Minggu, 20 Agustus 2017

NA Harus Pandai Menghargai Pengorbanan TBL

Rabu , 09 Agustus 2017 21:38
Penulis :
Editor   : Ashar Abdullah
NURDIN ABDULLAH
NURDIN ABDULLAH
MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM - "Saya dengan professor (Nurdin Abdullah) pada bulan Desember 2015 telah berkomitmen. Dan sampai hari ini, kami tidak punya komitmen tertulis. Tapi berkomitmen sebagai orang Bugis-Makassar."

Sepenggal pernyataan Tanribali Lamo (TBL) saat mengembalikan formulir pendaftaran di Partai Demokrat Sulsel, pekan lalu, nampaknya menjadi peringatan keras bagi NA bila mereka sudah punya kesepakatan bersama untuk maju di Pilgub.

TBL tentu sangat wajar mengungkap kesepakatan tersebut. Selain sudah lama jalan bersama, termasuk pengorbanan materi dan property TBL selama ini, NA juga berulangkali mempertegas jika ia tidak akan "membuang" pensiunan jenderal TNI tersebut.

Hanya belakangan, NA yang dikenal mahir dalam urusan "pencitraan", nampaknya seolah pura-pura lupa dengan kesepakatan tersebut. Mengingat demi ambisi maju di Pilgub, perlahan mulai meninggalkan TBL.

Itu tercermin dari perubahan sikap NA yang tiba-tiba ingin mengganti posisi TBL sebagai pasangannya, dengan alasan akan menggunakan mekanisme survei. Padahal sejak dulu, dia sendiri mempertegas akan maju dengan TBL. Termasuk menjadikan kediaman TBL di Haji Bau sebagai posko pemenangannya.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono menuturkan, NA berada pada posisi dilematis, sekaligus diperhadapkan pada tantangan, terutama soal menguji komitmennya maju berpasangan dengan TBL.

Meskipun memang, banyak figur-figur potensial yang tidak kalah dari TBL, seperti Bupati Sidrap dua periode Rusdi Masse, Aliyah Mustika dan lainnya. Namun NA tak boleh begitu saja meninggalkan TBL yang sudah berkorban.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*