Selasa, 25 Juli 2017

Arifuddin Saeni (Wartawan)

Mulutmu Sungguh Berbisa

Jumat , 19 Mei 2017 09:34
Arifuddin Saeni
Arifuddin Saeni

INI memang menyedihkan, yang kata orang Indonesia adalah bangsa yang besar. Tapi kita mungkin juga adalah bangsa yang begitu mudah menorehkan luka, pada siapa saja yang kita tidak suka. Maka ketika Adian Napitupulu dan Sylfester Matutina menuding Bapak Jusuf Kalla sebagai rasis, sungguh telah membawa kita pada kepiluan soal berbangsa dan bernegara. Bahwa di sana, ada anak bangsa yang begitu gampang menjustifikasi soal benar dan salah bahkan ingin mencatat dalam sejarah. Entah sejarah apa!

Potongan-potongan ingatan kadang tak membuat harus jelas. Ia kadang abai pada apa yang pernah terjadi. Bahkan pada kurun waktu tertentu kita kadang lupa sama sekali—–walau riuhnya hingga melempang di jagad raya, toh ia berada pada titik lampus. Tapi konperensi Malino I dan II, bukanlah sesuatu yang gampang kita lupakan. Jusuf Kalla, yang dengan hati yang kukuh menerima protes dari kubu Islam dan Kristen, tentang bagaimana Ambon dan Poso harus didamaikan. Dia, Jusuf Kalla, juga kadang mengurut dada, betapa kasus itu membelit seakan tiada putus.

Tapi Jusuf Kalla adalah lelaki Bugis-Makassar. Ia adalah sifat dari angin barubu yang selalu membawa penghidupan, melahirkan begitu banyak harapan. Toh jabatan hanyalah titian dari sebuah pengabdian kepada rakyatnya. Dia sungguh tak silau harta, sebab dari kecil dia adalah saudagar.

Laku haruskah kita memaksakan diri, untuk memahami tentang apa yang dikatakan Adian dan Sylfester. Kita tidaklah berada di ruang-ruang akademis yang bisa saling berbantah. Kita ada ruang publik yang dengan gampangnya tersulut, ketika kita dengan pongahnya menuding orang tak setia atau menelikung. Nenek moyang kita mengajarkan tentang adat untuk saling menjaga harga diri.

Tapi Adian dan Sylfester meretakkannya dengan mulutnya yang berbisa. Bahwa kekalahan jagoannya di DKI Jakarta, mencoba mencari kambing hitam dengan menuding JK sebagai sumber kegagalan. Ia memang tak pernah mau belajar, bahwa secara perlahan kegagalan akan terus menghampirinya. Dan Tuhan akan terus mendorongnya ke arah sana.

Dan benar kata orang, JK adalah orang yang tak peduli dengan itu semua. Adian dan Sylfester, bukanlah siapa-siapa, atau kalau mau dikatakan anak kemarin. Tapi siapa yang bisa menjamin amarah orang-orang yang mencintainya. Apakah kita harus peduli dengan itu semua. Mungkin iya, karena di sana mengalir darah anaj Bugis-Makassar. (*)

Berita Terkait