JUMAT , 14 DESEMBER 2018

Nekat Jual Sabu Demi Biaya Kuliah, Yasin “Pindah” Kelas ke Penjara

Reporter:

Editor:

dedi

Jumat , 16 Desember 2016 01:11
Nekat Jual Sabu Demi Biaya Kuliah, Yasin “Pindah” Kelas ke Penjara

Ilustrasi

KIJANG, RAKYATSULSEL.COM – Seorang mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi di Tanjungpinang, Kepri, ditangkap Satresnarkoba Polres Bintan, Rabu (14/12).

Pemuda bernama Muhammad Yasir, 26, diciduk di rumahnya, Perumnas Kijang Permai, Batu 23, RT 01/RW 10, Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur (Bintim) sekitar pukul 00.30 WIB.

Pelaku nekat menjual sabu-sabu demi menutupi biaya hidup dan kuliahnya.

“Pelaku tidak berikan perlawanan saat kita tangkap. Jadi kita langsung gelandang dia ke Mapores Bintan,” ujar Kasatresnarkoba Polres Bintan, AKP Darlis Analis kepada Batam Pos hari ini.

Pengungkapan kasus narkoba ini berawal dari keberhasilan Satresnarkoba menangkap pelaku pengguna narkoba BD ,26, di wilayah Kijang.

Kemudian kasus inipun dikembangkan lagi dan dari keterangan pelaku, barang haram yang didapatinya itu dibeli dari salah satu pengedar yaitu Muhammad Yasir.

Mendapati keterangan itu, Kata dia, anggotanya pun langsung melakukan penyelidikan dengan menyamar sebagai pembeli.

Disepakati transaksi sabu itu dilakukan di rumah pelaku, Perumnas Kijang Permai Batu 23. Kesempatan inilah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh anggotanya dan langsung melakukan penggerebekkan.

“Selain menangkap mahasiswa itu kita juga berhasil mengamankan beberapa paket sabu siap edar,” katanya.

Akibat, melakukan perbuatan tindak pidana menjual dan menggunakan narkoba. Kedua pelaku dijerat dengan Undang-Undang (UU) Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika Pasal 114 ayat 1 dan 112 dengan ancaman pidana lima tahun penjara.

“Kasus ini masih terus kita kembangkan guna mencari bandar besarnya. Sementara kedua pelaku masih mendekam di sel tahanan,” ungkapnya.

Sementara, Muhammad Yasir dihadapan penyidik mengaku kalau bisnis haram ini baru ditekuninya selama empat bulan. Itupun terpaksa dijalankannya untuk menutupi biaya hidup dan kuliahnya.

“Barang haram itu berasal dari Malaysia masuk melalui Desa Berakit. Tapi saya membelinya dari rekan yang ada di Tanjungpinang,” katanya. (ary/rayjpnn)


div>