RABU , 12 DESEMBER 2018

Muh. Nur Aslam Santri IMMIM Hafal Quran 30 Juz dan Ingin Jadi Polisi

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 21 April 2018 15:06
Muh. Nur Aslam Santri IMMIM Hafal Quran 30 Juz dan Ingin Jadi Polisi

int

MAROS, RAKYATSULSEL.COM – Cukup menggugah nurani. Air mata cleaning service masjid, Saharuddin yang didampingi isterinya Nur Eny tak terbendung sehingga menetes di lantai saat mendengarkan pengumuman, anaknya atas nama Muh. Nur Aslam ditetapkan sebagai tahfidz (penghafal quran) terbaik 30 juz.

Lebih bahagia lagi, karena Nur Aslam yang kelahiran Makassar, 13 Desember itu mendapat hadiah dari Yayasan Dana Islamic Centre (YASDIC) IMMIM akan berangkatkan umrah gratis bersama ayahnya, Saharuddin.

Begitulah suasana bathin Saharuddin dan istrinya saat menghadiri wisuda santri angkatan XXXVIII tahun pelajaran
2017/2018 Pesantren Modern Pendidikan Alquran IMMIM Putra, Ahad (15/4) lalu di kampus II Ponpes IMMIM, Moncongloe, Maros.

Ditemui Upeks usai wisuda santri, Saharuddin yang mengaku cleaning service masjid Pesantren IMMIM itu hanya mampu mengurut dada sebagai tanda syukur atas rahmat Allah swt.

”Bagi kami dan anakku M Nur Aslam, umroh menginjakkan kaki di tanah suci itu sungguh tak terduga. Kerjaku kodong hanya cleaning service di masjid, kalau mau umroh, uang dari mana kami peroleh untuk ke tanah suci. Namun, ada Yang Maha kuasa, jika Allah,Swt berkehendak, semua bisa terjadi,” ujar Saharuddin yang mengaku sudah tujuh tahun kerja sebagai pembersih masjid di Pesantren IMMIM itu.

Diakuinya, selama ini, sebagai orang tua, Saharuddin, hanya memotivasi anaknya agar suatu saat bisa jadi penghafal Alquran. Pertimbangannya, penghafal quran itu akan banyak manfaatnya dan itu terkait kehidupan akhirat.

”Kepada tiga anakku, selalu kami nasihati, kalau kita kejar akhirat, kehidupan dunia akan mengikut. Sebaliknya, jika kita dalam hidup yang sifatnya sementara dan persinggahan ini hanya semata-mata mengejar dunia, tujuan kehidupan akhirat yang hakiki tak akan diperoleh,” ungkap Saharuddin dengan mata berkaca-kaca.

Prinsip aqidah yang sering kami dengar di masjid itulah yang mendorong, sehingga tiga anak yang dianugerahkan Allah, semuanya kami dorong masuk sekolah pesantren dan menekuni kurikulum umum dan program penghafal Alquran.

Ketiga anak kami itu, Nur Aslam di Pesantren IMMIM. Dua anak kami lainnya, satu tengah menimba ilmu di Pesantren 77 Palattae, Bone dan satunya lagi sanri di Pesantren Hidayatullah. Semuanya ikut program tahfidz .

Menyinggung kiat, sehingga anaknya Nur Aslam bisa jadi tahfidz 30 juz, Saharuddin mengungkapkan, pengalaman kami, itu lebih banyak bergantung pada motivasi/semangat dari sang anak. Jika anak memang berbakat,berkemauan kuat jadi tahfidz, sebuah modal yang menggembirakan.

Selanjutnya, orang tua tinggal mengiringi dengan do’a, dan menyerahkan sepenuhnya agar Allah meridhai dan menerangi jiwa anak dan orang tua sambil menunggu keputusan yang terbaik dari Allah Swt.

Menyinggung rencana kelanjutan pendidikan Nur Aslam setelah penyelesaian studi di Pesantren IMMIM, Saharuddin menyerahkan sepenuhnya pada sang anak. Info terakhir anaknya punya niat kuat jadi Polisi.

”Jika diterima jadi anggota Polri dan kondisi ekonomi kelak memungkinkan, sang buah hati Nur Aslam juga ingin sekali kuliah,” ujar Saharuddin yang juga warga Jl Sukaria,Makassar, Sulsel itu.

Saat pelaksanaan wisuda santri Ahad, 15 April lalu, Pengasuh Tahfidz Quran (TTQ) Pesantren IMMIM, Drs H Hasnawi Marjuni, Hq yang ditemui Upeks menjelaskan, terdapat lima anak asuhannya diwisuda.

Mereka itu, Ahmad Fauzan (30 juz), anak pasangan (Ahmad Mujahid Dahlan, S.Ag.M.Thi/Ir Karyawati), Hisbullah Al-Jihad (30 juz) anak pasangan (Abdul Kadir, S.Kep,M.Kes/Hasmah S.ST), Muh. Nur Aslam (30 Juz) anak pasangan (Saharuddin/Nur Eny), A Syahrul Ramadhan (30 juz) anak pasangan (Djazali/Nurhayati) serta Muh. Nuzul Ahmad (11 juz), buah hati dari pasangan Ahmad Ibrahim, S.Pd,M.Pd/Hasmah,S.Filli. (arf/upks).


div>