MINGGU , 21 OKTOBER 2018

NONA BERUA

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 06 Februari 2016 12:00
NONA BERUA

Haidar Majid

Saya sendiri kurang faham, mengapa warga di kampung saya, Maccini, memanggilnya “Nona Berua”; sebagaimana ketidakfahaman saya, sejak kapan nama itu mulai diproklamirkan. Satu hal yang bisa saya pastikan, bahwa nama “Nona Berua”, telah ada sebelum saya lahir.

Di masa saya masih kecil, setiap kali Ibu atau Ayah saya butuh sesuatu untuk keperluan sehari-hari, rata-rata belanjanya di ‘toko’ Nona Berua. Sayalah yang ‘diutus’ ke toko itu. Maklum, diantara bersaudara, sayalah yang tertua; “pigi ki dulu di Nona Berua, nak, beli sabun”. Itu salah satu contoh kalimat dari ibu saya.

Toko Nona Berua, sangat lengkap di jamannya. Semua kebutuhan sehari-hari terpajang di ‘etalasenya’. Sabun mandi, sabun cuci, odol, minyak rambut, minyak kelapa, minyak tanah, handuk, pakaian bayi, biskuit, permen, dan sebagainya. Saya bisa memahami kenapa warga se kampung rata-rata belanja di toko ini, tak lain karena jumlah ‘toko’ yang ada, tidaklah sebanyak sekarang, bisa dihitung jari.

Tapi bukan itu pokok alasannya, mengapa Nona Berua jadi primadona tempat belanja. Nona Berua terbilang sangat rajin ‘bersosialisasi’ dengan warga kampung. Setiap hajatan, apakah itu pernikahan atau sunnatan, selalu saja dihadirinya. Kita bisa melihat sedikit pemandangan ‘kontras’ dari sekian tamu yang hadir, bila Nona Berua juga hadir. Cara Nona Berua berpakaian biasa-biasa saja, tidak bergaun apalagi berkebaya.

Begitu pula bila ada penduduk kampung yang sakit, apakah itu di rawat inap di rumah sakit atau terbaring di rumah saja, Nona Berua pasti membesuk dan membawa ‘buah tangan’ dari tokonya; biskuit dan semacamnya. Terlebih bila ada penduduk kampung yang meninggal dunia, Nona Berua tak pernah alpa untuk melayat. Itulah yang membuat Nona Berua begitu dekat dengan warga kampung. Nona Berua tidak lagi di cap sebagai ‘orang lain’. Nona Berua telah melebur menjadi bagian dari warga.

Ada dua peristiwa yang sangat lekat di memori saya, bagaimana warga kampung menunjukkan kedekatannya dengan Nona Berua. Pertama, ketika terjadi pengganyangan etnis Tionghoa beberapa tahun lalu di Makassar dan kedua, ketika ada orang yang entah darimana asalnya, hendak mencuri barang dagangan Nona Berua.

Sebagaimana diketahui, bahwa saat pengganyangan etnis Tionghoa beberapa tahun lalu, Kota Makassar begitu mencekam. Toko-toko dan pusat perdagangan tutup, jalan-jalan begitu lengang. Berbeda dengan toko milik Nona Berua, meski letaknya di poros jalan Maccini Raya, tetapi tokonya tetap buka, meski pintunya tidak terbuka lebar seperti biasa. Apa sebab? Warga kampung melindungi toko Nona Berua dan menghalau hadirnya kelompok orang yang ingin mencoba menganggu toko itu. Begitu juga ketika ada seseorang yang entah darimana asalnya, datang dan ingin mencuri barang dagangan Nona Berua, warga kampung kompak mengejar si pencuri. Nona Berua tak perlu repot meminta tolong kepada warga, karena warga selalu dengan senang hati akan menolongnya.

Apa yang dilakukan oleh Nona Berua mungkin itu yang disebut dengan “berbaur”, upaya menghilangkan sekat “etnis – non etnis” dan mengeliminir kesan eksklusif. Di mata warga, Nona Berua bukan “orang lain”, bukan seorang “pendatang”. Nona Berua adalah bagian dari warga Maccini, bagian dari hidup yang cinta kebersamaan.

Saya selalu menaruh hormat kepada Nona Berua, sebagaimana Ibu dan Ayah saya juga hormat kepada beliau. Di waktu-waktu senggang, tidak jarang Nona Berua datang berkunjung ke rumah saya, hanya sekadar bercengkrama dengan Ibu saya, membicarakan urusan ibu-ibu. Sesekali saya mendengar kata-kata dari Nona Berua ke Ibu saya, ” oe, oe”, maksudnya “iye, iye” atau “iya, iya”.

Usia Nona Berua sekarang ini mungkin sekitar 60 – 70 tahun. Agak lama saya tidak bertemu dengan beliau, tetapi semangat kebersamaan dan pembauran yang beliau lakukan selama ini tentu bisa menjadi inspirasi dalam menata kehidupan kemasyarakatan kita, “tak ada kata diskrimasi, eksklusif atau pembeda karena kita semua sama dan bernama manusia”. (*)


Tag
div>