SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Diduga Tutupi Tiga Kasus Pencabulan dan Pemekosaan, Begini Tanggapan Polres Bantaeng

Reporter:

Jejeth Aprianto

Editor:

Iskanto

Selasa , 06 November 2018 15:00
Diduga Tutupi Tiga Kasus Pencabulan dan Pemekosaan, Begini Tanggapan Polres Bantaeng

Ilustrasi.

BANTAENG, RAKYATSULSEL.COM – Sedikitnya, terdapat tiga kasus pemerkosaan dan pencabulan di Kabupaten Bantaeng yang telah ditangani oleh Polres Bantaeng. Namun diduga pada penaganannya terkesan ditutupi.

Ketiga kasus tersebut, di antaranya pelecehan seksual dialami tenaga honorer, RAR (27) mendapat perlakuan tidak menyenagkan dari oknum ASN yang bekerja sebagai Bendahara di Faisal Rachim (40) Kantor Kecamatan Bantaeng.

Tidak hanya itu, UEP (16) juga telah melaporkan tiga orang pria yang telah memperkosanya. Pamannya, Adi Gunawan dengan tega melakukan hal itu terhadap keponakannya sendiri. Selain itu, dua orang bernama Risal, dan Muhammad Ali yang merupakan ipar dari Adi Gunawan di Jalan Bakri, Kelurahan Bonto Rita, Kecamatan Bissappu turut ikut merenggut kehormatan korban..

Kemudian, seorang siswi Sekolah Dasar berinisial NH (10) menjadi korban pelampiasan nafsu bejat yang diduga dilakukan AR (14) tetangga korban pada hari jum’at (2/11).

Terkait peristiwa itu, Aktivis Hukum sekaligus pengurus Pusat Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng (PP HPMB), Saepul mengatakan, Polres Bantaeng seharusnya ketika ada kasus pencabulan dan pemerkosaan segera dilaporkan. ” Jangan ditutupi kasus seperti ini, harus dipublikasikan,” tegas Saepul.

Pasalnya, kata Saepul, Publikasi perlu dilakukan sehingga masyarakat juga tahu proses penanganan kasus tersebut dan ini bisa menjadi pencegah terjadinnya kasus yang serupa.

“Di sisi lain masyarakat bisa mengawal kasus ini bersama dengan kepolisian,” tambahnya.

Sementara itu, Magister Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) meminta kepada Polres Bantaeng agar kasus dugaan pemerkosaan dan pencabulan yang saat ini ditangani Polres Bantaeng, harus ditangani secara serius. Sebab, kasus ini dianggap sebagi kasus yang sangat berdampak luas terhadap masyarakat, apabila aparat penegak hukum bermain-main dalam penanganannya.

“Apalagi ketika kasus ini diupayakan diselaikan secara kekeluargaan (damai) sangatlah tidak mendidik pelaku maupun masyarakat. Karena ini adalah kasus moral dan sangat tidak manusiawi,” katanya.

Selian itu, Ia berharap agar lembaga penegak hukum harus mampu menyelasaikan masalah ini secara hukum.

“Kepolosian harus memberikan informasi masyarakat mengenai sejauh mana proses penanganan kasus tersebut,” ujarnya.

Ketua Yayasan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Yappenak) Bantaeng, Ivan, mengharapkan, setidaknya Polres Bantaeng perlu peningkatan dalam membangun sinergitas dengan Dinas terkait dan lembaga pemerhati anak serta masyarakat.

” Tentang publikasi kekerasan dan pencabulan anak seharusnya Polres jangan terkesan menutupi,” tandas Ivan.

Seharusnya, sambung Dia, membangun komunikasi, kerjasama dan meningkatkan sinergitas dalam proses penanganan kasus anak sehingga kasus-kasus anak bisa terpublikasikan dan tak lepas dari proses hukum yang berlaku,

” Sehingga para pelaku akan sendirinya akan sadar, karna saya yakin satu anak adalah anak kita semua,” tambahnya.

Menanggapi tudingan itu, Paur Humas Polres Bantaeng, Bripka Sandri mengaku, bahwasanya pada penaganan kasus cabul tidak ada yang ditutupi, bahkan Polres menyarankan korban untuk didampingi dari T2TP2A Provinsi Sulsel.

” Untuk kasus UEP bahkan Penyidik langsung bekerja cepat tidak sampai satu minggu setelah korban melapor berkas sudah dikirim ke kejaksaan (tahap 1) oleh unit PPA Polres Bantaeng menunggu penelitian dari pihak Kejaksaan Negeri Bantaeng,” tutupnya.


div>