RABU , 17 OKTOBER 2018

Nurani Merdeka

Reporter:

Editor:

Lukman

Selasa , 24 Juli 2018 14:40
Nurani Merdeka

Darussalam Syamsuddin

BETAPA banyak darah yang tertumpah karena lidah; tidak terhitung manusia yang binasa karena lidahnya; tidak sedikit kenikmatan yang hilang karena ucapan. Karena itu simpanlah perbendaharaan lidahmu sebagaimana engkau menyimpan perbendaharaan uang dan emasmu.
Lidah adalah ukuran kemanusiaan karena lisan adalah penerjemah hati. Ucapan Ali Karramallahu
wajhah yang lain berkaitan dengan hal ini adalah: “Kecelakaan manusia karena lidahnya dan keselamatan manusia terletak dalam pengendalian lidahnya”.

Dalam konteks kekinian, termasuk hal yang harus dijaga adalah tulisan dan tindakan. Karena jasa teknologi ruang lingkup ucapan tidak hanya dalam bertutur, namun tulisan dan tindakan mengalahkan daya jangkau dari pada ucapan dengan lisan. Pada masyarakat kita budaya bertutur dan budaya dengar masih dominan bila dibandingkan dengan budaya baca.

Akibatnya, seringkali informasi menyebar tanpa didasari oleh fakta yang benar. Salah seorang pemikir Islam Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pembicaraan itu ada empat macam. Pertama, pembicaraan yang hanya mengandung bahaya dan tidak membawa manfaat. Kedua, pembicaraan yang mengandung manfaat dan tidak mengandung bahaya. Ketiga, pembicaraan yang tidak mengandung bahaya dan tidak mengandung manfaat. Keempat, pembicaraan yang selain mengandung manfaat juga mengandung bahaya.

Pembicaraan yang mengandung bahaya dan tidak membawa manfaat jelas harus dihindari. Demikian pula pembicaraan yang tidak ada manfaatnya dan tidak mengandung bahaya, hal termasuk pembicaraan yang berlebihan. Sedangkan jenis pembicaraan yang selain mengandung manfaat juga ada bahayanya, maka yang demikian ini juga harus dihindari.

Karena dalam kajian Ushul Fiqhi memberi petunjuk bahwa apabila dalam satu unsur terdapat manfaat dan bahaya bersamaan, maka unsur itu harus ditinggalkan. Misalnya Alquran menyatakan tentang judi dan minuman keras bahwa: “Katakan dalam ke duanya (Khamr dan judi) terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari pada manfaatnya”. (QS. Al-Baqarah/2 : 219).

Imam Al-Ghazali hanya membolehkan satu jenis pembicaraan saja yakni pembicaraan yang mengandung manfaat dan tidak membawa bahaya. Hal ini sesuai dengan pesan Rasulullah bahwa, “manusia yang paling baik adalah manusia yang memberikan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan omongannya”.

Ketika mulut seseorang terlalu banyak bicara, ia tidak akan dapat mendengar suara hati nuraninya. Karena suara hatinya tersumbat oleh suara yang keluar dari mulutnya sendiri. Sebaliknya jika kita menutup mulut untuk tidak banyak bicara, berarti kita memberi kesempatan kepada hati untuk bicara lebih banyak. Karena pada dasarnya kita memiliki hati yang selalu mengajak kita berbicara, maka dengarkanlah suara nuranimu.

Imanuel Kant mengatakan, kita seringkali kagum pada bintang di atas langit, kita kagum pada bintang di lapangan, kita kagum pada bintang yang ada di panggung, namun kita tidak pernah kagum pada bintang yang ada di hati kita masing-masing itulah nurani. Ketika kita akan melakukan sesuatu yang menzalimi orang lain, atau kita akan mengambil sesuatu yang bukan hak kita maka yang pertama kali menjerit adalah nurani kita agar tidak melakukan perbuatan yang menzalimi orang lain atau mengambil yang bukan hak kita, tapi suara nurani itu tidak terdengar lagi tertutupi oleh kepentingan dan desakan kebutuhan hidup.

Seorang Arab pedalaman mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku satu amal yang bisa memasukkan aku ke surga. Nabi berkata, “berikan makanan kepada orang yang lapar, berikan minuman kepada orang yang dahaga, perintahkan kebaikan dan larang keburukan, kalau engkau tidak mampu melakukannya maka tahan lidahmu kecuali untuk yang baik saja”. Belajarlah untuk bisa mendengar suara nurani anda dengan tidak membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, karena kita rindu nurani yang merdeka. (**)


div>