SELASA , 23 OKTOBER 2018

NOBAR

Reporter:

Editor:

Lukman

Sabtu , 30 September 2017 21:15
NOBAR

Haidar Majid

NOBAR atau nonton bareng, belakangan ini menjadi semacam trend. Dimana-dimana ada nobar. Di hotel, di cafe, di warkop, di lorong, di pos ronda, bahkan di rumah-rumah. Aktivitas nobar paling banyak terlihat di akhir pekan, maklum tayangan televisi di dominasi oleh acara olah raga semisal sepakbola, F1 dan MotorGP.

Beralasan jika nobar jadi pilihan, ketimbang nonton sendiri. Nonton sepakbola di televisi, sendiri, duduk di sofa, beserta aneka cemilan dan tak lupa secangkir kopi, sama sekali jauh dari “asyik”. Kehilangan “ke-seru-an” dan hampa daya pikat. Apalagi jika pertandingan ditayangkan larut malam, meski kesebelasan favorit sekalipun, kantuk lebih banyak menyerang.

Bandingkan jika nonton rame-rame. Atmosfir pertandingan jauh lebih terasa, suasana stadion seolah tertransfer masuk dalam wilayah nobar. Pekik keriuhan terdengar, yel-yel digelorakan, suara dukungan membahana, tak lupa umpatan dan kecemasan, sesekali tak terhindar. Mata akan lebih awas, dan tentu saja, di nobar selalu saja hadir ‘seorang’ pengamat, yang seringkali jauh lebih hebat dari komentator dan pengamat bola itu sendiri.

Sama dengan sepakbola, nonton F1 atau MotorGP, sama sekali tidak menarik bila itu ditonton sendiri. Lintasan sirkuit terasa kurang menegangkan, tribun sirkuit seperti sepi sorak sorai, tikungan seolah datar tak berkelok, susul-menyusul pembalap tak beritme. Jauh beda jika nonton F1 atau MotorGP disaksikan bersama teman, kolega atau keluarga. Pasti seru!

Selain menghadirkan efek “seru”, nobar juga menjadi ajang merajut kebersamaan. Karena kesibukan masing-masing, seringkali tak ada waktu untuk bisa saling bertemu. Pertemuan yang lebih banyak terjadi di dunia maya, bisa terobati lewat momentum nobar. Bertemu, saling menyapa, ngobrol dan ‘ber ha-ha–hi-hi’. Itulah mengapa nobar selalu dinanti, meski larut malam sekalipun.

Selanjutnya, karena banyak mata yang memandang, banyak sudut yang terlihat; nobar bisa membawa penonton melihat hal-hal detail yang biasanya tidak terlihat jika kita menonton sendiri. Hal-hal detail yang terlihat bisa didiskusikan, bisa diperdebatkan bahkan bisa dipertentangkan. Ini yang membuat nobar menjadi lebih hidup, lebih seru.

Sahut menyahut antar penonton membuat gairah menonton semakin bergelora. Ini bukan soal kalah atau menang, juga bukan soal salah atau benar. Ini lebih kepada bagaimana menciptakan dan mempertahankan atmosfir, agar nobar jadi hidup, agar nobar tetap jadi nikmat dan terus-menerus membuat mata tak perlu berkedip.

Nobar sekali lagi sangat asyik dan mengasyikkan, sehingga pilihan nobar akan lebih dominan ketimbang menonton sendiri, terutama jika tayangan itu menarik, terutama jika tayangan itu bisa memberi perspektif dan terutama jika tayangan itu memang penting untuk ditonton. Tak ada alasan untuk tidak nobar, bila itu semua menjadi alasan untuk nobar. So, kita nobar yuk. (*)


Tag
  • Haidar Majid
  •  
    div>