NA Harus Pandai Menghargai Pengorbanan TBL

NURDIN ABDULLAH

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – “Saya dengan professor (Nurdin Abdullah) pada bulan Desember 2015 telah berkomitmen. Dan sampai hari ini, kami tidak punya komitmen tertulis. Tapi berkomitmen sebagai orang Bugis-Makassar.”

Sepenggal pernyataan Tanribali Lamo (TBL) saat mengembalikan formulir pendaftaran di Partai Demokrat Sulsel, pekan lalu, nampaknya menjadi peringatan keras bagi NA bila mereka sudah punya kesepakatan bersama untuk maju di Pilgub.

TBL tentu sangat wajar mengungkap kesepakatan tersebut. Selain sudah lama jalan bersama, termasuk pengorbanan materi dan property TBL selama ini, NA juga berulangkali mempertegas jika ia tidak akan “membuang” pensiunan jenderal TNI tersebut.

Hanya belakangan, NA yang dikenal mahir dalam urusan “pencitraan”, nampaknya seolah pura-pura lupa dengan kesepakatan tersebut. Mengingat demi ambisi maju di Pilgub, perlahan mulai meninggalkan TBL.

Itu tercermin dari perubahan sikap NA yang tiba-tiba ingin mengganti posisi TBL sebagai pasangannya, dengan alasan akan menggunakan mekanisme survei. Padahal sejak dulu, dia sendiri mempertegas akan maju dengan TBL. Termasuk menjadikan kediaman TBL di Haji Bau sebagai posko pemenangannya.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono menuturkan, NA berada pada posisi dilematis, sekaligus diperhadapkan pada tantangan, terutama soal menguji komitmennya maju berpasangan dengan TBL.

Meskipun memang, banyak figur-figur potensial yang tidak kalah dari TBL, seperti Bupati Sidrap dua periode Rusdi Masse, Aliyah Mustika dan lainnya. Namun NA tak boleh begitu saja meninggalkan TBL yang sudah berkorban.

[NEXT-RASUL]

“Saya kira adagium lama bahwa tiada kawan dan lawan yang abadi, kecuali kepentingan, memang selalu berlaku dalam politik, hingga saat ini. Namun kita juga harus menghargai komitmen dan konsistensi yang sementara dibangun oleh keduanya, NA dan TBL dalam menghadapi Pilgub Sulsel 2018 kedepan,” ungkap Arief, Rabu (9/8).

Sehingga, kata Arief, konsistensi, komitmen, dan pengorbanan justru merupakan nilai lebih seorang figur, ketimbang tiba-tiba memilih mencari pendamping lain.

Pernyataan senada diutarakan Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Firdaus Muhammad . Menurutnya, komitmen antara NA dan TBL adalah sebuah kesatuan yang seharusnya tetap terjaga. Karena memang, pengorbanan TBL selama ini seharusnya tidak diabaikan begitu saja oleh NA.

“NA sulit tinggalkan TBL. Sebaiknya NA tidak tergoda partai-partai karena justru bisa dinilai publik tidak komit. Sebaliknya pasangan NA-TBL harus dijaga,” ungkapnya.

“Berdasar survei tampaknya NA masih aman. NA bisa saja nanti lebih realistis secara politik tetapi TBL relatif lebih aman,” lanjut Firdaus.

Namun memang, kata Firdaus, kehadiran kandidat lain bisa menggoyahkan pasangan NA dan TBL. Tetapi hal itu, harus diperhitungkan matang-matang oleh NA sebelum mengambil keputusan kelak. Pasalnya, TBL adalah figur yang paling potensial untuk bersama NA di Pilgub.

“Perlu proses politik untuk menetapkan kandidat lain sebagai pendamping tapi NA tidak boleh gegabah. TBL pasangan ideal tetapi harus juga bergerak untuk mendukung suara NA. Kalau NA-TBL terbelah bisa jadi bumerang NA,” tutup Firdaus