SELASA , 13 NOVEMBER 2018

Netralitas ASN Jadi Prioritas Soni

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Senin , 09 April 2018 11:15
Netralitas ASN Jadi Prioritas Soni

(Dari kiri) Pj Gubernur Sulsel Soni Sumarsono, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo saat di pelantikan Pj Gubenur Sulsel dan Pj Sekertaris Daerah (Sekda) Sulsel, Senin (9/4). Foto: (hms)

* Hari ini dilantik Sebagai Pj Gubernur Sulsel
*Tugas Pertama Benahi Polemik Kota Makassar

 

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Hari ini, Senin (8/4), Soni Sumarsono dilantik sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel. Soni yang juga bertugas di Departemen Dalam Negeri sebagai Direktorat Jenderal Otonomi Daerah, Kementerian Dalam Negeri berkomitmen menjaga netralitas selama proses pilkada serentak yang berlangsung di Sulsel.

Netralitas itu diungkapkan Soni setelah mendapatkan arahan langsung dari Presiden RI, Joko Widodo dan Menteri Dalam Negeri, Cahyo Kumolo. Bahkan Gubernur Sulsel sebelumnya, Syahrul Yasin Limpo juga berpesan yang sama.

“Salah satu program spirit utama saya, yang jelas sebagaimana arahan pimpinan, yakni pak Presiden melalui Mendagri adalah jaga netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN), jadi itu yang paling penting,” Kata Soni kepada Rakyat Sulsel usai menggelar gladi pelantikan Minggu, (8/4).

Menurut Soni, menjaga netralitas merupakan hal penting demi martabat dirinya sebagai pelayan publik. Untuk itu, ia menegaskan dirinya tidak berdiri di pihak manapun atau memiliki kepentingan apapun terhadap salah satu kandidat calon gubernur.

“Saya ini orang tidak memiliki kepentingan apapun dengan ke-empat pasangan calon, buat saya siapa yang menang silahkan, yang jelas ini demi sulawesi selatan. Empat pasangan calon itu semuanya putra terbaik, yang terpilih lah itu yang terbaik,” paparnya.

Kedepan Soni yang tiba di Makassar sejak Jum’at (6/4) malam lalu itu mengaku, selama menjadi penjabat Gubernur berusaha menjaga jarak kepada empat kandidat. “Jadi ini agak lumayan, empat pasangan calon ini saya harus menjaga jarak, ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan harus sama. kalau tidak sama resikonya sangat besar saya kira itu yang paling utama saya jaga, dan jaminan dari saya,” ujarnya.

Menjaga netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) ini, menjadi tantangan para Pj, terkhusus Soni Sumarsono. Namun dirinya tidak diam jika terbukti ada ASN yang terlibat dengan politik praktis, secara tegas ia akan melaporkannya.

“Makanya jika ASN terlibat di dalam netralitas, prosesnya sederhana, lapor ke panwaslu ke bawaslu, kemudian saat di sidang oleh panwaslu dianggap melanggar kemudian dilempar ke KSN, nanti diberikan sanksi sesampainya teguran satu teguran dua dan terakhir pemecatan,” tegas Soni.

Usai dilantik oleh Cahyo Kumolo sebagai Pj Gubernur, selanjutnya Soni juga akan melantik Pj Sekprov, yakni Tautoto Tanah Ranggina.

“Mulai besok siang, di sini sudah lengkap Pj nya, ada gubernur dan sekda. Malamnya baru saya akan berkonsentrasi menyelesaikan persoalan makassar,” lanjut Soni.

Saat ditanya mengenai tugas pertama yang ia lakukan, Soni mengatakan akan membenahi polemik yang terjadi di Kota Makassar. Masih banyaknya kekosongan jabatan yang terjadi di pemerintah kota Makassar membuat Soni bertindak tegas karena menurutnya hal itu berdampak pada terhambatnya pelayanan publik.

