MINGGU , 25 FEBRUARI 2018

Mobil Lexus Kajati akan Dilapor KPK

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Selasa , 18 April 2017 12:08
Mobil Lexus Kajati akan Dilapor KPK

Ilustrasi. foto: net

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Anti Corruption Commite (ACC) Sulawesi, menelusuri kepemilikan kendaraan mewah Lexus LX 570 seharga Rp3 miliar milik Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulselbar, Jan Samuel Maringka yang sempat dipakai di awal masa jabatannya.

Direktur Riset dan Data ACC Sulawesi, Wiwin Suwandi mengatakan, berdasarkan informasi dan penelusuran yang dilakukan, pihaknya menduga jika mobil seharga Rp3 miliar tersebut merupakan hasil gratifikasi atau suap pada salah satu kasus yang dianggap mengendap di Kejati Sulselbar.

“Berdasarkan penelusuran rekan-rekan kita menduga kasus tersebut hasil suap atau gratifikasi,” katanya diberitakan Rakyat Sulsel, Selasa (18/4).

Wiwin juga menyebutkan, jika mobil Luxus tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 76/PMK.06/2015 tentang Standar Barang dan Standar Kebutuhan Barang Milik Negara Berupa Alat Angkutan Darat Bermotor Dinas Operasional Jabatan di Dalam Negeri.

“Mobil dinas yang dipake Kajati itu (Lexus) berasal dari pihak ketiga yang ada hubungannya dengan perkara yang ditanganinya. Kalau kelas Kajati, MPV, bukan Lexus,” ujarnya.

Disinggung mengenai kasus yang memberikan gratifikasi, Wiwin belum bisa menyimpulkan. Sebab, sebelum Jan Samel Maringka menjadi Kajati Sulselbar, sempat menjabat sebagai Kajati Malulu. “Bisa jadi dua-duanya, ini yang masih kita lacak,” tuturnya.

Kendati demikian, pihaknya akan melaporkan secara resmi kepada pihak yang berwajib, terkait mobil dinas Kajati Sulselbar tersebut. “Yang jelas kita akan laporkan secara resmi, tunggu saja informasinya dimana kita akan laporkan,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Kepala Badan Pekerja Anti Corruption Commitee (ACC), Abd Muthalib juga mengaku akan melaporkan kejaksaan tinggi (Kejati) terkait keberadaan mobil mewah tersebut. Mobil mewah tersebut diduga merupakan pemberian dari pihak swasta.

“Kita lihat saja nanti bagaimana kejelasannya, namun kami berencana akan segera melaporkan ini ke KPK, karena besar kemungkinan ini gratifikasi,” ujar Muthalib.

Hasil temuan ACC mengerucut kepada salah satu perusahaan swasta. Hanya saja, pihak Kejati masih bungkam persoalan keberadaan mobil tersebut dan mengaku mobil tersebut adalah mobil pinjam pakai.

Jika kasus tersebut mengarah pada gratifikasi, maka hal ini akan mengarah pada kinerja kejaksaan.

“Kita tidak mau penegak hukum independensinya rusak, makanya kalau diyakini ini ada hubungannya dengan sebuah kasus, maka sudah barang tentu harus diusut,” beber Abd Muthalib. (***)


div>