SELASA , 20 NOVEMBER 2018

Mudah Tapi Terabaikan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 19 April 2016 10:44
Mudah Tapi Terabaikan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

JIKA kita mencoba untuk jujur terhadap diri sendiri, setiap hari betapa banyak perbuatan salah dan menyakiti perasaan orang yang kita lakukan. Bila kita cermati dengan teliti, tentu akan tiba pada kesimpulan bahwa perbuatan salah dan menyakitkan perasaan itu jumlahnya tak terhitung banyaknya, apalagi bila dikaitkan dengan usia yang diberikan Tuhan kepada kita hingga hari ini.

Entah kepada teman, karib-kerabat, mitra kerja bahkan keluarga, bawahan atau kolega kita.

Dapat dibayangkan sekiranya kita tidak terbiasa memaafkan atau meminta maaf, betapa tersiksanya menjalani kehidupan ini.

Akan terus dibayangi oleh rasa bersalah yang berkepanjangan. Meskipun meminta maaf merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, namun dalam kenyataannya senantiasa terabaikan.

Lihat saja kesalahan demi kesalahan bertambah, tapi meminta maaf dan memaafkan terasa begitu sulit. Bahkan banyak orang tidak ingin memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain kepadanya dengan alasan agar menjadi pelajaran bagi pelakunya.

Ternyata kita tidak hanya berat untuk melakukan sesuatu yang mudah yakni meminta maaf, namun kita pun tergolong pendendam karena begitu sulit memaafkan kesalahan orang lain.

[NEXT-RASUL]

Sebenarnya setiap saat kesalahan senantiasa hadir dalam hidup kita, apakah disengaja atau tidak disengaja.

Semakin tinggi posisi atau jabatan seseorang, semakin banyak teman, kolega atau pengikut, semakin berpotensi untuk melakukan kesalahan sehingga seharusnya semakin sering meminta maaf.

Sedangkan orang yang berat memaafkan, berarti memelihara rasa dendam yang pada gilirannya akan menjadi tumpukan rasa kecewa yang dapat menjadi beban pikiran dan perasaan.

Meminta dan memberi maaf bukan aib bagi seseorang, melainkan sikap lapang dada dan berjiwa besar serta percaya diri untuk menjalani hidup dengan ikhlas dan konsisten (istikamah). Sebab perbuatan baik membutuhkan pengulangan-pengulangan dalam melakukannya bukan hanya sekali saja.

Hal lain yang mudah dilakukan tapi sering diabaikan adalah mengucapkan terima kasih. Kata ini mengandung maksud agar kita menyadari betapa banyak orang di seputar kita yang membantu dan menolong kita.

Ada orang tua yang telah mendidik dan membesarkan kita, ada suami yang telah memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita, ada istri yang telah meladeni kita, ada guru yang telah mengajari berbagai ilmu kepada kita, ada teman yang senantiasa mengingatkan dan menasehati kita, ada atasan yang telah menuntun kita, ada bawahan yang telah membantu kita.

[NEXT-RASUL]

Semakin banyak kita menerima bantuan dan pemberian orang lain, seharusnya sesering itu pula kita mengucapkan terima kasih.

Apa pun bentuk bantuan orang yang diberikan kepada kita. Apakah berupa materi, tenaga, atau moral seyogianya ucapan terima kasih menyertainya.

Nabi Muhammad saw. berpesan: “Ada tiga kesalahan yang dilakukan umat manusia, Allah tidak menunggu akhirat untuk memberi balasan tapi langsung diperlihatkan balasannya di dunia. Ke tiga kesalahan itu adalah: durhaka kepada ke dua orang tua, berbuat zalim kepada sesama, dan tidak berterima kasih pada kebaikan orang lain”.

Semakin tinggi jabatan seseorang tentu semakin banyak memperoleh bantuan dari orang lain, sehingga seharusnya semakin sering pula ia berterima kasih.

Justru tidak layak untuk senantiasa minta dilayani melainkan melayani. Sayang sekali karakter melayani tidak kita tanamkan sedini mungkin kepada anak dan generasi kita. Dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana yang ada disekitar kita.

Misalnya berterima kasih kepada tukang sampah, loper koran, pembantu rumah tangga, sopir dan orang-orang yang telah turut membantu sehingga segala yang ada di sekitar kita tidak dapat terwujud sekiranya mereka tidak memberi bantuannya.

[NEXT-RASUL]

Semoga kata maaf dan terima kasih yang mudah, ringan tidak terabaikan dalam kehidupan kita.


div>