“Saya harus benahi Makassar. Terutama mengenai penataan pejabat di makassar. Jangan sampai ada kevakuman terus ketimpangan dan persoalan, bebaskan makassar dari persoalan politik, profesional karena itu kota provinsi. Itu menjadi prioritas saya setelah sekda dilantik beberapa catatan juga masih kosong karena walikotanya ragu-ragu membuat keputusan dan ini mengganggu seluruh pelayanan publik,” paparnya.

Sebelum dilantik, ia pun telah memanggil Plt. Walikota Makassar, Syamsu Rizal untuk segera menyusun program tuntaskan problem di kota Makassar.

“Masih banyak yang belum selesai, sekarang itu perluasan lahan DPA juga belum dilaksanakan, tender pun belum dilakukan. Bisa dibayangkan lambatnya pelayanan publik terjadi di sana,” ulasnya.

Selain itu, lanjut Soni persoalan di Makassar ada tiga dimensi. Pertama persoalan administratif dalam hal ini pengisian jabatan, persoalan politik dan persoalan hukum.

“Mengenai pengisian jabatan itu secepatnya satu minggu pun saya kira tuntas. Kalau persoalan politik saya tidak janji karena persoalan itu sangat kompleks sekali saya tidak mau masuk ke wilayah itu. Sementara rana hukum saya persilahkan kepada mereka untuk menangani saya tidak masuk pada wilayah ini juga,” paparnya.

Selanjutnya, pada Rabu nanti, Soni berencana akan mengumpulkan seluruh ASN untuk memaparkan visi dan misinya.

“Terus terang saja mengawal dan menjaga momentum keberhasilan pak Syahrul ini tidak mudah, karena beliau sudah sangat tinggi, kita tinggal menunggu untuk mengawal seluruh OPD, untuk mengendalikannya secara netral, saya tidak menghendaki jika ada ASN yang tidak netral,” jelasnya.

Syahrul Yasin Limpo (SYL) pun meminta Soni Sumarsono agar mampu menjaga netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) selama pilkada serentak berlangsung.

“Satu yang saya titip, jaga netralitas. Saya percaya bahwa Pj Gubernur ini adalah dia dengan senioritas yang cukup dan tentu saja dalam posisi saya memberikan dukungan apa yang anda butuhkan di Sulsel biar tetap aman lah,” kata Syahrul.

Tidak hanya menjaga netralitas ASN, Syahrul juga berharap agar Soni dalam menjabat selama enam bulan, harus bisa menjadi orang Bugis.

“Saya akan hadapi jika orang yang menjabat di sini tidak paham dengan kearifan budaya Sulawesi Selatan. Atau kau ikut ber kw-kw dengan kepentingan politik? Saya akan hadapi itu. Dia harus bisa jadi orang Bugis,” tegas Syahrul.

Orang Bugis yang dimaksud yakni mampu memahami dan menerapkan kaidah-kaidah yang baik menjadi warga Bugis, yakni sipatuo, sipakainge, sipa’maling-malingi dan sipatokkong.

Soni Sumarsono sendiri mengaku siap menjadi orang Bugis dan mengukuhkan dirinya menjadi orang Bugis sejak berada di Makassar.

“Secara pribadi tahu, saya itu orang jawa. Bukan orang Bugis, bukan orang Makassar. Tapi sebagaimana yang Pak Syahrul sampaikan, siapa yang bisa menjaga harga diri dan martabat orang bugis-makassar. Insya Allah hari ini saya daftar jadi orang Bugis dan orang Makassar,” jelas Soni.

Dengan menjadi orang Bugis, Soni berjanji akan menjaga diri, harkat dan martabat nama baik orang Sulawesi Selatan. “Terutama yang tentunya dihuni oleh orang Bugis, Makassar, Toraja juga Dan Mandar, insya Allah nama itu akan saya jaga dengan sebaik baiknya dan itu amanah,” jelasnya. (*)


div>