SELASA , 19 JUNI 2018

Nomor Urut Pembawa Hoki

Reporter:

Alief - Al Amin - Fahrullah - Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Rabu , 14 Februari 2018 14:12
Nomor Urut Pembawa Hoki

Dok. RakyatSulsel

– Paslon Adu Kreatifitas untuk Sosialisasi

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kandidat yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak, telah mengantongi nomor urutnya masing-masing. Tak sekedar simbol, nomor urut akan memudahkan para kandidat dalam sosialisasi. Kreatifitas para tim pemenangan turut menjadi penentu.

Direktur Lembaga Survey dan Konsultan Politik, Nurani Strategi, Nurmal Idrus, menilai, nomor urut pasangan calon memegang peranan penting. Dalam konteks pilkada serentak, peran nomor urut dalam membuka jalan menuju kemenangan, tak bisa dinafikan.

“Para konsultan pemenangan harus memutar otak mencari cara agar lebih mudah mensosialisasikan kandidatnya. Tapi, tentu akan lebih sulit merancang strategi kampanye,” kata Nurmal, Selasa (13/2).

Salah satu kesulitan yang akan dihadapi partai pengusung, lanjut Nurmal, jika usungan partai tidak sama di pilgub dan pilkada. Begitupun dengan nomor urutnya. Sebaliknya, keuntungan-keuntungan bisa dengan mudah diperoleh oleh pasangan calon ketika usungan parpol yang sama, baik di provinsi maupun di kabupaten, sama alias linear dengan nomor urutnya.

“Tentu mereka akan dengan mudah melakukan kampanye di daerah karena hanya akan ada satu penyebutan nomor, tanpa susah payah lagi menjelaskan karena adanya perbedaan nomor urut,” ungkapnya.

Dalam kontes pilkada di Sulsel, menurut Nurmal, kondisi paling menguntungkan tampaknya diperoleh oleh pasangan Nurdin Halid – Aziz Qahhar Muzakkar (NH – Aziz).

Dari 12 kabupaten/kota yang menyelenggarakan pilkada, nomor urut yang diperoleh NH-Aziz, setidaknya sama dengan paslon usungan Golkar di delapan daerah. Yaitu Judas Amir – Rahmat di Palopo, Fatmawati Rusdi – Abdul Majid di Sidrap, Andi Fahsar Padjalangi – Ambo Dalle di Bone, Taufan Pawe – Pangerang Rahim di Parepare, Munafri – Rahmatika di Makassar, Andi Seto – Kartini di Sinjai, Muslimin Bando – Asman di Enrekang, serta Abd Latief – Usman di Pinrang.

“Kondisi itu tentu memudahkan bagi pasangan NH-Aziz untuk mengkonsolidasi strategi kampanyenya, terutama dalam menggaet dukungan besar di delapan daerah itu. Hal paling penting adalah linearnya nomor urut itu, sehingga secara psikologi akan sedikit banyak berpengaruh untuk memandu pemilih dengan status swing voters untuk menentukan pilihannya,” jelasnya.

Sementara, NH – Aziz yang mendapatkan nomor urut 1 di Pilgub Sulsel, menyebut hal tersebut sebagai pertanda baik. Apalagi, nomor urut 1 memang menjadi dambaan keduanya. Begitupun dengan seluruh keluarga besar dan tim pemenangannya.

“Ini pertanda baik, satu itu simbol pemimpin juga kekuasaan, serta demokrasi yang baik. Ini memang doa saya dan keluarga bersama Ustadz Aziz. Alhamdulillah terkabul hari ini,” kata NH, usai pencabutan nomor urut di Hotel Sheraton Makassar.

NH mengatakan, pasca pencabutan nomor urut, pihaknya akan mempersiapkan kampanye ke seluruh wilayah yang ada di Sulsel. “Kan kita hanya cari Sulsel satu, sekarang sudah ada. Maka saya mengimbau kepada rakyat Sulsel untuk mencari nomor satu,” ucapnya.

Pasangan Agus Arifin Nu’mang – Tanribali Lamo juga mengaku bersyukur mendapat nomor urut 2. “Ini nomor memang sesuai yang kami harapkan. Kalau bukan satu ya dua,” kata Agus.

Agus menganggap semua nomor bermakna sama. Namun dirinya menghindari nomor tiga atau empat dengan alasan yang menggelitik. “Kalau nomor lain tidak bisa pakai jempol,” ujar Agus seraya tertawa.

Sedangkan, Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman (NA – ASS) juga menganggap nomor urut mereka sebagai angka keberuntungan. Mendapatkan nomor urut 3, sama saat dirinya bertarung di Pilkada Bantaeng pada periode keduanya.

