KAMIS , 15 NOVEMBER 2018

Nasib Stadion Barombong Kian Tak Jelas

Reporter:

Al Amin Malliuri

Editor:

Iskanto

Selasa , 16 Oktober 2018 12:20
Nasib Stadion Barombong Kian Tak Jelas

Stadion Barombong. (Al Amin/rakyatSulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Nasib Mega proyek sarana olahraga Stadion Barombong diragukan bakal rampung pada 2019 nanti. Pasalnya sejumlah masalah seperti belum cukupnya anggaran yang ada, membuat stadion bertaraf internasional itu akan ditunda pembangunannya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan, Sri Endang Sukarsih mengaku, tak mampu berbuat banyak. Pasalnya, pihaknya hanya sebatas mengusulkan kebutuhan anggaran. Keputusan kebijakan penganggaran ia serahkan kepada pimpinan pemerintahan dan DPRD.

“Kalau saya dalam posisi sebatas mengusulkan, kebijakan ada di pimpinan dan DPR, jadi kita kan hanya mengusulkan dan menyampaikan bahwa itu adalah kebutuhan masyarakat. Kita berharap semua pihak bisa memberikan dukungan karena memang dibutuhkan,” katanya, Senin (15/10).

Ia pun mengaku akan tetap mengupayakan untuk mendapat bantuan anggaran dari pihak swasta, jika tak diakomodir dalam APBD.

“Kita juga berharap ada pihak-pihak lain yang mau memberikan dukungan, baik perorangan, kelompok, maupun perusahaan. Pernah kan orang menyebutkan keterlibatan swasta. Kalau ada yang bisa menjadi dasar ya kenapa tidak,” ungkapnya.

Diketahui, anggaran yang telah digunakan sejak awal pembangunan stadion tersebut yakni sebesar Rp241 miliar. Dispora Sulsel mengusulkan anggaran APBN tahun 2019 senilai Rp110 miliar untuk tahap finishing dan aksesori stadion. Sementara untuk pengajuan APBD 2019 diusulkan sekitar Rp124 miliar.

“Kalau estimate, sementara karena kita juga baru akan mengecek di tempat lain untuk membandingkan stadion-stadion yang ada di luar tentunya harganya 350ribu, kalau kapasitas sekitar 35ribu penonton, kali meki 350ribu kali 35ribu. Jadi memang membutuhkan selain mengusulkan ke APBD 2019 lagi, kita juga mengusulkan ke Kemenpora,” pungkasnya.

Sementara, Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) Pemprov Sulsel pun juga masih pesimis.

“Yang jelas semua program-program dan proyek sebelumnya itu diawali dengan kejelasan secara administratif, tidak berarti tidak melanjutkan, tetapi kita lihat dulu bagaimana administrasi pertanggungjawaban supaya jelas. Pak Gubernur ini mulai star dari mana, harus jelas dulu titik sampainya sampai di mana dan star di mana, itu jangan sampai terjadi kekeliruan administrasi ini kerja siapa,” kata Jayadi Nas, yang juga sebagai anggota TP2D Pemprov Sulsel.

Kata dia, Pemprov Sulsel dalam hal ini gubernur Nurdin Abdullah pun tak ingin menyentuh proyek tersebut jika belum mendapatkan audit dari BPKP.

Jayadi pun menegaskan jika pihaknya juga baru akan menyentuh proyek seperti Stadion Barombong, jika hasil audit BPKP memberikan batasan kebijakan antar kepala daerah sebelumnya.

“Yang jelas pak gubernur itu semua yang baik itu kita melanjutkan, tetapi dengan catatan bahwa harus ada dulu hasil pemeriksaan, bukan pemeriksaan yang mau dikatakan hasil kita melakukan sinkronisasi dulu apakah ini kedepan di mana. Itu yang paling penting,” paparnya. (*)


div>