SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Ni’matullah, Demokrat dan Sulsel

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 04 April 2017 09:56
Ni’matullah, Demokrat dan Sulsel

int

Kami Siap. Pria jangkung berwajah tampan itu, namanya tiba-tiba mencuat dan menjadi perhatian banyak orang, disaat warga masyarakat Sulsel buntu mencari figur pemimpin yg sesuai selera dan nalarnya.

Dia, politikus enerjik Partai Demokrat, H. Ni’matullah, SE, Ak, namanya membuncah, dilirik dan menjadi perhatian banyak orang. Siapa sesungguhnya H.Ni’matullah yg akrab dipanggil Ullah itu?

Saya mengenalnya sejak menjajakkan kaki, di Kampus Merah, Tamalanrea, Unhas, sejak Tahun 1992. Ni’matullah adalah tokoh Mahasiswa Unhas yg populer. Dia seorang aktifis, gagah dan smart. Tak heran, jika ia menjadi idola mahasiswa — terutama mahasiswa baru — ketika itu.

Seiring waktu dan silih bergantinya siang dan malam, saya bersua kembali dengan mantan senior saya di kampus itu, pada awal Tahun 2000. Bersama Reza Ali dan sejumlah aktifis Unhas, Ullah merintis Partai Demokrat di Sulsel.

Tahun 2004, di Warkop Golagong, Panakkukang, saya ngobrol sambil ngopi bersama Kak Ullah (begitu biasa ia disebut oleh yuniornya di kampus). Ia bicara soal SBY, mantan Menkopolhukum RI di Kabinet Megawati.

Gaya bicara Ullah, tentu sesuai ciri khasnya, cerdas tapi ringan. Sehingga tak bosan kita bicara dengannya. Ullah juga menyebut Partai Demokrat sebagai solusi dalam kancah perpolitikan, yang ketika itu sangat ribet.

“Masuklah ke Partai Demokrat, disini kita nyaman berpolitik. Niat SBY mendirikan PD semata-mata mengejawantahkan sebuah visi dan misi yang mulia untuk bangsa ini,” kata Ni’matullah, ketika itu.

Akhirnya saya tertarik. Saya menghubungi sahabat-sahabat saya yang sudah berada di PD. Supriansa Anca, Ikrar Opu, Hidayat Hafied, Muhammad Aslan Dg Nai dan beberapa lagi sahabat dan aktifis di kampus, mendorong masuk ke PD. Ullah adalah magnit yang banyak menarik aktifis kampus ke PD.

Beberapa hari yang lalu, Ni’matullah dilantik sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel, di RusunNawa, jln Rajawali Makassar. Tak hanya dilantik sebagai Ketua Partai, Ullah juga didapuk menjadi solusi bagi Sulsel.

Fraksi Demokrat DPRD Sulsel, memiliki 11 kursi di Parlemen. Menempati posisi pemenang kedua setelah Golkar di pemilu 2014. Dan Ullah menduduki jabatan Ketua I DPRD Sulsel.

Formasi politik Partai Demokrat sekarang, adalah salah satu kekuatan politik yang diperhitungkan. Tentu, sebagai nakhodah Demokrat Sulsel, Ullah memiliki pesona tersendiri. Jika dibanding dengan Ketua Partai yang ada saat ini di kancah politik Sulsel, hanya Ni’matullah yang memiliki latar belakang sebagai aktifis heroik dan tokoh intelektual.

Hanya Ullah pula yang memiliki latar belakang tokoh kampus. Yang lainnya, hanya pernah kuliah di perguruan tinggi tanpa mendapatkan pengalaman ke aktifisan.

Tadi, saya mendengar histeria warga penghuni Rusunawa. Mulai dari penjual bakso sampai penjual es poteng yang berjejar, meneriakkan yel, “Ni’marullah Gubernur Pilihanku!” Teriakan ini disambut pula oleh ribuan ibu-ibu yang sederhana. “Hidup Ni’matullah!”.

Saya terharu. Ullah adalah politisi yang menjauhi kemewahan. Darah aktifisnya masih kental. Tak silau dengan kemewahan. Beda dengan politikus yang mengandalkan kemewahan dan dekkeng. Ullah meraih sesuatu dengan jerih payahnya tanpa dekkeng (becking) dan tanpa membawa nama-nama pembesar.

Terbukti. Sejarah mencatat. Politikus yg memerkan kemewahan, datang hanya merusak. Ni’matullah tetap dengan gayanya. Ngopi di warkop dan ogah di restoran mewah. Ia lebih senang bergaul dan bersenda gurau dengan sahabatnya yang sederhana ketimbang mereka yang mewah.

Bicaranya tegas dan terukur. Langkah politiknya tegas, beranjak dari bawah tanpa becking dan tanpa menentang nama orang-orang besar.

Itulah Ni’matullah. Mutiara yang terpendam. Di selokan manapun ia terdampar, dia tetap mutiara yang kemilau.

Selamat, semoga Pak Ullah senantiasa dilindungi dan diridhoi Allah SWT. Aamiin. (*)


div>