“Ini angka yang pernah saya dapat pada saat pilkada, diperiode kedua di Bantaeng. Saya anggap ini nomor pemberian Allah kepada saya, dan ini merupakan nomor terbaik menurutNya,” ucapnya.

NA menambahkan, ada dua Nurdin yang bertarung di Pilgub Sulsel, yakni dirinya dan Nurdin Halid. Dengan adanya nomor urut, masyarakat bisa membedakan.

Bagi Ichsan Yasin Limpo – Andi Mudzakkar (IYL – Cakka) sendiri, dengan mendapatkan nomor urut 4, merupakan sebuah angka yang memiliki nilai filosofi tersendiri. Angka empat, menurutnya adalah angka yang menarik dengan berbagai alasan serta pemaknaannya tersendiri.

Bahkan, angka empat identik dengan filosofi salam yang dipopulerkan oleh pasangan yang dikenal tegas, komitmen dan merakyat ini yakni salam Punggawa. Salam yang disimbolkan dengan telapak tangan yang saling berpegangan. Dimana, empat jari di setiap tangan yang mengingatkan dan membuatnya menjadi satu. Tangan kanan, disimbolkan sebagai pemikiran positif.

Sementara tangan kiri, merupakan simbol pemikiran negatif. Sehingga, tercipta pemikiran positif di setiap sudut kehidupan. Serta dapat hadir sikap saling menghormati dan menghargai.

“Nomor yang menarik, Appakabaji, Appakalebbi. Seperti filosofi Salam Punggawa,” kata Juru Bicara IYL-Cakka, Henny Handayani.

Menurut Henny, dengan sudah melekatnya nomor urut 4 di pasangan IYL – Cakka, menjadi pertanda bahwa pasangan ini siap meraih kemenangan demi kesejahteraan masyarakat kedepannya. Yang tentunya, dengan menjaga nilai-nilai persaudaraan.

“Kita ingin meraih kemenangan dengan tetap menjaga nilai persaudaraan antara sesama rakyat Sulsel. Menularkan energi kebaikan untuk saling membesarkan,” ujarnya.

Adapun makna filosofi angka 4 bagi IYL – Cakka. Antara lain Appakabaji, memiliki makna memperbaiki atau saling bergotong royong untuk setiap sendi pengabdian. Angka dan istilah ini juga pernah digunakan IYL saat maju di periode keduanya di Pilkada Gowa 2010. Kedua, Appakalebbi atau mappakalebbi merupakan bahasa Bugis yang memiliki makna santun, rendah hati.

Ketiga, angka empat ini juga bisa dimaknai IYL maupun Cakka masing-masing dua periode menjadi bupati. Jika digabung maka jumlahnya empat. Kemudian, baik IYL maupun Cakka masing-masing punya empat anak.

Selanjutnya, Appa Sulapa’. Memiliki makna yang tidak bisa dipisahkan dengan Sulsel. Mengingat, Appa Sulapa’ ini memayungi etnis di Sulsel. Bugis, Makassar, Mandar, Luwu/Toraja. Empat juga merupakan angka tertinggi dari empat pasangan di Pilgub Sulsel. Ditambah lagi, pilgub kali ini diikuti empat pasangan. Bagi sebagian orang, angka empat juga sering dimaknai angka keberuntungan.

Di Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar, pasangan Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi (Appi – Cicu) mendapat nomor urut 1, sedangkan petahana Moh Ramdhan Pomanto – Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi) mengantongi nomor urut 2.

Bagi Appi, nomor urut 1 merupakan angka keberuntungan dan tanda-tanda kemenangan. Pasca pencabutan nomor urut, pihaknya akan mulai memanaskan mesin parpol untuk pemenangan dengan menggunakan angka 1, seperti halnya saat sosialisasi sebelum penetapan.

“Nomor satu itu nomor juara. Ini sudah sesuai dengan harapan,” kata Appi, usai pencabutan nomor urut calon Wali Kota Makassar, di Hotel Clarion.

Ia menambahkan, dirinya bersama Cicu dan seluruh tim akan menjalankan strategi pemenangan untuk bisa memenangkan Pilwalkot Makassar.

Tanda-tanda kemenangan dengan nomor urut yang dikantongi, juga dirasakan petahana Danny Pomanto.

“Semua nomor punya berkah, tapi nomor dua memang sudah melekat dengan DIAmi. Allah telah memberikan nomor dua dan itu kita anggap berkah. Makna nomor dua itu oppoki, periode kedua kalinya, kira-kira seperti itu,” kata Danny. (*)


div>