KAMIS , 18 OKTOBER 2018

Nurdin Halid Kembali Diuji

Reporter:

Editor:

Lukman

Senin , 30 Juli 2018 12:30
Nurdin Halid Kembali Diuji

Nurdin Halid (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Setelah gagal di Pemilihan Gubernur (Pilgub) dan membuat sejumlah kader potensial hengkang. Kini kepemimpinan Nurdin Halid (NH) di DPD I Golkar Sulsel kembali akan diuji di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.

NH yang mengambil “paksa” kepemimpinan DPD Gokar Sulsel harus membuktikan bahwa kepemimpinannya membawa perubahan yang lebih baik di Sulsel. Salah satunya dengan perolehan suara di Pileg 2019.

Olehnya, jika NH salah menempatkan kadernya di daftar calon legislatif, maka bisa saja Golkar akan tersungkur.

Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Abdillah Natsir mengatakan, pihaknya dalam menyusun komposisi untuk caleg menempatkan sesuai basis dan keterpilihan kader.
“Di Golkar banyak kader potensi, olehnya itu kami mendahulukan proses regenerasi agar kader-kader lainnya dapat ikut bertarung pada Pileg 2019 mendatang,” ujanya, Minggu (29/7).

Terkait kader yang meninggalkan partai, kata dia, pihaknya telah mempersiapkan langkah untuk mengisi kekosongan kursi di parlemen, termasuk menempatkan kadernya peraih suara terbanyak selanjutnya pada Pileg 2014 lalu.

Dikatakan, adanya kader yang berpindah partai tidak dapat dihalangi. Mengingat hal tersebut merupakan hak poitik mereka untuk memilih di partai mana mereka berlabu.

“Kita sudah mempersiapkan langkah untuk mengganti mereka-mereka yang telah berpindah partai, dan saat ini fraksi perpanjangan tangan partai di DPRD telah mengusulkan PAW,” katanya.

Abdillah yakin jika hijrahnya kader ke partai lain bukan kerugian yang dialami Golkar. Golkar tidak merasa kekurangan kader, meskipun ada beberapa legislatornya berpindah. “Masih banyak kader Partai Golkar yang lain,” jelasnya.

Sekretaris DPD II Golkar Makassar, Abdul Wahab Tahir yang dikonfirmasi mengatakan, dibawah komando NH, Golkar Makassar akan bekerja dengan maksimal untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Apalagi kemenangan ada ditangan rakyat sehingga ia yakin Golkar ada bersama rakyat.

“Yang jelas perintah bapak (NH) kami harus kerja maksimal mendekati rakyat. Karena kalau Pileg inikan daulat rakyat jadi seluruh kader harus bekerja maksimal mendekati rakyat. Paling tidak mampu mencuri perhatian rakyat dan membangun kepercayaan rakyat,” kata Wahab.

Wahab menjelaskan, NH menaruh perhatian besar bagi seluruh kadernya untuk dapat lebih maksimal dalam kerja-kerja elektoral. Hal itu kata Wahab, menjadi motivasi bagi seluruh kader Golkar untuk memenangkan partai berlambang pohon beringin ini.

“Kita diperintahkan untuk maksimal bergerak melihat persentase jumlah perolehan kursi. Kan orang bicara elektoral, jadi semua aktifitas kita itu bermuara pada elektoral. Dorongan kita seperti itu,” terangnya.

Sehingga, lanjut Wahab, dengan dorongan dan motivasi dari NH, Golkar Makassar akan kembali menduduki kursi Ketua DPRD Makassar. Hal tersebut sangat ia yakini dikarenakan kerja-kerja dari kader Golkar Makassar yang sangat baik.

“Insya Allah kami tetap optimis, dengan asumsi awal bahwa semua kader bekerja maksimal dan kerja-kerja politik kita punya efek elektoral. Kursi Ketua DPRD itu wajib hukumnya lah,” tandas Wahab.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Andi Luhur Prianto mengatakan, Partai Golkar bukanlah partai yang mudah dikalahkan. Partai ini mampu menghadapi gejolak di internal partainya meskipun diterpa berbagai persoalan.

“Sebenarnya Partai Golkar sudah berpengalaman menghadapi dinamika internal di setiap momentum politik, termasuk Pileg. Migrasi kader ke partai lain sesuatu hal yang biasa bagi Golkar. Pasca kekalahan Amin Syam di Pilgub 2008, kekuatan Golkar di Pileg 2009 tetap berjaya,” kata Luhur.

Meskipun begitu, NH sebagai pemegang kendali Golkar di Sulsel tentu akan diuji pada Pileg 2019 mendatang. Apalagi dengan adanya gejolak kader yang membelot bisa membuat Golkar kendor di Sulsel.

“Hanya saja menghadapi Pileg 2019 ini berbeda, kepemimpinan NH di Golkar menghadapi tantangan. Terutama karena sikap kepala-kepala daerah yang tidak begitu solid mendukung calon legislatif dari Golkar. Beberapa kepala daerah yang juga ketua DPD 2 Golkar, masih mendorong kerabatnya maju di partai lain,” jelasnya.

Bahkan, kata Luhur, penentuan daftar calon anggota legislatif di Golkar juga tidak lagi berdasar pada kriteria Prestasi, Dedikasi, Loyalitas dan Tidak tercela (PDLT). Bahkan cenderung membawa aroma kekecewaan di kontestasi Pilgub 2018.

“Momentum Pileg 2019 ini menjadi pertaruhan kepemimpinan bagi NH di Golkar. Kalau salah melangkah, maka partai lain seperti NasDem dan Demokrat bisa menutup cerita kebesaran Golkar di Sulawesi Selatan,” tandasnya. (isk-yad)


div>