MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Nelayan Sandera Tujuh Anggota Polair

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Rabu , 26 April 2017 14:19
Nelayan Sandera Tujuh Anggota Polair

Grafis (David Prasetyo/Jawa Pos)

RAKYATSULSEL.COM – Nelayan yang tinggal di pesisir Pantai Grajagan, Banyuwangi bergolak Selasa (25/4). Mereka menghadang dan menyandera tujuh anggota Polair Polda Jatim karena menangkap Supriyadi, 50, nelayan pemburu benur asal Dusun Kampung Baru, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi.

Sebagian nelayan sudah emosional. Mereka menghadang mobil polisi yang membawa Supriyadi di pintu masuk lokasi wisata Grajagan. Karena gagal membebaskan Supriyadi, ada nelayan yang menghubungi nelayan lain. Karena itu, dalam hitungan menit ratusan nelayan berkumpul di pintu masuk objek wisata Pantai Grajagan. Mereka menghadang mobil polisi yang membawa Supriyadi.

”Kondisi memanas saat polisi tidak mau membebaskan Supriyadi,” terang Kepala Dusun Kampung Baru, Desa Grajagan, Agus Irawan.

Tujuh polisi yang mengamankan Supriyadi dikepung para nelayan. Petugas keamanan itu tidak boleh keluar dari lokasi wisata. ”Warga mengepung polisi karena tidak terima temannya ditangkap,” katanya.

Dia menjelaskan, sejak dulu banyak nelayan Grajagan yang mencari benur untuk menafkahi keluarga. Para nelayan itu sejak awal juga menolak larangan penangkapan benur seperti yang tertuang dalam Permen KP Nomor 1 Tahun 2015. ”Mencari benur itu penghasilan utama bagi nelayan di sini (Grajagan, Red),” ujarnya.

Para nelayan tersebut, terang dia, tidak hanya menuntut pelepasan Supriyadi. Tapi juga mendesak pencabutan aturan yang melarang penangkapan benur. ”Ini disuarakan sejak dulu. Warga berharap aspirasi ini disampaikan kepada pemerintah,” ucap Irawan, mewakili warga setempat.

Insiden pengepungan dan penyanderaan tujuh polisi dari Polda Jatim itu mendapat perhatian serius dari Kapolres Banyuwangi AKBP Agus Yulianto. Bersama pihak dinas perikanan, Forpimka Purwoharjo, dan Pemerintah Desa Grajagan, dia langsung turun ke lokasi untuk menemui para nelayan.

Agus memediasi para nelayan dengan dinas perikanan dan forpimka di Pelabuhan Grajagan. Selama mediasi itu, lokasi dijaga ketat anggota kepolisian dan TNI-AL. Dalam mediasi tersebut, akhirnya disepakati pelepasan Supriyadi dan tujuh anggota polisi yang sempat disandera. Selain itu, para nelayan meminta penolakan mereka terhadap Permen KP Nomor 1 Tahun 2015 tentang larangan penangkapan bibit lobster disampaikan kepada pemerintah.

Agus menerangkan, penangkapan nelayan yang berlanjut dengan penyanderaan tujuh polisi itu hanya kesalahpahaman. ”Informasi adanya tujuh anggota Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polda Jatim yang disandera warga itu tidak benar. Cuma ada kesalahpahaman antara nelayan dan anggota (polisi),” ujarnya.

Di hadapan warga, dia menyampaikan bahwa selama ini sudah ada larangan yang mengatur pencarian benur. Dengan peraturan itu, polisi memiliki kewajiban untuk menangkap siapa saja yang melanggar hukum.

Untuk kasus di Grajagan tersebut, pihaknya meminta warga sadar hukum dan tidak melakukan kegiatan yang melanggar hukum. ”Masyarakat harus lebih dewasa dan lebih sadar lagi karena mencari benur itu dilarang,” tegas Agus.

Mengenai harapan warga yang terkait dengan Permen KP Nomor 1 Tahun 2015, Kapolres berjanji menyampaikannya ke pemkab dan DPRD Banyuwangi. ”Apa yang menjadi harapan para nelayan Grajagan nanti saya sampaikan kepada bupati dan ketua DPRD Banyuwangi agar bisa dicarikan solusi,” janjinya.


div>