggunakan strategi yang tepat untuk berkompetisi dengan partai-partai lama, yang di isi para politisi kawakan,” tuturnya.

Untuk meraih jabatan pimpinan DPRD, menurut Andi Luhur tentu tidak mudah. Ada persyaratan kursi yang harus dominan. Tentu partai lama di untungkan pengalaman.

“Tapi semua kembali pada kerja-kerja elektoral mereka ke depan. Memasang komposisi Caleg yang kompetitif dan mengatur strategi di setiap Dapil yang tepat, jauh lebih menentukan dari sekadar status soal partai lama ataupun partai baru,” tutupnya. (*)


div>