NA Mulai Goyah, TBL di Ujung Tanduk

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Konsistensi sikap politik Nurdin Abdullah (NA) terkait pasangannya Tanribali Lamo (TBL) tengah diuji.

Di tengah ketidakpastian parpol pengusung, kandidat Cagub Sulsel yang kini menjabat Bupati Bantaeng tersebut menyebutkan akan melihat perkembangan hasil survei dalam memfinalkan pasangannya.

“Toh pada akhirnya nanti kita akan lihat bagaimana peluang. Kalau pasangan dengan TBL, kan kita mau menang, kalau peluangnya kecil ngapain kita maju bersama, kita bisa saling mengerti lah, kita ini mau menang,” kata Nurdin saat ditemui di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (8/8/2017).

NA menegaskan bahwa dirinya bersama TBL tak memiliki kontrak politik untuk tetap maju bersama. “Saya dengan TBL tidak punya kontrak politik tapi hanya komitmen bersama itu yang harus kita jaga,” katanya.

Menurutnya, jika pada hasil survei menunjukkan peluang yang cukup besar kalau bersama TBL, maka dirinya akan tetap melanjutkan komitmennya. Tapi kalau hasil tersebut tidak maksimal, dirinya memastikan akan mencari pendamping yang akan bisa menopang elektabilitasnya.

“Saya dengan TBL saat ini masih dalam proses simulasi bukan retak. Dengan pak TBL semua masih cair, kita tidak mungkin meninggalkan orang begitu saja. TBL orang yang sangat arif,” urainya.

Meski demikian, dirinya belum mengetahui siapa yang layak untuk mendampinginya agar elektabilitasnya naik.

[NEXT-RASUL]

“Saya belum tahu bakal berpasangan dengan siapa agar bisa menang. Karena survei masih kita tunggu, kita masih liat perkembangannya,” jelasnya.

Ia juga optimis bisa mendapatkan partai usungan di Pilgub mendatang. “Saya optimitis bisa mendapat partai. Seperti baru-baru ini saya fit and proper tes di PDIP,” terang NA.

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, NA menyebut Tanribali Lamo sebagai pasangan setia menuju Pilgub Sulsel 2018.

“Saya dan Pak Tanribali Lamo tak mungkin lagi terpisahkan karena kami telah bertukar cincin,” tutur Nurdin Abdullah saat mengembalikan formulir bakal calon Gubenur Sulsel di PPP, Jalan Sungai Saddang, Makassar, Rabu (14/6) lalu.

Selain alasan komitmen dan kesamaan niat membangun Sulsel, antara NA dan TBL dinilai saling melengkapi. “Beliau dari utara, saya dari selatan. Beliau memiliki komitmen dan niat yang kuat untuk sama-sama saya maju di Pilgub Sulsel. Komitmen dan niat itu yang saya pegang,” tutupnya.

Pakar Politik Universitas Muhammadiah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Priyanto menyebut plus minus NA yang terlalu awal menentukan pasangan. “Memang ada plus dan minusnya terlalu awal menentukan pasangan. Keuntungannya karena bisa membangun kemistry dan komitmen dari awal, sekaligus bisa mengukur komitmen dan keberpihakan partai-partai pada kader, rasionalitas dan pragmatisme elektoral,” ujarnya.

Menurutnya, kekurangannya kalau berpisah di tengah jalan maka bisa dianggap tidak komitmen pada kesepakatan. Artinya seremoni deklarasi relawan bersama hingga klaim “tunangan”, akhirnya tidak cukup kokoh menghadapi desakan pragmatisme elektoral.

“Tapi sejak awal, dinamika politik elektoral kan penuh kemungkinan-kemungkinan. Bisa tetap bertahan bersama TBL, ataupun bisa berpisah dan memilih pasangan lain. Saya kira NA juga akhirnya akan realistis,” jelasnya. (ash/D)