SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Oase dari Ruang Sepi

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 29 April 2016 11:25
Oase dari Ruang Sepi

Armin Mustamin Toputiri

BERPULANG ke kampung — di tanah kelahiran — bagi saya memang menjadi suatu kebutuhan yang mutlak. Selain menyemai diri untuk kembali ke habibat yang sebenar-benarnya orang kampung, selebihnya juga karena memang di beberapa tahun terakhir, melalui proses pemilihan yang ketat, saya dipilih rakyat di tanah kelahiran, membawa aspirasi rakyat di jenjang provinsi. Makanya, berpulang ke kampung, bagi saya mewujud sebagai kewajiban.

Hukum kausaliteitnya sudah seperti itu. Sehingga apapun wujud kehadiran saya di kampung, selalu berkosekuensi di dua bingkai tanggungjawab itu. Tapi, kekembalian saya di kampung, seringkali menggelisah pada diri saya sendiri. Tak lain, karena kehadiran saya selalu dicermat secara membias. Hanya pada satu sisi saja, sebagai orang yang dipilih mayoritas rakyat, guna mengemban amanah. Sementara hakikat saya dalam habitat orang kampung, selalu diabai.

Berada di arena politik praktis, secara linier memang berkonsekuensi pada penilaian politis. Dan sebagai orang yang berlelah cukup panjang, memilih jalur hidup sebagai pekerja politik, menyadarinya sebagai konsekuensi. Namun, sejujurnya sebagai manusia biasa, saya merasa kikuk sendiri, pada ukuran yang bias itu. Musababnya, karena saya tak dilihat dalam konteks keeksistensian diri saya yang kekal. Padahal amanah pekerja politik, status yang berbatas.

Dan ketika beberapa hari terakhir saya berada di kampung, terlebih kala perhelatan pilkada sudah mendekat, dimana nyanyian politik mulai mendesis, tak ayal, saat saya berada di warung kopi saja, misalnya, kehadiran saya diintai. Ditakar secara multiinterpretasi. Akibatnya, dudukan pantat saya di kursi warung kopi, tak lagi nyaman. Serasa ada bisul mau meledak di sana. Kopi hangat yang diseruput, serasa dingin. Manisnya hidangan kopi serasa lebih pekat.

Beruntunglah, malam kemarin saat berada di warung kopi, saya ditemani sekian anak muda yang belakang hari, memilih berada di ruang berbeda. Ruang sepi. Ruang literasi yang oleh anak-anak muda seusia mereka tak meminati. Mereka memilih menumpahkan ide, gagasan, bahkan hayalan mereka secara tertulis. Jauh berbeda dari anak-anak muda kebanyakan, lebih memilih berada di ruang yang riuh. Mengandalkan oral untuk berorasi.

Berbincang dengan anak-anak muda, yang mengedepankan isi kepala, dan bukan pada kekuatan isi kepalan tangan itu, benar-benar mewujud sebagai oase. Jelmaan yang sudah sekian lama saya rindukan. Oase yang diharap berkecambah sebagai harmoni dalam dialektika, oral dan otak. Menujum kegelisahan saya untuk membedah tafsir-tafsir yang bias. Menjelmakan tesa, antitesa, sebagai tesis. Menafsir yang mana jati diri, dan mana status. Mana gincu, mana orisinalitas.

[NEXT-RASUL]

Semoga mereka betah berada di ruang sepi itu. Di lini ilmu surat itu, bukan di lini ilmu silat. Sebab Ilmu surat, tak mengenal pengalah atau pemenang, dimana justru menjadi norma para pesilat. Ilmu surat tak punya guru-murid, sebaliknya Ilmu silat memutlakkan guru-murid. Dan tulisan anak-anak muda penggiat literasi di lini ilmu surat itu, adalah tanda baca. Catatan-catatan mewaris yang kelak jadi pengingat untuk tak lagi bias. Seperti catatan moyang mereka sebagai orang Luwu. Kitab, sure’ galigo. (*)


Tag
  • armin vox
  •  
    div>