• Minggu, 23 November 2014
Iklan | Epaper | Redaksi | Citizen Report

Muhyina Bisa Tonji

Jumat , 08 Maret 2013 10:12
Total Pembaca : 409 Views
Muhyina

Baca juga

MUHYINA Muin sudah tidak asing lagi di telinga sejumlah masyarakat Kota Makassar, terlebih menjelang pelaksanaan Pilwalkot Makassar. Dirinya sangat gencar melakukan sosialisasi. Tentu saja keberadaan Muhyina di deretan kandidat wali kota bukanlah sesuatu yang instan. Hal ini lantaran dia dianggap oleh sejumlah orang telah memiliki kapasitas dari segala aspek untuk memimpin Makassar. Terlebih lagi kiprahnya sebagai salah satu legislator perempuan di DPRD Makassar. Terakhir, perempuan aktivis ini menjadi salah satu inisiator dari rencana pembentukan Perda kawasan bebas asap rokok di Makassar.

Untuk maju dalam Pilwalkot mendatang, Muhyina juga tidak main-main. Dia gencar melakukan sejumlah sosialisasi di tengah-tengah masyarakat. “Untuk saat ini saya masih intens menjalin komunikasi dengan seluruh tim di lapangan. Selain itu, saya juga intens melakukan sosialisasi ke masyarakat. Sosialisasi ini bahkan saya lakukan dengan turun langsung di semua kecamatan dan kelurahan,” jelasnya saat berbincang dengan Rakyat Sulsel.

Mengenai alasannya untuk maju dan bertarung di Pilwalkot Makassar, Muhyina terobsesi membuktikan perempuan bisa tonji (juga, Red) jadi pemimpin. “Tentu bisa kita lihat saat ini, kalau kesejahteraan masyarakat di Kota Makassar masih perlu diperbaiki. Untuk meningkatkan kesejahteraan itu, bukan hanya satu atau dua sektor saja, tapi di semua lini kehidupan. Jika semua kebutuhannnya di segala lini sudah bisa terpenuhi dengan baik, maka itulah yang disebut dengan kesejahteraan. Untuk itu, kedepan jika diberi kepercayaan memimpin Makassar, saya akan mengarahkan agar anggaran diarahkan untuk membuat rakyat lebih berdaya misalnya melalui perbaikan infrastruktur dan program pemberdayaan masyarakat, dan biasanya perempuan punya visi lebih teliti dalam penggunaan anggaran tersebut,” paparnya.

Anggota Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Makassar ini berniat untuk membenahi masyarakat. Majunya dia di Pilwalkot juga ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa berpartisipasi di ajang lima tahunan ini. “Saya berharap agar diberi kepercayaan oleh masyarakat untuk menjadi wali kota perempuan pertama yang memimpin Makassar. Apalagi, Makassar saat ini bergerak ke arah metropolis, sehingga pemimpinnya butuh ketelitian dan rasa peduli. Hal itu berlaku dari tata ruang kota hingga pengelolaan anggaran, soal teliti dan peduli itu, perempuan bisa lebih baik dari laki-laki,” ungkapnya.

Sementara itu, mengenai adanya anggapan tentang dirinya yang hanya memanfaatkan momen Pilwalkot Makassar untuk sekedar mencari popularitas, Muhyina membantah hal tersebut. “Sangat tidak beralasan kalau ada orang yang menyatakan seperti itu. Kalau dikatakan cari sensasi atau popularitas, saya rasa tidak, karena apa yang saya lakukan sudah dimulai sejak jauh hari. Dari 2008 sebelum di DPRD kami sudah bergerak untuk masyarakat, apa yang kami rintis itu masih terus dilakukan sampai saat ini,” bantahnya.

Adapun anggapan-anggapan semacam itu justru dijadikan sebagai motivasi untuk memperbaiki diri.  “Sah-sah saja kalau ada yang beranggapan seperti itu, tapi bagi saya apapun anggapan yang dilontarkan tetap menjadi  motivasi, dan saya jadikan untuk mengintrospkesi kekurangan yang kami miliki,” jelasnya.

Terkait dengan siapa yang akan menjadi pasangannya di Pilwalkot mendatang, Muhyina mengaku saat ini masih menimbang-nimbang figur yang akan menjadi pasangannya, selain juga menunggu hasil survei yang dilakukan timnya. “Untuk menentukan siapa yang akan menjadi pasangan saya di Pilwalkot mendatang masih memerlukan waktu, karena dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang matang, untuk mendapatkan partner yang betul-betul bisa bersinergi dengan kita. Untuk saat ini memang sudah ada beberapa memberi masukan sejumlah nama, namun saya sendiri lebih memilih untuk menunggu hasil survey,” tandasnya.

Disinggung mengenai kriteria figur yang bakal menjadi pilihannya, Muhyina mengaku tidak memilah-milih calon yang akan menjadi pasangannya, apakah itu birokrat, pengusaha, ataupun politisi. “Kalau saya sendiri tidak akan memilih apakah dia pengusaha, birokrat atau politisi. Siapapun yang mampu dan memahami karakteristik untuk membangun Makassar, serta memiliki visi-misi yang sama dalam pembangunan Makassar. Karena belum tentu birokrat atau pengusaha bisa memahami kondisi dan bisa bersinergi dengan kita,” terangnya.

Sementara mengenai adanya kemungkinan dirinya tidak mendapatkan rekomendasi Parpol untuk maju di Pilwalkot Makassar, Muhyina yang juga Ketua Ormas Perempuan Bisa Tonji Sulawesi Selatan ini mengaku sudah menyiapkan rencana cadangan. “Sampai saat ini saya masih berjuang terus untuk mendapatkan partai politik, hanya saja jika sampai waktu yang ditentukan saya dan tim belum mendapatkan parpol yang sevisi dengan kami, maka saya siap untuk maju melalui jalur independen, sebab saat ini tim juga sudah mengumpulkan sekitar 100 ribu KTP,” tuntasnya.(M1)