SENIN , 17 DESEMBER 2018

Napi Terorisme Dikeroyok di Lapas Takalar

Reporter:

asharabdullah

Editor:

Senin , 11 September 2017 14:58
Napi Terorisme Dikeroyok di Lapas Takalar

DILARANG MEMBESUK. Humairoh (kiri) beserta anak dan kerabatnya batal mengunjungi suaminya Sutrisno Ahmad sebab dilarang oleh pihak Lapas karena dalam sel isolasi, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Takalar, Sabtu (9/9). ASEP/RAKYATSULSEL

TAKALAR, RAKYATSULSEL.COM – Seorang penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar, Sutrisno Ahmad (24) dikabarkan telah dikeroyok sesama napi penghuni lapas. Napi kasus terorisme pindahan dari Jakarta ini dikeroyok rekan sekamarnya, Rabu (6/9) lalu.

Istri korban, Humairoh kepada Rakyat Sulsel, Sabtu (9/9) menjelaskan, kabar dugaan pengeroyokan tersebut baru ia ketahui setelah seorang keluarga salah satu rekan suaminya dalam lapas menghubunginya lewat telepon.

“Tidak ada pemberitahuan ke pihak keluarga mengenai insiden ini. Nanti kami baru tahu setelah ada keluarga tahanan juga yang menelpon saya. Dia sampaikan bahwa suami saya dikeroyok. Ini yang saya sesalkan. Kenapa tidak ada inisiatif pihak lapas memberi kabar keluarganya,” sesal Humairoh.

Berdasarkan informasi yang diterima isteri korban, suaminya tersebut dikeroyok karena menegur penghuni lapas lain yang mengolok-olok Adzan dan ayat-ayat Al Quran. Tidak terima ditegur, pelaku langsung mengeroyok suaminya.

“Suami saya disalahkan karena katanya yang dilakukan penghuni lapas (mengolok-olok Al-Quran) sudah biasa dalam lapas. Jadi suami saya diisolasi. Sementara pelakunya tidak,” beber Humairoh.

Ibu dua anak ini juga menyesalkan sikap petugas lapas yang tidak membiarkan korban dijenguk pihak keluarga. Padahal, ia hanya ingin melihat kondisi korban secara langsung. “Informasi dari dalam, katanya matanya sakit, karena suami saya minta dibelikan obat mata. Tapi petugas lapas larang kita temui. Bagaimana mau dibuktikan kalau kondisinya baik-baik saja,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pengamanan Lapas Takalar, Ince M Rizal melalui sambungan telepon mengakui peristiwa tersebut. “Betul dia (Sutrisno) merasa diperolok-olokkan Al Quran. Sebenarnya, di dalam itu, kami ada program pembinaan untuk baca tulis Al Quran. Yang baru belajar ngaji ini dikasi kesempatan belajar. Mungkin si Sutrisno ini tidak mengerti mareka ini baru belajar, dia merasa Al Quran diperolok-olokkan,” jelas Ince.


div>