KAMIS , 19 JULI 2018

Narasi Kebencian

Reporter:

Editor:

Lukman

Jumat , 09 Maret 2018 08:30
Narasi Kebencian

Arifuddin Saeni

MUNGKIN kita salah memahami akan banyak hal tentang apa yang disebut bermedia sosial. Di sana bukan hanya melahirkan banyak kawan dan lawan, tapi juga mempertemukan alur berpikir yang berbeda, tentang sebuah kemajemukan, bahwa saya dan kamu berada dalam bangunan yang coba kita rangkai bersama yang namanya demokrasi. Kita tak pernah ingin memercayai bahwa kata-kata akan meruntuhkan cita-cita itu, bahwa benci harus menjalar sampai ke tulang sum-sum kita.

Toh media sosial telah mengantarkan kita pada apa yang disebut ruang tanpa batas. Ruang di mana semua orang bisa melihat apa yang kita tulis dengan mata nanar memerah, ruang di mana semua orang bisa menumpahkan sumpah serapahnya. Ruang di mana tak ada lagi sopan santun. Ah.

Maka ketika kebencian itu membuncah, narasinya menjadi begitu menyengat. Entah benar atau tidak, itu juga kita tidak tahu. Tapi siapa yang mau peduli dengan kebenaran, ketika narasi yang terangkai itu kau ajukan sebagai fakta. Lalu apakah juga aku harus jadi pembenci, seperti yang lainnya.

Tapi mengapa kebencian itu harus lahir dari jemari tanganmu. Mengapa harus lahir dari pikiran-pikiran yang mengambang, ataukah saluran-saluran yang kau pahami selama ini bisa membantu tak lagi kau percayai, sehingga protes lewat media sosial dianggap lebih ampuh.

Kata-kata memang tak selamanya bisa dipahami dengan bijak oleh sekeliling kita. Ketidakadilan, keterperosokan ekonomi dan kepapaan, mungkin saja itu adalah kebenaran. Tapi haruskah kita salahkan yang lain dengan narasi kebencian. Ataukah narasi kebencian itu kau sebut kritik. Kita memang tidak tahu pasti, sebab rasa benci dan kritik begitu tipisnya, sehingga kita pun tak percaya bahwa sebuah kekuasan begitu takut akan kritikan.

Kekuasaan memang tak perlu angkuh. Bukan karena ia pilihan rakyat, ataukah karena ia punya bedil, tapi kekuasaan memang perlu sesekali turun menemui rakyatnya yang jelata. Bagaimana Umar bin Khatab, merasa begitu bersalah ketika menemukan salah seorang ibu yang memasak sebongkah batu di atas perapian yang membara, hanya menenangkan anaknya yang sedang kelaparan.

Umar sang penakluk Byzantium dan Persia itu bukannya tidak tahu yang namanya pengelolaan negara. Bukannya ia tak memahami yang namanya cerita ‘miring’. Tapi kejujuran dan kesederhanaan yang membuat orang-orang untuk tidak mampu melukai perasaannya dengan narasi kebencian. (**)


div>